Dedaunan di hutan sepanjang bukit mengering, berjatuhan ke tanah, membuat bunyi gemerisik khas setiap kali seseorang berjalan di atasnya. Musim panas telah berganti menjadi musim gugur.
Bunyi lonceng menggema seluas kompleks Kuil Hakuunzan Jomyo-gu. Pagi yang tenang—terlalu tenang semenjak gempa malam itu—diisi oleh orang-orang dewasa dari desa. Sesekali obrolan dan canda tawa mereka yang telah selesai oleh rangkaian penghormatan dan doa kepada Hakuyoshi-no-Kami, sekarang berubah menjadi gestur memegang pundak atau lengan atas satu sama lain sambil tersenyum. Saling menguatkan.
Di hari lain, mereka mengenakan jaket tebal. Air chozuya suhunya turun menusuk kulit setiap kali membasuh sebelum memasuki kompleks kuil. Terkadang, kannushi hanya ditemani oleh para miko dan lebih sedikit orang dewasa ketika salju sedang turun di pagi hari. Musim telah berganti menjadi dingin.
Sesekali, beberapa dari mereka akan memeriksa dari sisi haiden. Terkadang Kannushi, miko, atau beberapa orang dewasa lain. Namun, mereka selalu berbalik dengan ekspresi serupa. Kecewa. Dimulai oleh Kannushi atas permintaan dari Nenek Emi, kemudian diikuti oleh setiap orang yang berkunjung ke kuil; di akhir sesi memberi penghormatan dan berdoa, mereka akan berdiri di samping haiden menghadap ke honden sambil membungkuk sebentar, meski pun Hakuyoshi-no-Kami tidak pernah menampakkan wujud lagi.
Bulan berlalu, sekarang pohon di sudut halaman depan kompleks Kuil Hakuunzan Jomyo-gu telah berbunga. Merah muda. Cantik ditemani oleh burung-burung kecil bertengger di ranting-ranting. Dikagumi oleh semua orang yang datang berkunjung. Bunga sakura. Kini, musim berganti kembali menjadi semi.
Bunyi-bunyi lonceng terdengar berganti-gantian oleh setiap orang yang sedang memberikan penghormatan. Disusul oleh doa-doa mereka. Dan setelah mengucap permintaan dan harapan masing-masing, setiap dari mereka akan selalu mengatakan hal yang sama: terima kasih banyak telah menolong kami dari gempa tengah malam di musim panas lalu. Kami mohon, kembalilah, Hakuyoshi-no-Kami-sama, agar kami dapat memberikan penghormatan selayaknya.
Entah sudah berapa lama, sejak terakhir kali Hakuyoshi-no-Kami menampakkan wujud di sekitar honden. Saat ini, air chozuya terasa begitu segar. Fajar belum-belum sudah terasa hangat. Siang sedikit, terik akan menyengat kulit. Satu bunga matahari di sisi halaman samping kuil, berayun tiap kali angin berhembus.
Musim panas berikutnya telah datang.
Hakuyoshi-no-Kami masihlah belum pernah terlihat lagi.
Deru ranting-ranting dan dedaunan bergesekan dan gerakan berayunnya akibat hembusan angin sepanjang bukit terasa lebih menusuk telinga dan asing di mata daripada seingat setiap orang. Pohon-pohon seakan-akan selalu saja menunduk. Terasa seperti sebuah simbol bahwa Kami sedang bersedih.
Kuil Hakuunzan Jomyo-gu dirawat dan dibersihkan setiap hari. Orang-orang dewasa dari desa masihlah tetap datang pagi-pagi untuk memberikan penghormatan dan berdoa. Namun, tempat itu berangsur makin redup. Burung-burung kecil di sekitar makin sedikit. Beberapa pohon tinggi terasa tumbuh lebih cepat, lebih mendominasi puncak bukit, menenggelamkan kompleks kuil. Seakan-akan tinggal menunggu waktu hingga akhirnya benar-benar mati.
Sore itu, awan memenuhi langit. Alih-alih jingga, cahaya menjadi kemerahan. Mendung-mendung seluas langit terlihat keunguan di dekat matahari, lalu berangsur abu-abu di bagian lebih jauh. Beberapa burung gagak memekik, lalu beterbarangan menjauh.
Saat malam tiba, akhirnya hujan turun juga. Tidak ada petir. Tidak ada angin. Namun, begitu deras. Deru setiap titik air jatuh mengenai atap honden, bersahut-sahutan tanpa celah. Memenuhi telinga seperti sebuah pelukan tertahan. Mendekap dengan rintihan-rintihan penyesalan, ribuan kata andai, dan permintaan maaf yang tak pernah didengar.
Hakuyo ada di sana. Rambut panjang dan ketujuh ekor putih salju terlihat layu. Bukan sebagai Kami yang dikenal penduduk desa dengan dingin, galak, dan menghindari manusia, melainkan roh kitsune yang begitu ingin bersembunyi jauh-jauh di tempat sempit dan gelap, dari segala hal.