GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Daun Sungkai dan Getah Damar

## Pembukaan: Di Balik Gemuruh Tirta Sunyi

Melintasi Jeram Dangkal Bersama Sang Belang yang Terluka

─━─━─「✦」─━─━─

“Dunia di luar sana mungkin memburunya sebagai binatang buas, tetapi malam ini, di bawah deru air yang membasuh dosa bumi, ia hanyalah nyawa yang menolak menyerah.”

Gemuruh air terjun Tirta Sunyi jatuh dari ketinggian tiga puluh meter laksana tabir raksasa yang ditenun dari sutra putih dan kabut malam. Raungan air yang menghantam lempengan cadas di dasar ngarai menciptakan getaran konstan di bawah telapak kaki Arkan, meredam setiap desah napas, derit ranting, dan gemertak kerikil yang terinjak. Bagi manusia biasa, kebisingan itu memekakkan telinga; namun bagi Arkan dan seekor harimau Sumatera jantan yang tengah terluka parah di sampingnya, deburan itu adalah simfoni perlindungan terbaik yang pernah dianugerahkan oleh rimba raya.

Kaki kiri belakang Guntara terseret lemah. Jejak darah kental yang sempat menetes ke atas lumut basah segera tersapu oleh cipratan air jeram yang berbuih. Arkan menahan napasnya, bahu kirinya menopang rusuk sang harimau yang terasa sepanas tembaga terpanggang. Kulit loreng oranye-keemasan milik Guntara basah kuyup oleh peluh dingin dan air sungai. Otot-otot raksasa di tengkuk satwa itu menegang kaku setiap kali cakar kirinya terpaksa menjejak bebatuan andesit yang licin.

“Tahan sedikit lagi, Guntara… hanya beberapa langkah di balik tirai air itu,” bisik Arkan lirih ke arah daun telinga sang harimau yang terkulai layu. Suaranya tenggelam dalam debur air, tetapi napas hangat pemuda itu menyentuh kumis putih Guntara yang bergetar rapuh.

Harimau itu tidak menggeram galak. Tidak ada kilatan taring mengancam yang biasanya membuat gentar para pemburu di lembah selatan. Mata kuning koneg Guntara yang biasanya memancarkan wibawa raja hutan kini meredup, berbalut selaput keletihan yang teramat sangat. Namun, dalam keremangan malam, sepasang mata itu memandang Arkan dengan kepasrahan yang ganjil—sebuah tatapan purba yang memahami bahwa pemuda berperawakan liat dengan tas kulit obat di punggungnya ini bukanlah musuh, melainkan seutas tali terakhir yang menautkannya pada kehidupan.

Dengan kehati-hatian seorang pematung yang menjaga pualam retak, Arkan memandu langkah Guntara menembus tirai air yang deras. Hantaman tempias air pegunungan seketika menghujam kepala mereka laksana ribuan jarum es. Arkan menggertakkan gerahamnya, mencengkeram erat surai tebal di pundak Guntara agar satwa berbobot lebih dari seratus kilogram itu tidak tergelincir masuk ke lubuk pusaran yang dalam. Dan ketika mereka akhirnya berhasil menerobos dinding air yang dingin mencambuk itu, sebuah rongga goa yang luas, hangat, dan terlindung menyambut mereka laksana rahim batu pertiwi.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian I: Suaka Zamrud dan Nyala Pendar Fosfor

Kondisi Ruang Perlindungan di Balik Tirai Batu

─── 🐅 ───

Keheningan di dalam goa terasa begitu kontras setelah melewati amukan air terjun. Gemuruh raksasa Tirta Sunyi kini teredam menjadi degup ritmis yang bergaung rendah di kubah stalaktit, seolah menjadi detak jantung goa itu sendiri. Di sini, udara tidak lagi basah oleh terpaan angin luar, melainkan lembap dan beraroma tanah tua, mineral kapur, dan wangi samar resin damar yang mengendap ratusan tahun di celah batuan.

Yang paling menakjubkan adalah dinding-dinding goa. Arkan tidak perlu tergesa-gesa menyalakan suluh minyak tanah yang baunya bisa tercium dari kejauhan. Di sepanjang dinding kapur yang meliuk anggun, koloni lumut fosfor purba—*bryophyta luminescens* yang hanya hidup di goa berhawa murni—berpendar dalam gradasi zamrud pucat dan biru toska lembut. Cahaya dingin itu meliuk-liuk bagai kabut bercahaya, cukup terang untuk memperlihatkan lekuk lantai goa yang bertingkat dua.

Tingkat pertama, tempat mereka berdiri, adalah undakan batu berkerikil halus yang masih basah oleh tempias luar. Namun empat meter lebih dalam, terdapat undakan batu kering yang membentang rata laksana ranjang pualam alami. Arkan tahu persis goa ini; kakeknya, seorang penjelajah dan tabib adat terpencil, pernah membawanya ke sini tujuh tahun silam saat memetakan jalur migrasi rusa tanduk emas.

Guntara menjatuhkan tubuh besarnya di atas hamparan pasir kering di undakan atas. Tubuh harimau itu terhempas dengan dengusan berat yang menyuarakan rasa sakit tak terkira. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan berbau asam—tanda pasti bahwa racun karat dari kawat sling baja pemburu telah mulai meracuni aliran darahnya, memicu reaksi demam sistemik yang berbahaya.

Arkan berlutut di sisi kaki kiri belakang sang belang. Cahaya fosfor hijau memperjelas kengerian yang tersembunyi di balik bulu lebatnya. Bekas jeratan sling baja bergerigi itu telah merobek daging hingga mendekati selubung tendon achilles. Luka itu menganga selebar empat jari, tepiannya berwarna ungu kehitaman, membengkak tegang, dan dari celah koyakan mulai merembes cairan kekuningan berbau anyir busuk.

“Infeksi kancing gigi… tetanus,” desis Arkan dengan dada berdegup kencang. Ia meraba kelenjar getah bening di pangkal paha Guntara; benjolan itu mengeras dan terasa panas menyengat seperti bara arang. Jika spora bakteri beracun itu sampai mengunci otot rahang dan diafragma sang harimau, tak ada obat di kolong langit yang sanggup menyelamatkannya.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian II: Menjinakkan Nyala dalam Senyap

Siasat Perapian Nirasap dan Ancaman Drone Pengintai

─── 🐅 ───

Sebelum meracik setetes pun obat, Arkan harus menjamin satu hal: kehangatan dan sterilitas tanpa meninggalkan jejak. Di luar sana, di sepanjang punggungan bukit seberang air terjun, patroli para pemburu liar bersenjata senapan otomatis dan sindikat perdagangan satwa langka masih menyisir rimba. Mereka dibekali drone komersial bersensor inframerah yang mampu mendeteksi kolom asap sekecil kepulan rokok di tengah kerapatan kanopi.

Arkan melangkah ke sudut goa yang paling terlindung, di mana sebuah celah alami pada dinding batu bertindak sebagai ventilasi kapiler yang menyerap udara ke dalam pori-pori karst, bukan melepasnya ke langit terbuka. Ia menurunkan ransel kanvasnya yang telah koyak di sana-sini, lalu mengeluarkan seikat balok arang khusus: arang kayu damar tua yang telah diproses lewat pembakaran hampa udara.

Arang damar memiliki keistimewaan luar biasa. Ketika dinyalakan, ia tidak menghasilkan nyala lidah api yang menjilat-jilat ataupun kepulan asap pekat. Ia hanya membara perlahan dalam warna merah tembaga yang tenang, memancarkan kalor panas yang padat sembari menguapkan aroma wangi getah damar mata kucing yang getir menenteramkan.

Dengan menggunakan serpihan batu rijang dan baja pemantik, Arkan memercikkan bunga api ke serabut lumut kering yang telah ia kumpulkan dari pohon tumbang sore tadi. Dalam tiga kali ketukan tangkas, percikan api menangkap serabut kering itu. Arkan meniupnya dengan ritme teratur—lembut seperti membujuk bayi tidur—hingga bara merah menjalar dan memeluk bilah-bilah arang damar.

Tak ada asap. Hanya gelombang hawa panas yang bergetar transparan di udara remang goa. Wangi damar yang menyerupai dupa purba perlahan menyebar, menyamarkan bau anyir darah yang menempel pada bulu Guntara. Di atas bara yang telah stabil itu, Arkan menyusun tiga buah batu kali berukuran sedang berbentuk ceper, menciptakan tungku sederhana untuk menopang kendi tanah liat miliknya.

Guntara memperhatikan setiap gerak-gerik Arkan dengan kepala tertumpu lemas di atas dua kaki depannya. Telinga kirinya yang bulat sesekali berkedut ke arah tirai air terjun di mulut goa. Matanya yang keemasan berkedip lambat, memantulkan bayangan bara api yang menari di pupilnya. Satwa pemangsa puncak ini seakan mengerti bahwa nyala api kecil di hadapannya bukanlah api hutan yang membakar habitatnya, melainkan lentera belas kasih yang dinyalakan khusus untuk menyambung nyawanya.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈

Lihat selengkapnya