Jerat Baja di Batang Keruing Kuno
Misi pembersihan ranjau kawat seling pemburu
─━─━─「✦」─━─━─
## Kutipan Narasi Puitis & Sastra
“Di rimba purba ini, sang predator tertinggi tidak memangsa yang terjepit; ia menjadi perisai bagi yang lemah melawan monster sesungguhnya yang bertopeng manusia serakah.”
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
### Bagian I: Hawa Karat di Bawah Tajuk Purba
Penciuman Sang Belang dan Kesenyapan yang Ganjil di Koridor Migrasi
─── 🐅 ───
Pukul sembilan pagi di jantung Koridor Keruing, dan langit di atas tajuk belantara Sumatra telah berubah warna menjadi kelabu keputihan yang membakar. Matahari merambat naik tanpa ampun, memanggang uap air yang terperangkap di bawah kanopi berdaun rapat setinggi empat puluh meter. Hawa di dalam rimba bukan sekadar panas; ia adalah uap lembap yang pekat dan menyesakkan rongga dada, serupa mandi uap raksasa yang dibumbui bau humus membusuk, lumut basah, dan lelehan getah damar keruing kuno yang mendidih lambat di kulit kayu.
Arkan menyeka peluh yang meleleh deras dari keningnya, membiarkan punggung tangannya yang berlapis sarung tangan kanvas tebal menyerap tetesan keringat asin sebelum sempat menyengat pelupuk mata. Di depannya, melangkah tanpa menimbulkan gemerisik seringan bayangan daun gugur, sosok penguasa sejati rimba ini bergerak lambat: Guntara. Harimau Sumatra jantan berbobot seratus tiga puluh kilogram itu menjejakkan bantalan kakinya di atas serasah basah dengan keanggunan purba yang mematikan. Belang-belang hitam legam di atas mantel jingga tembaganya berkilau redup tersapu berkas cahaya yang lolos dari celah dedaunan.
Namun, langkah Guntara mendadak terhenti. Bukan karena lelah, melainkan karena getaran anomali yang hanya dapat ditangkap oleh indra seekor pemangsa puncak. Telinga kanannya yang berujung bulat berkedut dua kali ke arah barat daya, membelakangi embusan angin sepoi yang datang dari lembah. Rahang bawahnya turun sedikit, membuka bibir hitamnya dalam refleks flehmen—sebuah manuver biologis untuk mengalirkan molekul aroma di udara langsung menuju organ vomeronasal di langit-langit mulutnya.
Arkan mengenali gelagat itu seketika. Selama berbulan-bulan berpatroli berdampingan menembus belantara yang kian terkoyak perambahan, ia telah belajar membaca setiap tarikan otot dan kibasan ekor sang harimau sebagaimana seorang pelaut kawakan membaca riak gelombang laut berbadai. Tingkat ikatan batin mereka telah menembus angka enam puluh delapan persen—sebuah ambang batas spiritual dan emosional di mana kata-kata manusiawi menjadi usang, digantikan oleh resonansi kesadaran bersama.
“Ada yang salah, sobat?” bisik Arkan lirih, nyaris tanpa suara, jemarinya secara naluriah meraba tali sandang ransel patrolinya yang memuat perkakas besi.
Guntara tidak menoleh, tetapi bulu tengkuk di sekitar surai lehernya berdiri kaku. Harimau itu mengeluarkan dengus halus yang bergetar pendek—bukan auman perburuan, melainkan peringatan akan racun tak kasat mata. Bau yang menusuk indra penciuman Guntara bukan aroma urin kijang penanda wilayah, bukan pula wangi buah ara matang yang jatuh ke lumpur. Bau itu adalah aroma asing yang dingin, tajam, dan menjijikkan: anyir logam seling baja yang mulai berkarat, berpadu dengan sisa oli mesin murahan yang dioleskan manusia untuk melumasi jerat, serta bau busuk samar dari bangkai hewan kecil yang mati kehausan beberapa hari lalu.
Koridor jelajah ini adalah jalan raya purba bagi kawanan satwa. Selama ribuan generasi, kawanan rusa sambar, kijang muncak, tapir belang, hingga gajah kerdil melintasi rute rimbun di antara banir-banir keruing ini untuk mencari mata air mineral di hulu Sungai Tapah. Namun pagi ini, koridor itu sunyi senyap. Tidak ada cicit burung murai batu. Tidak ada kokok ayam hutan. Kesenyapan rimba yang terlalu sempurna selalu menjadi pertanda satu hal: kematian sedang menanti dalam senyap.
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
### Bagian II: Tangis Tercekik di Akar Gantung
Jerat Seling di Banir Keruing dan Gelombang Trauma Masa Lalu Sang Belang
─── 🐅 ───
Guntara merendahkan tubuhnya, merayap mendekati gundukan akar banir pohon keruing raksasa yang pangkal batangnya selebar pelukan delapan orang dewasa. Di balik anyaman sulur liana dan akar gantung yang menjuntai bagai tirai purba, Arkan mendengar suara yang meremukkan nurani: desah nafas patah-patah bercampur pekikan tercekat yang amat lirih.
Arkan menyibak rimbunan paku gajah dengan hati-hati. Pemandangan di hadapannya membuat darahnya mendidih seketika. Seekor anak kijang (*Muntiacus muntjak*) betina berbulu merah keemasan tampak terperangkap di celah dua akar banir berlumut. Kaki belakang sebelah kirinya terangkat tinggi, terikat oleh lilitan kawat seling baja berdiameter empat milimeter yang telah membenam dalam ke bawah kulit halusnya. Darah segar berwarna merah pekat merembes lambat, menetes ke atas lumut hijau dan mengundang lalat belatung.
Anak kijang itu meringis kesakitan, matanya yang bundar hitam legam berputar liar dalam cengkeraman teror primal. Setiap kali ia mencoba meronta atau menjejakkan kuku mungilnya ke tanah, mekanisme pegas dahan lentur yang ditarik ke bawah oleh pemburu justru semakin mengetat, menjepit kawat baja itu lebih dalam hingga nyaris menyentuh tulang pergelangan kakinya. Sudut mulut anak kijang itu berbusa putih tipis akibat dehidrasi akut dan kelelahan berkepanjangan.
Melihat sosok raksasa Guntara melangkah keluar dari balik semak belukar, anak kijang itu menjerit pendek dan menegang kaku, mengira ajalnya telah tiba di tangan sang predator puncak yang ditakuti seluruh penghuni rimba. Secara hukum rimba yang keras, seekor anak kijang yang lumpuh dan berdarah adalah santapan empuk yang gratis—rezeki cuma-cuma tanpa perlu membuang energi berburu.
Namun di mata Guntara, tidak ada kilat kelaparan. Tidak ada saliva yang menetes dari taringnya.
Saat mata ambar sang harimau menatap kawat baja yang melingkari daging merah mungil itu, sebuah kejutan batin menghantam kesadaran Guntara. Arkan, yang berdiri dua langkah di belakangnya, dapat merasakan gelombang emosi itu mengalir deras melalui tautan batin enam puluh delapan persen mereka. Itu adalah sengatan ingatan gelap: dua musim hujan yang lalu, di sebuah bukit kapur yang dibakar pembalak liar, Guntara muda pernah merasakan jerat seling serupa mencekik kaki depannya. Tiga hari penuh penderitaan ia meraung di bawah guyuran hujan badai, menatap langit kelaparan dan menunggu pemburu datang menggorok lehernya demi selembar kulit dan sekantong tulang belulang—sebelum akhirnya Arkan dan regu jagawana datang memotong kawat terkutuk itu.
Luka fisik di pergelangan kaki Guntara telah lama sembuh menjadi bekas guratan putih di bawah bulu jingganya, tetapi trauma mentalnya tak pernah padam. Harimau itu kini memandang anak kijang tersebut bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai cermin dari rasa sakit yang ditimpakan oleh monster sesungguhnya: manusia serakah.