Bayangan Sindikat Durgala
Mengintip markas operasi rahasia sang cukong gelap
─━─━─「✦」─━─━─
Kutipan Narasi Puitis & Sastra“Kemarahan adalah api yang membakar ranting kering; ia menerangi sesaat namun menghanguskan rumahmu sendiri. Dalam tatapan mata Guntara, Arkan membaca wejangan para tetua: jangan biarkan kebuasan musuhmu mengubahmu menjadi monster yang sama.”
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
Bagian I: Jejak Besi di Jantung Rimba yang Terkoyak
Malam di punggung Belantara Hulu bukan lagi sekadar rimba yang tidur dalam selimut nyanyian serangga purba. Sejak dua jam lewat tengah malam, udara yang mengalir di sela dahan-dahan meranti raksasa terasa berat, berlemak, dan berbau racun.
─── 🐅 ───
Arkan merunduk serendah mungkin, lutut kirinya bertumpu pada hamparan lumut basah yang dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Tangan kanannya meraba lekuk tanah yang terluka parah: dua parit kembar selebar setengah depa mencengkeram lantai hutan. Itu bukan liang babi hutan tanah atau jalur terobosan badak sumatra. Itu adalah tapak bergerigi dari ban delapan inci bertekanan tinggi milik truk tronton gardan ganda—mesin-mesin pelahap rimba yang dipaksa mendaki punggungan terlarang.
Lumpur di ceruk roda itu masih berkilat kehitaman, memantulkan sisa uap bensin kotor dan oli rem yang tercecer.
Di sampingnya, nyaris menyatu dengan pekatnya bayang-bayang perdu pakis gajah, sebuah siluet agung bergerak tanpa desau. Guntara tidak mengeluarkan bunyi apa pun. Bahkan ranting lapuk di bawah telapak kakinya yang selebar piring tembikar tidak patah. Bulu keemasan berpadu coretan legam pekat di tubuh sang harimau tampak bergetar halus mengikuti irama detak jantung rimba. Telinga bundar berujung putih milik satwa purba itu berputar sembilan puluh derajat ke arah lembah di bawah tebing curam.
Arkan menarik napas perlahan melalui hidung. Melalui Ikatan Batin yang telah teruji dalam belasan pertempuran melintasi jeram dan jurang, pemuda itu dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Guntara: bukan rasa takut, melainkan kebencian murni sang penguasa belantara terhadap bau besi berkarat, mesiu yang terpercik, dan minyak bumi yang menghancurkan wangi humus alami.
“Truk itu baru lewat kurang dari setengah jam lalu, Sobat,” bisik Arkan dalam getaran batinnya, menyentuh pundak berotot Guntara yang padat bagai bongkahan batu cadas. “Mereka menurunkan muatan di dasar lembah. Tempat yang selama ini oleh para tetua adat disebut sebagai Lembah Gelap.”
Guntara mendengus sangat rendah—frekuensi infrasonik yang tidak mampu ditangkap oleh pendengaran manusia biasa, tetapi menggetarkan diafragma dada Arkan. Itu adalah isyarat persetujuan sekaligus peringatan waspada. Di depan mereka, tebing patahan runtuh sedalam tiga puluh meter, menyerupai mangkuk raksasa yang tertutup kanopi rapat. Dari dasar cekungan itu, suara derum konstan generator diesel mulai terdengar merayap naik, diselingi gonggongan anjing dan derit katrol logam yang menggesek kawat baja.
Arkan mengencangkan tali pengikat ransel kanvas lusuhnya. Di balik saku dadanya, terasa dingin bodi baja kamera analog tua peninggalan sang ayah—alat perekam optik mekanik yang tak membutuhkan baterai modern, saksi bisu yang tujuh tahun lalu gagal menyelamatkan nyawa pemiliknya, namun kini kembali bersamanya untuk menuntut pembuktian yang tak terbantahkan.
Keduanya melangkah maju, menembus tirai kabut yang semakin pekat, menuruni igir tebing yang licin bagai dioles minyak demi menyusup ke sarang iblis pemangsa rimba.
Bagian II: Neraka Kayu dan Jerit Senyap Para Penghuni Cekungan
Ketika kabut tebal menyibak di bibir ceruk batuan kapur, pemandangan di bawah mereka membuat napas Arkan tercekat dalam kemarahan yang membakar tenggorokan.
─── 🐅 ───
Lembah Gelap yang dahulu dipenuhi tegakan pohon gaharu alami dan rumpun anggrek hitam langka kini telah diratakan dengan kejam. Tanah merah lembah itu diuruk secara serampangan, diubah menjadi pelataran berlumpur luas yang dipagari kawat duri setinggi tiga meter. Di empat sudutnya berdiri menara pantau dari kayu gelondongan kasar, menopang lampu sorot halogen 5000 watt yang berputar menyapu gelap dengan lidah cahaya putih menyilaukan.
Di tengah pelataran, tumpukan kayu gaharu berton-ton menggunung setinggi atap rumah panggung. Potongan-potongan kayu hitam berurat damar pekat itu—yang di pasar gelap internasional dihargai puluhan juta rupiah per kilogramnya—ditumpuk bagai bangkai raksasa yang menunggu diangkut truk-truk bertutup terpal loreng militer. Aroma wangi mistis gaharu yang seharusnya menenangkan jiwa kini tercampur menjijikkan dengan bau solar gosong dari mesin genset sembilan puluh kilovolt dan tumpahan cat penanda kayu.
Namun, bukan tumpukan kayu curian itu yang membuat dada Arkan berdenyut nyeri bagai dihantam palu godam.
Di sisi utara kamp, tepat di bawah lindungan terpal terpal peneduh bocor, berderet kandang-kandang besi sempit. Suara desis, rintihan parau, dan ketukan kuku pada jeruji logam terdengar bersahut-sahutan dalam irama nestapa.
Dengan menggunakan teropong monokularnya, Arkan memperjelas fokus lensa prisma.
Di kandang pertama, puluhan ekor trenggiling (Manis javanica) berdesak-desakan hingga cangkang keras mereka terkelupas berdarah. Binatang-binatang pemalu pemakan semut itu menggulung tubuhnya menjadi bola-bola keputusasaan, tak berdaya menunggu ajal untuk dikuliti sisiknya.
Di kandang gantung sebelahnya, bertengger tiga pasang burung rangkong badak berparuh gading kemerahan. Sayap-sayap megah yang biasanya membelah awan di atas tajuk pohon tertinggi kini patah terkulai akibat kurungan sempit; paruh salah satu burung itu retak berdarah karena terus-menerus mematuk kawat penutup demi mencari jalan keluar.
Dan di sudut yang paling lembap, terkurung di dalam jeruji baja setebal jempol kaki, seekor anak beruang madu (Helarctos malayanus) duduk bersandar lesu pada kotorannya sendiri. Matanya yang bulat kecil tampak sayu, menatap kosong ke arah genangan air hujan bercampur minyak, sementara lidahnya sesekali menjilati tapak depannya yang terluka akibat jerat baja slink.
Di samping Arkan, bulu tengkuk Guntara berdiri tegak sempurna. Rahang bawah sang harimau mengunci rapat, memperlihatkan ujung taring bawahnya yang putih berkilat di bawah temaram rembulan yang tertutup kabut. Otot-otot di bahu predator raksasa itu mengencang bagai busur yang siap melepaskan anak panah maut. Bau darah binatang-binatang rimba yang tersiksa itu menusuk insting teritorial dan pelindung sang belang. Guntara memajukan satu langkah, cengkeraman cakarnya menggali tanah kapur, siap melompat menerobos lereng tebing untuk merobek leher para pemburu berkaki dua itu.
“Tahan, Guntara... Tahan,” Arkan menempelkan telapak tangannya di sisi leher Guntara, menyalurkan gelombang ketenangan batin yang ia paksa lahir dari rongga dadanya sendiri. “Jika kita menerjang sekarang, peluru senapan mesin mereka akan menghabisi kita sebelum kau sempat menyentuh pagar pembatas. Dan mereka... satwa-satwa itu, tak akan pernah bisa pulang ke rimba. Kita harus mengumpulkan bukti. Kita harus menghancurkan sindikat ini hingga ke akar busuknya.”
Guntara mengembuskan napas panas melalui hidungnya yang basah, menatap mata pemuda manusia di sampingnya. Perlahan, ketegangan pada otot pundak sang harimau melonggar, meski kilatan amber di manik matanya tetap membara dengan ancaman maut yang tertahan.
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
Bagian III: Dendam Tujuh Tahun dan Sentuhan yang Menyelamatkan Jiwa
Pintu barak utama yang terbuat dari papan tebal berderit terbuka dengan bantingan keras.
─── 🐅 ───
Dua orang pria berperawakan kekar menenteng senapan serbu otomatis laras panjang melangkah keluar terlebih dahulu. Di belakang mereka, melangkah seorang pria berbadan gempal dengan mantel kulit hitam berlumur lumpur kering. Pria itu menyandang senapan berburu berperedam suara di bahunya, sementara di tangan kirinya tergenggam cerutu menyala dan seikat uang kertas pecahan seratus ribu yang diikat karet gelang tebal.
Cahaya lampu sorot 5000 watt berputar tepat saat pria itu berdiri di undakan tangga barak untuk menyalakan kembali cerutunya yang padam tertiup angin lembah.
Kilatan cahaya putih itu menyinari leher kirinya yang terbuka tanpa kerah.
Di kulit leher pria itu, di atas tonjolan urat nadi yang berdenyut lambat, tertera sebuah rajahan tinta hitam pekat: tato berbentuk tiga taring macan yang melengkung mencengkeram sebuah tengkorak kecil.
Dunia Arkan mendadak kehilangan suara.
Derum generator diesel, lolongan anjing penjaga, gemersik daun meranti dihembus angin—semuanya lenyap ditelan dengungan pekak di dalam gendang telinganya. Darah di pembuluh vena pemuda itu terasa mendidih seketika, mengalirkan hawa panas yang membakar tengkorak kepalanya.
Tato itu.
Kenangan kelam tujuh tahun silam yang terkubur di bawah tumpukan dedaunan makam ayahnya meledak ke permukaan tanpa peringatan.
Malam berbadai di pondok jagawana pinggir hutan. Suara letusan senapan kaliber 7.62 mm yang merobek dinding kayu. Sosok sang ayah yang tersungkur di lantai bambu dengan dada berlumuran darah segar, jemarinya yang gemetar mencengkeram tangan Arkan kecil sambil berbisik dengan sisa tenaga terakhir: “Lari, Arkan... Jangan percaya siapa pun... Pria bertato taring di lehernya... Durgala...”
Dan kini, pria itu berdiri hanya seratus meter di bawah matanya.
Durgala. Sang cukong gelap perusak hutan adat, sang pembunuh berdarah dingin yang membuat Arkan tumbuh sebagai yatim piatu yang harus belajar bertahan hidup bersama buasnya rimba. Pria itu kini tertawa terkekeh-kekeh sambil melempar segepok uang tunai ke dada anak buahnya, menginjak puntung rokoknya ke tanah seolah bumi ini tak lebih dari sekadar asbak kotor tempat ia melampiaskan keserakahannya.
“Bunuh dia.” Sebuah suara purba dan gelap berbisik di dalam benak Arkan. “Hunyamkan pisau warisan ayahmu langsung ke jantungnya. Habisi bajingan itu sekarang juga!”
Jemari tangan kanan Arkan merayap ke pinggangnya, mencengkeram gagang pisau rimba berukir kepala naga warisan sang ayah. Logam bilah pisau itu bergetar seirama dengan gemeretak giginya. Otot kakinya menegang, bersiap untuk meloncat menuruni lereng batu tanpa memedulikan kawat berduri, tanpa menghiraukan moncong-moncong senapan berpeluru tajam yang siap mencabik tubuhnya. Matanya memerah, pandangannya menyempit hanya pada titik tato taring di leher sang cukong.
Pada saat kritis itulah, sebuah kehangatan basah yang lembut menekan punggung tangan kanannya.
Arkan tersentak.
Moncong Guntara menyentuh kulit tangannya yang membeku. Sang harimau tidak menggeram, tidak pula menunjukkan kebuasan. Sebaliknya, mata amber Guntara menatap lurus ke dalam pupil mata Arkan. Di dalam kedalaman manik mata sang predator puncak, Arkan tidak menemukan haus darah yang membuta. Ia menemukan ketenangan telaga purba di puncak gunung—kebijaksanaan rimba yang telah menyaksikan ribuan pemburu datang dan pergi menjadi mangsa bumi.
Resonansi batin mereka yang berada di tingkat 74% — Penenang Dendam mengalirkan wejangan tanpa kata ke dalam sanubari Arkan:
“Kemarahan adalah api yang membakar ranting kering; ia menerangi sesaat namun menghanguskan rumahmu sendiri. Jangan biarkan kebuasan musuhmu mengubahmu menjadi monster yang sama.”
Hawa dingin malam merasuk kembali ke dalam paru-paru Arkan bersama tarikan napas panjang yang ia embuskan pelan-pelan. Jemarinya yang memutih perlahan melepaskan cengkeraman pada gagang pisau. Denyut nadinya yang semula berdegup bagai gendering perang melambat, kembali sinkron dengan detak napas lambat dan teratur milik Guntara.
“Terima kasih, Belang,” bisik Arkan lirih, nyaris tanpa suara di balik masker lehernya. “Kau benar. Jika aku mati konyol malam ini demi sebutir peluru balas dendam, Durgala akan menang, dan kejahatan ini akan terus mengubur hutan ini selamanya.”
Pikiran jernih sang pengintai kembali menguasai kesadarannya. Dendam pribadi ditangguhkan demi keadilan yang lebih besar.
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈