GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Jejak Merah di Lembah Lumut

# Jejak Merah di Lembah Lumut

Pertemuan takdir di ambang maut sang raja rimba

─━─━─「✦」─━─━─

## Kutipan Narasi Puitis & Sastra

> "Di bawah remang dedaunan kanopi setinggi empat puluh meter, napas harimau itu berhembus berat bagai dengus bumi yang sekarat. Belang-belang hitam di kulit keemasannya kotor oleh lumpur merah dan karat kawat. Arkan menahan napas; ia melihat maut dan keagungan bersujud pada seutas kawat baja ciptaan manusia."

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian 01: Embun Fajar di Lembah yang Terlupakan

*Rintik gerimis sisa badai semalam di bawah kanopi empat puluh meter*

─── 🐅 ───

Fajar belum sepenuhnya mampu menembus atap Lembah Lumut Basah ketika Arkan merapatkan lilitan kain tenun penutup lehernya. Pukul setengah tujuh pagi di pedalaman Bukit Barisan bukan berarti terang benderang yang benderang; di sini, di bawah atap tajuk pepohonan meranti purba dan damar setinggi empat puluh meter, siang dan malam kerap kali kehilangan batas yang tegas. Yang ada hanyalah gradasi kelabu—kabut tebal yang melayang lambat seperti napas hantu raksasa, terperangkap di antara sulur-sulur liana yang bergelantungan bagai jerat raksasa dari langit rimba.

Hujan lebat yang mengguyur sejak petang kemarin telah meninggalkan lembah ini dalam keadaan jenuh air. Setiap jengkal batu kali, akar pepohonan yang menyembul berlekuk-lekuk, hingga permukaan tebing cadas terselubung oleh hamparan lumut tebal menyerupai permadani beludru hijau zamrud yang basah kuyup. Bagi orang luar yang tak berpengalaman, lembah ini tampak bagai lukisan surga yang tenang dan abadi. Namun bagi Arkan, seorang peramu obat muda dari Desa Talang Sunyi, setiap lekuk permukaan yang terlampau hijau ini menyimpan perangkap mematikan. Sekali telapak kaki salah bertumpu pada bebatuan basah yang licin bagai diolesi minyak damar, jurang berbatu tajam di dasar kelokan sungai siap menelan tubuh tanpa ampun.

Arkan menghela napas panjang dan pelan, membiarkan uap hangat keluar dari mulutnya dan melebur ke dalam udara dingin lembah yang menusuk sumsum tulang. Di punggungnya, sebuah keranjang anyaman rotan—ambung—berguncang perlahan mengikuti irama langkahnya yang hati-hati. Misinya hari ini teramat genting. Tiga orang tetua desa dan lima anak-anak di Talang Sunyi tengah terbaring menggigil akibat wabah demam hitam yang menggerogoti daya hidup mereka sejak seminggu lalu. Satu-satunya penawar yang diajarkan mendiang kakeknya adalah seduhan jamur lingzhi merah darah liar—*Ganoderma lucidum*—yang hanya tumbuh di batang-batang pohon meranti tumbang yang membusuk di sudut terdalam lembah berkelembapan tinggi ini.

Namun, rimba selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji niat manusia. Arkan baru saja hendak menuruni patahan batu cadas setinggi dua meter ketika telinganya yang terlatih menangkap keanehan. Rimba yang biasanya riuh oleh kicauan burung murai batu, jeritan siamang penyambut pagi, dan dengung ribuan serangga air, mendadak tenggelam dalam keheningan yang janggal. Ketiadaan suara di pedalaman hutan primer bukan pertanda damai, melainkan isyarat bahaya tertinggi: para penghuni rimba tengah menahan napas karena keberadaan sesuatu yang mengerikan.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian 02: Aroma Anyir di Karpet Beludru Hijau

*Tetesan merah yang mengotori kesucian lumut zamrud*

─── 🐅 ───

Arkan berjongkok rendah di balik rumpun pakis gajah setinggi dada. Jari-jemarinya yang kasar menyentuh permukaan batuan berlumut di dekat tumitnya. Di sana, di atas hamparan lumut beludru yang hijau murni, tampak kontras yang mengerikan: bercak-bercak cairan kental berwarna merah marun pekat. Cairan itu masih hangat; belum mengering atau tersapu tetesan gerimis yang jatuh dari pucuk daun paku.

Ia mendekatkan ujung telunjuknya ke dekat bercak tersebut, mengusapnya sedikit lalu menghirup aromanya dari jarak beberapa jengkal. Bau anyir besi yang tajam menyengat hidungnya. Namun ada sesuatu yang lain di balik bau darah itu—aroma tanah basah yang terbakar oleh gesekan hebat, dan bau apak karat logam yang sangat ia kenal sekaligus ia benci. Karat kawat seling baja.

“Pemburu haram...” gumam Arkan lirih, nyaris tanpa suara, hanya berupa desis yang ditelan desau angin lembah. Dadanya berdenyut oleh amarah yang dingin. Lembah Lumut Basah adalah kawasan larangan adat yang telah disepakati selama tujuh generasi sebagai zona suci satwa. Namun godaan rupiah dari sindikat penyelundup organ satwa liar di kota kerap membuat manusia-manusia serakah menyelinap di tengah kegelapan, memasang jerat-jerat jahanam dari untaian kawat baja penarik kopling truk yang mampu memotong kaki banteng sekalipun.

Arkan bangkit perlahan, menjaga agar persendian lututnya tidak mengeluarkan bunyi gemeletuk. Ia meneliti arah sebaran darah tersebut. Jejak itu bukan jejak langkah melompat lincah pemangsa, melainkan jejak seretan yang berat dan limbung. Pakis-pakis liar di sepanjang jalur setapak terbelah kasar, batangnya terpuntir dan pelepahnya robek bersimbah lendir merah. Tanah gembur berlumut terkoyak dalam alur memanjang, memperlihatkan liat merah di bawahnya—seolah ada raksasa yang tersaruk-saruk menyeret beban puluhan kilogram demi mempertahankan tiap jengkal napasnya.

Arkan memeriksa isi tas pinggang kulitnya dengan refleks terlatih: sebilah parang pendek bergagang kayu laka, tabung bambu berisi air mata air pegunungan yang jernih, sejumput bubuk belerang, segenggam daun sungkai segar penawar racun dan pereda luka yang baru saja ia petik di tepi ngarai, serta sebuah tang pemotong kawat baja tebal peninggalan sang ayah. Tang itu awalnya ia bawa untuk membongkar jerat-jerat kosong yang kerap ia temukan di hutan. Ia tak pernah menyangka bahwa pagi ini, alat itu akan menjadi satu-satunya jembatan antara mukjizat dan kematian.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian 03: Sujud Sang Penjaga Rimba

*Ketika keagungan penguasa hutan takluk pada jerat baja buatan manusia*

─── 🐅 ───

Arkan menyelinap di antara celah dua batu andesit raksasa yang tertutup lumut kerak kelabu. Pandangannya menerobos tirai kabut tipis yang berputar lambat di cekungan lembah. Dan di sanalah, di sebuah ceruk terlindung di bawah naungan akar gantung pohon ulin berusia ratusan tahun, pandangannya membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan seolah udara di sekelilingnya mendadak tersedot habis ke dalam kehampaan.

Tergeletak di atas ranjang batu kali yang basah, sosok penguasa rimba Sumatera terbujur tak berdaya. Harimau jantan itu luar biasa besar; panjang tubuhnya dari moncong hingga pangkal ekor tak kurang dari dua setengah meter, dengan otot-otot bahu kekar yang kendati kini tampak cekung dan kelelahan, masih memancarkan aura wibawa purba yang menundukkan nyali. Bulu keemasannya yang semestinya berkilau bagai bara api di bawah cahaya pagi kini kusam, belepotan lumpur lempung merah dan darah hitam yang telah mengering sebagian.

Lihat selengkapnya