GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Kobaran Api di Hulu Sungai Mas

Kobaran Api di Hulu Sungai Mas

Taktik bumi hangus sang sindikat dan kepungan asap maut

─━─━─「✦」─━─━─

Api adalah monster buta yang menelan apa saja tanpa ampun. Tetapi keberanian yang lahir dari cinta jauh lebih perkasa daripada lidah-lidah api keserakahan. Di balik asap pekat, siluet manusia dan harimau itu bergerak bagai dewa pelindung bumi.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian I: Langit Senja yang Berdarah di Lereng Hulu

Pukul 17.30 WIB — Pecahnya botol-botol laknat Durgala di punggung bukit alang-alang (17.30 WIB · Punggung Lereng Kering Hulu Sungai Mas)

─── 🐅 ───

Matahari pukul setengah enam sore seharusnya sudah merunduk tenang di balik punggung Bukit Barisan, menyisakan semburat ungu lembut yang memantul di permukaan air Hulu Sungai Mas. Namun pada petang yang ganjil itu, cakrawala barat justru menyala seperti tungku raksasa yang baru saja dibongkar paksa. Hawa panas ekstrem merayap turun dari tebing-tebing kapur, membawa bau minyak tanah mentah, getah damar yang mendidih, dan aroma rumput hangus yang menusuk langit-langit kerongkongan. Angin kemarau yang sejak siang berembus kering kini berputar liar di sela-sela tajuk hutan sekunder, menciptakan deru rendah seperti napas binatang purba yang sedang mengintai mangsa di dasar jurang.

Arkan menghentikan langkahnya di atas sebongkah batu granit pipih yang menjorok ke lekukan sungai. Keringat dingin bercampur debu arang mengalir di pelipisnya. Dua ratus meter di atas mereka, tepat di sepanjang garis punggung lereng kering yang ditumbuhi hamparan alang-alang setinggi dada dan semak belukar meranggas, kilatan-kilatan cahaya jingga meledak secara beruntun. Satu, dua, lima, hingga belasan titik api menyala hampir bersamaan. Suara kaca pecah yang beradu dengan batu cadas terdengar samar di sela deru angin, disusul raungan mesin motor trail modifikasi milik anak buah sindikat yang bergegas kabur menelusuri jalur balak tua di sisi utara.

“Durgala benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!” suara Sandra terdengar bergetar menahan amarah sekaligus keterkejutan. Gadis peneliti konservasi itu menurunkan teropong binokular dari matanya, jemarinya mencengkeram tali kamera termal yang tergantung di dada. Dari balik lensa pemantau, ia baru saja menyaksikan pemandangan yang paling ditakuti oleh setiap penjaga rimba: taktik bumi hangus. “Dia tidak lagi peduli pada kayu-kayu tebangan yang belum sempat diangkut atau kandang-kandang jebakan yang tersisa di pos lama. Anak buahnya melempar bom molotov berantai tepat di sepanjang sabuk alang-alang kering di atas hulu!”

Di samping lutut kiri Arkan, Guntara mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan kerikil-kerikil di bawah telapak kakinya. Harimau Sumatera jantan dewasa itu mengangkat moncongnya tinggi-tinggi, mengendus udara senja yang mendadak berubah masam dan membara. Kumis putihnya bergetar kencang. Bulu-bulu di sepanjang tengkuk dan punggung Sang Belang meremang ketika gelombang panas pertama menyapu lereng bawah. Dalam ingatan terdalam setiap penghuni belantara, tidak ada musuh yang lebih kejam daripada api yang lahir dari tangan manusia—musuh yang tidak memiliki jantung untuk ditikam, tidak memiliki leher untuk diterkam, dan tidak mengenal batas wilayah kekuasaan.

Sejak fajar menyingsing hingga sore hari tadi, kerja sama antara Arkan, Sandra, dan Guntara telah berhasil mematahkan tiga rantai operasi utama Durgala. Mereka telah membongkar jerat-jerat baja di jalur lintasan tapir, melumpuhkan komunikasi radio para pemburu bayaran di Pos Batu Hitam, serta menggiring keluar kawanan rusa yang hendak digiring menuju jaring penangkap sindikat. Durgala, pria berwajah parut yang selama bertahun-tahun menganggap belantara Sungai Mas sebagai ladang jarahan pribadinya, menyadari bahwa pengepungan patroli kehutanan semakin menyempit. Alih-alih menyerah atau melarikan diri secara diam-diam, sang kepala sindikat memilih meninggalkan neraka di belakang punggungnya.

Tujuannya bukan sekadar menghapus jejak kejahatan. Dengan membakar lereng kering di hulu sungai pada saat angin lembah berputar kencang menjelang Magrib, Durgala hendak menciptakan tembok maut yang akan memaksa Arkan dan Sandra mundur menyelamatkan nyawa, sekaligus menjebak seluruh populasi satwa liar di cekungan lembah agar mati terpanggang bersama Pohon Keruing Pusaka yang selama ini menjadi simbol keramat perlindungan adat dan ekologis kawasan tersebut.

Dalam hitungan menit, belasan titik nyala dari pecahan botol molotov itu saling bertemu, bertautan bagai jemari iblis yang menari di atas hamparan ilalang kering. Rumput alang-alang yang telah terpanggang terik matahari selama berminggu-minggu meledak menjadi kobaran raksasa. Tiupan angin yang berputar dari celah tebing mendorong lidah-lidah api itu menyatu menjadi sebuah dinding merah-menyala setinggi lima meter. Suara gemeretak batang bambu liar yang pecah terbakar terdengar seperti rentetan tembakan senapan mesin yang merobek keheningan senja.

“Kecepatan rambatnya gila, Arkan!” seru Sandra sembari membuka peta topografi digital di perangkat pergelangan tangannya yang mulai tertutup bintik-bintik abu abu-abu. “Angin berputar dari arah barat daya langsung menekan lereng. Kalau dinding api itu menembus sabuk semak kering di kaki bukit ini, dalam dua puluh menit kobaran akan melompati ngarai sempit dan langsung menyambar akar-akar Pohon Keruing Pusaka di mulut Lembah Suci!”

Arkan menatap puncak lereng yang kini telah berubah menjadi lautan bara yang bergerak turun. Di balik kabut asap hitam yang mulai bergulung tebal seperti awan badai, ia melihat bayangan-bayangan kecil berlarian tak tentu arah. Burung-burung rangkong dan elang bondol beterbangan panik meninggalkan sarang di pucuk dahan, berteriak parau menembus langit yang kian menghitam. Api adalah monster buta yang menelan apa saja tanpa ampun—tetapi di dada Arkan, ketakutan yang sempat menyergap perlahan ditempa menjadi tekad yang membatu. Ia menoleh pada Guntara, meletakkan telapak tangannya yang kasar di atas dahi lebar harimau itu, dan merasakan detak nadi mereka berdua berdenyut dalam satu irama yang sama.

Di kejauhan, tepat di punggung tebing batu tempat botol-botol molotov terakhir dilemparkan, siluet Durgala sempat terlihat berdiri sesaat di samping mobil pikap tuanya sebelum menghilang ke balik tikungan jalur balak utara. Pria itu sengaja memilih pukul setengah enam sore—saat pergantian angin lembah menuju malam menciptakan pusaran udara kering yang paling ganas di sepanjang lereng Hulu Sungai Mas. Ia tahu betul bahwa pos bantuan kehutanan terdekat berjarak tiga jam perjalanan kaki melintasi jeram berbatu, sehingga Arkan dan Sandra tidak akan mungkin mendapatkan bantuan helikopter pemadam maupun regu tambahan sebelum gelap turun menyergap belantara.

“Dia ingin mengubur kita hidup-hidup bersama seluruh saksi mata kejahatannya di lembah ini,” gumam Arkan sambil mengencangkan ikatan sabuk parang di pinggangnya. Pandangannya menyapu garis lereng dari barat ke timur, membaca kontur tanah lempung berpasir dan cekungan air sungai yang berkilau redup di bawah langit jingga. “Tetapi Durgala lupa satu hal, Sandra. Hutan ini bukan sekadar tumpukan kayu kering yang pasrah menunggu giliran menjadi abu. Selama air Hulu Sungai Mas masih mengalir di bawah kaki kita, dan selama kita tidak menyerah pada kepanikan yang dia tebarkan, lembah ini masih punya taring untuk melawan.”

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian II: Kepungan Asap Maut dan Jeritan Rimba

Gelombang karbon monoksida dan kepanikan kawanan satwa yang terjebak di cekungan bara (17.38 WIB · Koridor Hutan Sekunder & Cekungan Ngarai Dangkal)

─── 🐅 ───

Belum sempat dinding api utama menyentuh pertengahan lereng, gelombang bahaya pertama telah lebih dulu tiba: kepungan asap maut. Pembakaran semak belukar setengah basah, rotan kering, dan serasah dedaunan tebal menghasilkan gumpalan asap kelabu kehitaman yang pekat luar biasa. Alih-alih membubung lurus ke angkasa, tekanan udara sore menjelang malam yang berat di atas lembah memaksa gumpalan asap beracun karbon monoksida itu merayap rendah menyusuri tanah, menyusup ke sela-sela batang pepohonan seperti banjir lumpur tak kasatmata yang mencekik setiap makhluk bernyawa.

Udara panas seketika membakar paru-paru. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan kaca yang dicelupkan ke dalam bara tungku. Mata Arkan mulai berair perih, sementara tenggorokannya mengering hanya dalam beberapa kali hela napas. Jarak pandang yang semula mencapai ratusan meter kini menyempit drastis menjadi kurang dari lima belas langkah. Di dalam lorong asap yang pengap dan berbau belerang organik itu, dunia seolah kehilangan orientasi arah; atas dan bawah lebur dalam pusaran abu menyala yang berjatuhan bagai salju neraka.

Lalu terdengarlah suara itu—suara yang membuat jantung Arkan serasa diiris sembilu tajam. Dari arah rumpun bambu dan belukar rotan di sisi kanan lereng, pecah jeritan melengking anak-anak monyet ekor panjang yang terpisah dari kelompoknya. Mereka bergelantungan panik di dahan-dahan rendah yang mulai dijilati lidah api kecil, terlalu takut untuk melompat turun karena tanah di bawah telah dipenuhi kepulan asap pekat, namun terlalu lemah untuk memanjat melawan arus angin panas yang mengempaskan tubuh mungil mereka.

Tak jauh dari sana, di balik cekungan tanah berbatu yang berbatasan dengan semak gelagah, terdengar lenguhan nyaring seekor anak tapir bersabrang hitam-putih yang terperosok di antara akar-akar pohon tumbang. Kulit tubuhnya yang masih menyisakan corak garis-garis tutul masa kecil tampak gemetar hebat. Di dekatnya, dua ekor anak beruang madu meringkuk saling memeluk di balik tunggul kayu lapuk, mengeluarkan rintihan serak seperti tangisan bayi manusia yang kebingungan mencari perlindungan. Kawanan rusa sambar yang biasanya begitu tangkas melompati tebing kini berlarian berputar-putar dalam kepanikan buta, sebagian hampir menerjang balik ke arah dinding api karena indra penciuman mereka lumpuh total oleh kepungan asap monoksida.

Hati Arkan tersayat menyaksikan pemandangan itu. Bagi para anggota sindikat Durgala yang kini sudah berada jauh di balik bukit dengan tawa puas mereka, hutan ini hanyalah deretan angka rupiah di atas kertas transaksi gelap, dan satwa-satwa di dalamnya hanyalah komoditas atau penghalang belaka. Namun bagi Arkan yang tumbuh besar mendengar dongeng kakeknya tentang roh penjaga hulu sungai, setiap helai bulu tapir, setiap detak jantung anak beruang, dan setiap urat kayu pohon keruing adalah saudara kandung yang berbagi napas di atas bumi yang sama.

“Kita tidak bisa memilih salah satu, Sandra!” teriak Arkan di sela suara gemuruh pohon tumbang yang terbakar di punggung bukit. Suaranya parau, dadanya naik-turun menahan sesak. “Kalau kita hanya fokus mengevakuasi satwa ke seberang sungai tanpa memotong jalur rambat api di lereng bawah, api akan tetap menyeberang dan membakar Lembah Suci tempat mereka mengungsi! Tapi kalau kita hanya menggali sekat bakar di sini, anak-anak tapir, beruang, dan kawanan rusa itu akan mati lemas terkurung asap sebelum api menyentuh mereka!”

Sandra menyeka wajahnya yang hitam oleh jelaga dengan lengan kemeja lapangannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah lekukan Sungai Mas yang membelah kaki lereng dengan hamparan hutan primer di seberang. Di titik itu, sungai membentuk ngarai dangkal berbatu kerikil selebar dua puluh meter dengan arus setinggi lutut orang dewasa—satu-satunya jalur penyeberangan alami yang cukup landai bagi satwa-satwa darat berukuran kecil maupun besar. Tepat seratus meter di belakang ngarai dangkal itulah berdiri megah Pohon Keruing Pusaka, raksasa rimba berusia ratusan tahun dengan banir akar setinggi dua kali tubuh manusia yang menjaga pintu masuk Lembah Suci.

“Kalau begitu kita bagi medan tempur ini menjadi dua lapis yang saling mengunci!” sahut Sandra cepat, naluri taktisnya bekerja jernih di bawah tekanan kritis. Ia menunjuk ke arah sabuk semak kering selebar ratusan meter yang membentang persis di depan tebing ngarai sungai. “Aku akan berjaga di bibir ngarai sungai dangkal untuk mengarahkan kawanan yang sudah sampai di tepi air agar langsung menyeberang menuju zona basah di balik tebing. Tapi seseorang harus membuka sekat bakar selebar minimal sepuluh meter di sabuk semak ini, dan seseorang lagi harus masuk ke kantong-kantong asap untuk menggiring satwa yang membeku ketakutan!”

Arkan menoleh ke bawah. Di tengah kepungan asap yang kian menebal dan percikan bunga api yang mulai berjatuhan di atas batu-batu sungai, sepasang mata kuning keemasan menatapnya tanpa berkedip. Itu mata Guntara.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈

Lihat selengkapnya