Sumpah di Bawah Pohon Raja Rimba
“Ikrar perlindungan suci di pusat jantung Bukit Barisan”
─━─━─「✦」─━─━─
Kutipan Sastra & Hikmah Luhur
“Bumi ini tidak kita warisi dari nenek moyang kita, melainkan kita pinjam dari anak cucu kita. Dan malam ini, di bawah lindungan daun pohon purba, sang pemuda dan sang belang menorehkan nama mereka sebagai penebus utang peradaban.”
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
Bagian I: Menembus Tirai Tembaga Bukit Barisan
Runtuhnya Tekanan Udara dan Gemuruh Punggung Pegunungan
─── 🐅 ───
Matahari Sumatra tidak pernah benar-benar mati perlahan; ia tenggelam seperti bongkahan tembaga membara yang ditenggelamkan paksa ke balik punggung cadas Bukit Barisan. Di ketinggian seribu dua ratus meter di atas permukaan laut, kabut senja tidak turun merayap dari langit, melainkan menguap dari lumut basah lantai hutan, membawa aroma humus purba, getah pinus merkusii yang mengering, serta sengatan dingin yang menusuk tulang belulang.
Arkan menghentikan langkahnya di tubir lereng sempit yang membelah jurang curam. Dadanya berombak seirama helaan napas teratur yang telah ia latih selama berbulan-bulan di bawah bimbingan sunyi rimba raya. Di belakang bahu kirinya, senapan runduk berlaras pendek terikat rapi dalam bungkus kanvas berlilin kedap air, bersanding dengan tabung bambu berisi ramuan herba dan peta topografi militer yang telah ia tambahi goresan tinta getah jernang. Namun, perhatian Arkan saat itu tidak tertuju pada beban ranselnya, melainkan pada jarum kompas bidik di pergelangan tangannya yang mulai berputar liar tak menentu.
Tekanan udara anjlok tajam. Angin pegunungan yang biasanya berhembus lembut dari arah barat kini berbelok ganas ke utara, mengibaskan dedaunan pohon resak dan membunyikan kanopi belantara seperti derit lambung kapal kayu yang dihantam gelombang samudra. Langit yang semula jingga kusam kini lebam keunguan, memantulkan warna tembaga tua yang menakutkan.
Di sebelah kanannya, semak belukar pakis gajah setinggi dada manusia tersibak tanpa suara gesekan ranting yang kasar. Dari balik bayang-bayang kelam itu, melangkah keluar sesosok raksasa loreng yang keanggunannya menuntut ketundukan seisi hutan. Guntara.
Harimau Sumatra jantan berbobot hampir dua ratus kilogram itu tidak menampakkan ketergesaan. Bulu jingga kemerahannya pekat, dihiasi garis-garis belang hitam rapat yang meliuk seperti ukiran kaligrafi gaib di atas tubuh liat berotot pejal. Kumis putihnya yang kaku bergetar ke arah barat daya, menangkap perubahan molekul ozon di udara. Telinganya yang bulat tegak menghadap ke lembah, menyaring seribu satu desah rimba: rintihan dahan patah dua kilometer jauhnya, kepakan sayap burung enggang yang terburu-buru mencari sarang, hingga desau air sungai bawah tanah yang bergolak di bawah kaki mereka.
Ketika pandangan mereka bertaut, tidak ada getar ketakutan di mata Arkan, begitu pula tidak ada kilat buas di manik mata ambar keemasan Guntara. Sebuah frekuensi tanpa suara berdengung di antara dada sang pemuda dan tenggorokan sang predator—sebuah resonansi batin yang telah menembus ambang delapan puluh persen. Tingkat ikatan batin yang oleh para pawang tua kerap disebut sebagai 'Kesatria Penjaga Rimba': ketika dua detak jantung bernapas dalam satu tarikan napas semesta.
“Kau juga merasakannya, kawan?” bisik Arkan parau, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin kencang yang menyapu lereng. “Langit sedang menyiapkan murka. Para bajingan perambah di Lembah Tapah mengira cuaca buruk ini akan menghentikan kita. Mereka tidak tahu, malam ini badai bukan musuh kita. Badai adalah selubung yang dikirimkan leluhur.”
Guntara mendengus pelan—bunyi *chuffing* ramah yang menggetarkan udara di antara mereka. Sang raja rimba menggesekkan sisi kepalanya yang lebar ke pelindung lutut Arkan, meninggalkan aroma musk hangat yang menenangkan kegelisahan naluriah manusia sebelum pertempuran penentuan dimulai.
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
Bagian II: Sang Raksasa Berbanir Tujuh Puluh Meter
Memasuki Sanctuari Pohon Keruing Pusaka
─── 🐅 ───
Mereka melangkah menuruni celah ngarai tersembunyi yang ditutupi tirai akar gantung tanaman ara pencekik. Jalan setapak ini tidak pernah tercantum dalam peta kehutanan modern, tidak pula dapat dideteksi oleh satelit pengawas korporasi tambang yang mengintai dari orbit bumi. Ini adalah labirin purba yang hanya diingat oleh kawanan gajah tua dan leluhur suku rimba yang bersumpah menjaga rahasia jantung Bukit Barisan.
Begitu mereka menembus tirai kabut lembah, napas Arkan tercekat di kerongkongan. Rasa takzim yang luar biasa meremukkan segala sisa keangkuhan akal modernnya.
Di hadapan mereka berdiri Sang Raja Rimba yang sesungguhnya: sebuah pohon keruing pusaka raksasa (*Dipterocarpus cornutus*) yang diperkirakan telah menancapkan akarnya ke bumi Sumatra jauh sebelum kerajaan-kerajaan maritim pertama berdiri di pesisir pulau ini. Tingginya mencakar angkasa hingga tujuh puluh meter, menembus lapisan tertinggi kanopi hutan dan menjadikannya mercusuar abadi bagi bentang alam liar tersebut.
Yang paling menakjubkan adalah banir akarnya. Dinding-dinding akar papan yang keluar dari pangkal batang utamanya mencuat setinggi sepuluh meter dan merentang ke samping selebar dua puluh lima meter—luas yang lebih lapang daripada sebuah rumah panggung adat beratap gonjong. Lumut beludru hijau zamrud menyelimuti sela-sela lipatan cadas dan kulit pohon kelabu yang merekah, sementara di lekuk-lekuk dahan pertamanya yang sebesar drum minyak, berkelindan rumpun-rumpun raksasa anggrek harimau (*Grammatophyllum speciosum*).
Ratusan tandan bunga anggrek berwarna kuning pucat bertotol cokelat kemerahan itu sedang mekar serentak, menyebarkan aroma harum manis yang pekat namun menenangkan, bertolak belakang dengan bau mesiu dan solar yang menodai lembah bawah akibat aktivitas para perusak hutan.
“Pohon Keruing Pusaka...” gumam Arkan lirih sembari meletakkan telapak tangan kirinya yang gemetar ke kulit batang pohon yang bersisik tebal. Denyut getah pohon yang mengalir lambat seolah mengirimkan gelombang kejut hangat ke saraf-saraf tangannya. Kayu ini adalah saksi bisu dari jutaan pasang surut musim, perang saudara, invasi kolonial, hingga kini, kepungan buldoser dan gergaji mesin para pemodal gelap.
Guntara tidak merebahkan diri sembarangan. Sang belang melangkah dengan keagungan penuh perhitungan, lalu berbaring tenang di atas lekukan akar banir paling tinggi, meletakkan dagunya yang berbelang putih di atas kedua kaki depan yang sebesar piring tembikar. Matanya menyapu sekeliling sanctuari dengan kewaspadaan dingin. Di tempat suci ini, bahaya tetap mengintai dalam status sedang: jebakan kawat bertegangan tinggi milik pemburu liar berjarak tiga kilometer di hilir, sementara unit tentara bayaran pengawal konsesi sawit ilegal terus menyisir perimeter hutan lindung.
Namun di bawah perlindungan kanopi sang keruing raksasa, angin kencang yang menderu-deru di angkasa terpecah menjadi hembusan sejuk yang berputar syahdu di antara banir akar, menciptakan ruang kedap tak kasat mata tempat waktu seakan-akan ditarik mundur ke zaman penciptaan.
◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈
Bagian III: Kemunculan Sang Penjaga Silsilah
Air Mata Datuk Merah dan Pembalikan Sejarah Lisan Lima Puluh Tahun
─── 🐅 ───