GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Nyanyian Jagawana yang Terluka

Nyanyian Jagawana yang Terluka

Menyelamatkan Sandra dari sekapan komplotan di posko terisolasi

─━─━─「✦」─━─━─

### Kutipan Narasi Puitis & Sastra

> “Di tengah kebiadaban manusia yang menjual bangsanya sendiri demi segenggam uang, selalu ada segelintir jiwa yang memilih menjadi lentera. Sandra melihat lentera itu di mata pemuda dan harimau yang datang tanpa suara.”

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## I. Kabut Beracun di Punggungan Bukit Lumut

*Kala sunyi rimba menyembunyikan kebiadaban serakah manusia* (03.30 WIB)

─── 🐅 ───

Malam di Punggungan Bukit Lumut bukanlah malam biasa. Ia adalah rahim gelap yang melahirkan dingin paling purba, tempat kabut basah bergulung dari celah jurang berlumut tebal dan merayap bagai ular-ular putih tak berkaki, membelit batang rasamala serta meranti raksasa hingga ke tajuk-tajuk kanopi tertinggi. Pada jam tiga lewat tiga puluh dini hari, waktu seolah berhenti berdetak di sekitar Pos Pengawas Jagawana 03. Rumah panggung beratap seng gelombang dan berdinding kayu ulin tua itu berdiri membeku di atas tiang-tiang pancang kokoh, terisolasi tiga puluh kilometer dari batas desa terdekat, terjepit di antara kesunyian rimba lindung dan ancaman senyap yang merenggut napas peradaban.

Namun kesunyian malam itu bukan kesunyian yang suci. Udara berbau tengik; perpaduan antara bau amonia kotoran babi hutan di kolong panggung, tembakau linting murahan beraroma cengkeh hangus, dan sisa bau mesiu mesiu dingin yang masih mengendap di ambang pintu. Pintu utama pos pengawas yang biasanya selalu terkunci rapat dengan gembok tembaga kini telah terbelah dua, terkoyak akibat hantaman martil godam dan tendangan sepatu bot sol baja. Di atas lantai papan kayu yang dulu dibersihkan Sandra dengan sabun sereh setiap matahari terbit, kini berserakan serpihan kaca jendela nako yang pecah berderai, robekan peta zonasi konservasi, dan bangkai pemancar radio dua arah yang telah digencet hingga remuk tak berbentuk.

Di tengah ruang utama yang remang-remang itu, terikat pada tiang penyangga utama dari gelondongan kayu besi yang menghitam dimakan usia, tubuh Sandra terkulai lemas. Jagawana perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu menatap dinginnya lantai melalui rambutnya yang basah oleh keringat dingin dan darah yang mengering di pelipis kiri. Seragam kehutanan warna hijau lumut yang ia kenakan robek di bagian pundak, menampakkan lebam kebiruan akibat hantaman popor senapan laras panjang dua jam silam. Kedua tangannya disilangkan ke belakang tiang, dibelit tambang rami kasar berpelumas gemuk mesin yang menyayat pergelangan kulitnya setiap kali ia mencoba melonggarkan tarikan napas. Begitu pula kedua kakinya; diikat rapat pada pangkal tiang dengan simpul mati yang bengis.

“Percuma kau mendelik seperti itu, Jagawana manis,” suara parau terdengar dari sudut ruang dekat meja yang roboh. Suara itu milik Togar, pria bertubuh gempal dengan parut luka melintang di rahang bawahnya. Di pangkuannya tergeletak senapan Mauser rakitan kaliber ganda dengan magasin berpeluru timah panas. Matanya yang merah karena menenggak tuak aren menyala liar dalam temaram puntung rokok kretek yang tak henti-hentinya ia isap. “Bos Durgala sudah memberi titah lewat radio satelit sebelum pemancar bangkai itu kuhancurkan. Begitu kabut fajar menipis dan helikopter jemputan kayu gaharu lewat di punggungan barat, riwayatmu tamat. Mayatmu akan kami lempar ke jurang karts bawah. Hutan ini terlalu luas untuk mencari satu butir bangkai manusia.”

Di seberang Togar, dua pemburu lainnya—Jaro yang jangkung berwajah cekung dan Markum yang bersenjatakan parang panjang pembuka semak—sedang asyik mengunyah sirih sembari menggeledah ransel dinas Sandra. Mereka melemparkan buku catatan inventarisasi satwa liar, kamera jebak digital yang lensanya pecah, serta botol obat antimalaria ke sudut ruangan seolah itu semua adalah sampah tak berguna.

“Sayang sekali radio satelitnya mati kehabisan baterai,” gumam Markum sembari meludah merah ke lantai papan. “Kalau tidak, kita bisa tahu apakah anak buah Durgala di pos bawah sudah berhasil mengamankan truk-truk kayu ulin curian itu. Dingin sialan ini menusuk sampai ke sumsum. Rasanya ingin kubakar saja gubuk kayu reot ini bersama perempuan ini di dalamnya.”

Sandra tidak menjawab. Tenggorokannya perih bagai ditaburi abu panas. Bibirnya pecah-pecah dan berdarah. Namun di dalam dada yang sesak terhimpit tali tambang, nyala martabatnya belum padam. Matanya yang hitam pekat menatap Togar tanpa secuil pun rasa gentar. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan di bawah kibaran bendera merah putih di pelataran Balai Konservasi Sumber Daya Alam dua tahun lalu: bahwa sejengkal tanah belantara ini, setiap pohon meranti yang menjulang, dan setiap jejak satwa yang melintas di dalamnya, adalah amanah kehormatan yang tak boleh ditebus dengan ketakutan seorang pengecut.

“Kalian pikir... kalian bisa keluar hidup-hidup dari hutan ini?” bisik Sandra, suaranya parau namun penuh ketegaran yang ganjil. “Hutan ini memiliki ingatannya sendiri. Pohon-pohon purba ini mencatat setiap darah yang kalian tumpahkan, dan mereka yang menjaga belantara tidak pernah tidur.”

Togar terbahak keras, tawa mengejek yang memantul di dinding-dinding kayu posko yang ringkih. “Mitos dongeng orang kampung! Siapa yang mau datang menolongmu di pos terkutuk sejauh tiga puluh kilometer ke pedalaman ini? Jin penunggu pohon? Harimau siluman? Jagawana tua keparat teman-temanmu itu bahkan butuh dua hari jalan kaki untuk menembus longsor di jalur sungai! Di sini, di atas bukit ini, kamilah rajanya.”

Togar bangkit, melangkah lambat menghampiri Sandra. Sepatu botnya berdentum berat di atas papan kayu ulin yang berderak menahan beban tubuhnya. Ia mencengkeram dagu Sandra dengan jemari kasarnya yang berbau mesiu dan tuak, memaksa gadis itu mendongak menatap moncong gelap senapan laras panjang yang kini dingin menempel di keningnya.

Kematian terasa begitu dekat, hanya terpisah oleh jarak satu sentimeter pelatuk besi. Sandra menutup matanya sesaat, menarik napas panjang melalui hidung, menyerahkan jiwanya pada ketenangan paling hening di jantung rimba. Namun justru pada saat itulah, di ambang kepasrahan mutlak, naluri jiwanya menangkap sesuatu yang tidak didengar oleh telinga kasar ketiga pemburu durjana itu.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## II. Tanda Mata Jingga di Ranting Kiara Purba

Dinamika batin dan tatapan teduh sang Penjaga Belantara* (03.35 WIB)

─── 🐅 ───

Itu bukan suara angin yang mendesau menyapu punggungan jurang. Bukan pula bunyi tetes embun yang menitik dari lumut-lumut gantung di dahan kayu rasamala. Suara itu adalah getaran frekuensi rendah—sebuah infrasonik halus yang tidak sanggup ditangkap gendang telinga manusia biasa, namun menggetarkan rongga dada bagai dentuman beduk dari dasar bumi purba. Rasa dingin di udara mendadak berubah; aroma tembakau murahan Togar lenyap tersapu oleh hawa musk liar yang pekat, bau kesturi basah dari bulu pemangsa puncak yang menguasai rantai makanan Sumatra sejak ribuan purnama.

Sandra membuka matanya perlahan. Lewat celah jendela nako yang pecah tepat di samping tiang tempatnya terikat, pandangannya menembus kabut fajar yang pekat. Jarak pandang malam itu tak lebih dari lima depa. Ranting-ranting pohon kiara pencekik yang menjuntai di tepi jurang tampak seperti jari-jari raksasa yang membeku dalam siluet hitam kelabu.

Lalu, kabut itu terbelah bagai tirai sutra yang disibak tanpa angin.

Di atas dahan mendatar pohon kiara purba yang menjulur tepat tiga meter di atas kemiringan atap seng posko, dua titik cahaya menyala dalam gulita. Cahaya itu bukan pantulan senter atau api rokok. Ia adalah sepasang iris jingga kemerahan—berpendar bagai batu ambar yang dipanaskan bara api abadi. Sepasang mata yang memancarkan wibawa purba tak terbantahkan, kedalaman samudra kecerdasan liar yang menatap langsung ke dalam manik mata Sandra tanpa berkedip.

Napas Sandra tercekat di kerongkongan. Seluruh sel tubuhnya meremang. *Guntara.*

Sang harimau Sumatra jantan berbulu loreng jingga pekat dengan belang-belang hitam legam selebar telapak tangan itu tiarap menempel di kulit dahan kiara yang berlumut tebal. Otot-otot bahunya yang kekar tampak menonjol di balik kulitnya yang basah oleh tetesan embun rimba. Tubuhnya yang seberat hampir dua ratus kilogram melengkung sempurna, diam tanpa getaran sekecil apa pun, menyatu dengan lekuk dahan bagai bayang-bayang yang dipahat langsung dari kegelapan hutan tropis. Tidak ada ranting yang patah. Tidak ada daun yang gemerisik. Kehadirannya adalah perwujudan kesempurnaan sunyi.

Dan di samping sang belang, setengah tersembunyi di balik jalinan sulur akar gantung pohon kiara, berdiri seorang pemuda.

Arkan.

Pemuda itu mengenakan rompi taktis rimba berwarna gelap pudar, celana kanvas tahan duri yang berlumur lumpur kering, dan ikat kepala kain tenun tua yang melingkari keningnya. Wajahnya keras terpahat angin rimba, namun sepasang matanya jernih dan teduh laksana telaga pedalaman yang belum pernah tersentuh riak keserakahan manusia. Di tengah kabut subuh yang menusuk tulang, tatapan Arkan bertemu dengan pandangan Sandra yang sarat luka dan keputusasaan.

Tidak ada kata yang terucap. Di antara desau angin dingin dan bau mesiu pemburu, Arkan perlahan mengangkat tangan kanannya ke dada, lalu membuka jemarinya perlahan membentuk isyarat ketenangan batin—isyarat khas para pelindung alam yang hanya dipahami oleh jiwa-jiwa yang mendedikasikan hidupnya bagi rimba raya. Isyarat itu berbisik lembut ke dalam sanubari Sandra: *Tenangkan hatimu. Bernapaslah perlahan. Kau tidak sendirian.*

Air mata hangat menetes membasahi pipi Sandra yang kotor berlumur debu arang. Selama berbulan-bulan bertugas di pos perbatasan ini, ia sering mendengar bisik-bisik para jagawana senior dan pemburu tua di warung kopi tepian hutan tentang seorang pemuda misterius yang hidup berdampingan dengan harimau dataran tinggi; tentang ikatan batin gaib antara manusia dan pemangsa agung yang menjaga keseimbangan bukit-bukit karts dari jarahan cukong kayu dan tambang liar. Dulu ia menganggapnya sebagai alegori penghibur lara bagi para penjaga hutan yang kalah jumlah dan kalah senjata.

Namun kini, lentera itu nyata. Di tengah kebiadaban manusia yang menjual bangsanya sendiri demi segenggam uang kertas lecek, selalu ada segelintir jiwa yang memilih menjadi lentera pembimbing kebenaran. Sandra melihat lentera itu menyala terang benderang di mata sang pemuda dan sang harimau yang datang tanpa suara melintasi rimba raya.

Sandra mengatupkan rahangnya erat-erat. Ketakutan yang semula melumpuhkan sendi-sendinya lenyap, digantikan oleh kesiapan taktis yang dingin. Ia mengangguk samar—gerakan mikro yang hanya bisa ditangkap oleh mata pemangsa terlatih milik Guntara dan Arkan di atas dahan pohon kiara.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## III. Merayap di Liang Sunyi (Taktik Kolong Panggung)

Ujian kesabaran mutlak di bawah lantai kayu lapuk dan becek* (03.40 WIB)

─── 🐅 ───

Menyelamatkan sandera dalam ruangan tertutup dengan tiga laras senjata api bukanlah perkara keberanian buta. Satu kecerobohan kecil, satu bunyi derit kayu yang salah waktu, maka laras senapan Togar akan menyalak sebelum penyelamatan sempat dimulai. Arkan memahami hal ini lebih dari siapa pun. Setiap denyut nadinya telah diselaraskan dengan detak jantung hutan; setiap tarikan napasnya mengalir bersama napas Guntara dalam resonansi batin delapan puluh delapan persen—tingkat keterikatan jiwa di mana kata-kata lisan tak lagi dibutuhkan untuk merancang strategi tempur paling presisi.

Melalui pertukaran tatap senyap, komando taktis dibagikan. Guntara tetap berada di posisinya pada dahan kiara tua, mengawasi pergerakan ketiga musuh dari sudut atas, bersiap menjadi pengalih perhatian paling dahsyat kala aba-aba batin dilepaskan. Sementara itu, Arkan meluncur turun bagai tetesan embun. Tubuhnya meliuk melewati sulur-sulur akar pohon tanpa menimbulkan suara gesekan daun kering sedikit pun, mendarat di atas bantalan lumut tebal di dasar tebing karts.

Di hadapannya membentang kolong panggung Posko 03.

Bangunan panggung itu disangga oleh dua belas tiang pancang kayu ulin hitam setinggi satu koma dua meter dari permukaan tanah becek lereng bukit. Tanah di kolong itu adalah perangkap maut tersendiri: berlumpur liat kehitaman akibat rembesan air hujan berhari-hari, penuh bebatuan karts tajam tersembunyi, dan dipenuhi kubangan becek berbau busuk tajam tempat babi hutan liar sering berdiam mencari kehangatan tanah gambut. Lebih berbahaya lagi, papan lantai kayu posko yang berada tepat di atas kolong telah lapuk parah dimakan rayap dan lumut lembap. Balai konservasi kekurangan anggaran untuk merenovasi posko ini selama lima tahun terakhir.

Jika beban lebih dari empat puluh kilogram bertumpu di titik yang salah di atas papan lantai itu, kayu tua tersebut akan berderak melolong nyaring—atau bahkan patah jebol. Dan jika itu terjadi, ketiga pemburu di atas akan langsung menembus lantai dengan rentetan peluru senapan pemburu.

Arkan menanggalkan ransel punggungnya, menyelipkan belati bergagang tanduk rusa ke sarung di pinggang kiri, dan mengeluarkan sebutir tabung silinder logam seukuran genggaman tangan dari kantong dada rompinya: peluru suar darurat fosfor merah berdaya pendar lima belas ribu candela yang ia modifikasi dengan pemicu gesek instan.

Dengan perlahan, pemuda itu menelungkup di atas lumpur berbau pesing tajam.

Dinginnya air tanah gambut langsung meresap menembus lapisan kain pakaiannya, menusuk kulit dada dan perut bagai ribuan jarum es. Bau amonia kotoran hewan liar memenuhi rongga hidungnya, menyengat hingga ke pangkal tenggorokan. Namun Arkan tidak bergeming. Matanya menyipit dalam gelap, memindai struktur balok-balok penopang utama (*gelagar*) lantai yang melintang kokoh di bawah posko.

Strateginya jelas: ia tidak boleh menyentuh papan lantai gantung. Seluruh berat badannya harus dibagi dan didistribusikan secara melintang di atas balok utama pondasi kayu ulin tua.

Lihat selengkapnya