Obrolan-obrolan dan sekali canda tawa orang dewasa terasa hangat di antara deretan yatai, kios-kios dalam festival. Lansia saling memuji dan mendoakan kesehatan masing-masing, di tempat khusus mereka yang sangat nyaman bersebelahan dengan kios Bibi Nana—tahun ini menjual olahan ubi rebus.
“Hakuyoshi-no-Kami-sama.” Kannushi tersenyum lebar sambil membungkuk, lalu bangkit lagi. Kali ini, saat menatap sepasang mata emas pucat itu, dia tak lagi ketakutan, melainkan dadanya berdegup kencang. Bibirnya ditahan agar tidak terangkat terlalu tinggi seperti remaja kasmaran. Mau bagaimana tidak, saat ini yang ada di pikirannya: inilah Kami yang selama ini dia abdi dengan sepenuh hati, jiwa, raga, dan seluruh kehidupannya.
“Hakuyoshi-no-Kami-sama, selamat datang.” Dua miko meninggalkan kios masing-masing—kebetulan tak jauh—untuk ikut membungkuk. Mata mereka tak meninggalkan. Satu tahun lalu terakhir mereka melihatnya menampakkan wujud, itu pun dari kejauhan. Saat ini, Kami berada tepat di hadapan mereka.
“Kalian menyiapkan berlebihan.” Pilihan kata-kata pria itu agaknya tak pernah berubah. Namun, kali ini dia mengatakannya dengan sebuah senyuman lembut dan tatapan hangat.
“Sama sekali tidak, Kitsune-sama!” Ayahnya Ren muncul dari sisi belakang Kannushi. Tak lupa membungkuk. “Atas segala perlindungan Anda kepada bukit dan desa, kami tak akan pernah bisa membalasnya dengan sepadan!”
“Ah, Hakuyo no Kitsune sama….” Nenek tersenyum dari tempat duduknya di bagian khusus lansia, hanya mampu menunduk sedikit alih-alih membungkuk dalam seperti para orang muda. Nenek baru hendak beranjak saat Hakuyo lebih dulu menghampiri sambil memberi kode agar tidak perlu.
“Tolong jangan memaksakan diri selama festival, kesehatan kalian lebih utama.” Hakuyo masih tersenyum, memandang satu persatu para nenek dan kakek di sana, menyadari mereka berhenti sejenak dari menikmati olahan ubi rebus. “Mari, aku yakin hidangan dari Nyonya Nana istimewa disiapkan untuk kalian.”
“Terima kasih banyak, Hakuyo-sama.” Wanita muda di belakang kiosnya membungkuk beberapa kali, senyuman tersanjung seperti tak kunjung mau meninggalkan wajah.
Para lansia perlahan membalas senyuman, sama-sama mengangguk kepadanya. “Hakuyo-sama…,” kata sebagian, lirih dan lembut. Sederhana, tetapi cukup untuk mampu dipahami oleh Kami bahwa mereka menyampaikan syukur kepadanya.
Baru sebentar ketenangan hadir berkat interaksi lansia yang perlu cenderung lebih pelan, sebuah seruan memecah dari belakang. Cempreng, ceria, lantang, “Kitsune-sama!” Disusul oleh suara lari sepasang kaki kecil. Ren berhenti sesaat setelah sampai di hadapan pria itu. Matanya langsung tertuju ke sisi belakang. “Apakah boleh memegang ekor?”
Hakuyo sekali tersenyum. “Tentu.”
“Sebentar saja? Atau boleh lama?” kata Ren sambil bergeser ke samping untuk menyentuh lembut salah satu ekor seputih salju.
Hakuyo tertawa tipis. Kebesaran sosok Kami masihlah menguar, tetapi sesuatu yang hangat khas seseorang ramah, lembut, dan rendah hati terasa jelas. “Selama yang kau inginkan, asal aku punya waktu.”
“Hore!” Ren menyeru.
Dari arah lain, manusia mungil lain mendekat. Sama-sama berlari, tetapi langkahnya lebih pelan. Wajahnya berseri, malu-malu untuk menunjukkan seluruh kegembiraannya. Putri satu-satunya dari Kannushi, Ai. “Hakuyoshi-no-Kami-sama sungguh menepati janjinya. Aku merindukan Anda.”
“Aku juga!” seru Ren—langsung ditegur oleh Ayahnya yang buru-buru menyusul agar tidak berisik di dekat para nenek dan kakek. “Aiko, Aiko, kemarilah. Bukankah kau juga sangat menyukai ekor Kitsune-sama?” Suaranya ditahan agar lebih lirih, tetapi tetaplah terdengar begitu bersemangat. Dia kemudian mendongak untuk menatap si pria. “Ai boleh juga menyentuhnya juga kan, Kitsune-sama?”
“Tentu, semua anak-anak boleh menyentuhnya.” Sebelah tangan Hakuyo meraih Ai untuk mendekat. “Kemarilah, Aiko.”
Makin berbinar dengan semu merah muda di pipi, gadis mungil itu bergeser lebih dekat untuk meraih salah satu ekor. Jemarinya jauh lebih lembut daripada Ren dalam memegang bulu-bulu halus seputih salju itu.
Ayahnya Ren sampai-sampai tertawa gemas. “Ayolah, Nak. Mau sampai kapan menempel ke Kitsune-sama? Tidakkah mau berkeliling setiap yatai dahulu? Bergegas atau kau akan menangis karena tak kebagian camilan!”
“Aiko,” panggil ayahnya. “Mari berkeliling dahulu. Ayah akan menemani, bersama ayahnya Ren. Nenek Emi juga menitipkan Haruka kepada kita—entah di mana anak itu sekarang, mungkin sedang bersama Hiroshi.”
Alih-alih, Ai menempel makin lekat kepada ekor Hakuyo. Sementara Ren langsung cemberut dan mengomel, “Aku masih ingin bersama Kitsune-sama! Selalu sangat menyenangkan bersama Kitsune-sama!”
“Ren!” Ayahnya menggeleng kepala.
Kannushi menghela napas tipis. “Aiko….”