GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Ujian Kesabaran di Celah Batuan Hitam

Ujian Kesabaran di Celah Batuan Hitam

Penyusupan malam tanpa cahaya di sarang terakhir sang bos

─━─━─「✦」─━─━─

### Kutipan Narasi Puitis & Sastra

> “Kesabaran bukanlah kelemahan orang yang ragu; kesabaran adalah ketajaman pisau yang disimpan di dalam sarung hingga waktu yang tepat tiba. Di celah batuan hitam ini, kesabaran menjadi batas tipis antara hidup dan mati.”

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian I: Pintu Masuk Palung Gulita

*Malam Tanpa Bulan di Ngarai Basal dan Resonansi 95%*

─── 🐅 ───

Jelaga sisa petaka kebakaran sore tadi telah membeku menjadi debu kelabu yang dingin. Bau hangus damar hutan tropis bercampur dengan hawa asam batuan vulkanik tua, merayap ke lubang hidung bagai aroma liang lahat yang baru digali. Di hadapan Arkan, tebing raksasa Celah Batuan Hitam—Black Gorge—berdiri angkuh laksana dua bilah pedang hitam raksasa yang dihunjamkan langsung dari langit ke perut bumi. Dinding-dinding basal vertikal setinggi lima puluh meter itu tampak legam berkilat di bawah selimut malam tanpa rembulan, menelan segala bentuk cahaya hingga kegelapan di dalam ngarai terasa padat, seolah-olah udara itu sendiri dapat diraba dengan ujung jemari.

Tepat pukul 00.00 WIB. Alam semesta seakan menahan napasnya. Tidak ada desau dedaunan, tidak ada nyanyian jangkrik rimba, apalagi derit katak pohon yang biasa menyemarakkan rimba Sumatera. Sunyi yang tercipta di mulut palung ini bukanlah kesunyian yang menenangkan, melainkan keheningan beracun yang membekukan sumsum tulang belakang—kesenyapan sebuah ladang pembantaian yang sedang menanti mangsa pertamanya.

Di sisi kiri Arkan, sesosok bayangan besar bergaris-garis jingga tua bergerak tanpa getaran setitik pun. Guntara. Harimau loreng berbobot lebih dari dua ratus kilogram itu tidak sekadar mendampingi; ia adalah perpanjangan dari kesadaran Arkan. Pada tingkat ikatan batin sembilan puluh lima persen—sebuah fase keselarasan mutlak yang para tetua rimba sebut sebagai Tahap Keselarasan Mutlak (Transcendence)—batas antara jiwa manusia dan insting raja rimba telah melebur menjadi satu aliran kesadaran yang hening.

Arkan tidak perlu menoleh. Di dalam ruang batinnya, ia dapat merasakan denyut nadi Guntara yang teratur, lambat, dan mantap laksana detak jam kuno di ruang kedap suara: tiga puluh delapan ketukan per menit. Arkan menyesuaikan tarikan napasnya sendiri, meredakan debar jantungnya dari delapan puluh ketukan turun perlahan ke empat puluh ketukan per menit. Kelenjar adrenalinnya ditekan secara sadar melalui latihan pernapasan prana rimba yang telah ia asah selama bertahun-tahun.

"Kita masuk tanpa setitik pun cahaya, kawan," bisik Arkan di dalam hatinya. Bukan melalui pita suara, melainkan getaran gelombang pikiran yang terpantul langsung ke saraf penerima Guntara.

Sang harimau membalas dengan dengusan halus di pangkal tenggorokan—suara infrasonik berfrekuensi tujuh belas hertz yang tak mungkin ditangkap oleh telinga manusia biasa, namun menggetarkan tulang iga Arkan sebagai isyarat kepatuhan sempurna. Pupil mata Guntara telah melebar maksimal, memanfaatkan partikel foton bintang yang paling samar untuk memetakan setiap retakan mikro pada permukaan cadas basal di hadapan mereka.

Durgala ada di ujung labirin ini. Sang jagal rimba, otak di balik sindikat pembalakan liar, perburuan gading dan taring, serta pembakaran kawasan konservasi yang hampir merenggut nyawa seluruh kawanan satwa Bukit Barisan. Setelah api di lembah bawah padam dipukul hujan gerimis tengah malam, jejak ban kendaraan taktis dan tetesan oli dari mesin genset Durgala mengarah pasti ke celah sempit ini. Ini adalah benteng terakhirnya. Sarang tikus berduri yang dipenuhi amunisi sisa perang dan manusia-manusia putus asa yang bersenjata laras panjang.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian II: Anatomi Jebakan dan Jejak Getah Damar

Kawat Pemicu, Getah Reflektif, dan Taktik Tanpa Cahaya

─── 🐅 ───

Langkah pertama menembus celah ngarai menuntut kepatuhan mutlak pada hukum gravitasi dan gesekan. Dasar ngarai tidak rata; lantai cadas dipenuhi serpihan batu basal yang tajam dan serakan kerikil sungai purba yang kering. Di kedua sisi, lorong menyempit hingga hanya menyisakan lebar satu setengah meter. Satu gerakan ceroboh yang menggesek kain kanvas celana rimba pada dinding batu akan memicu gema frekuensi tinggi yang memantul di antara dinding basal hingga ratusan meter ke depan.

Tiba-tiba, otot belikat kiri Guntara mengencang kaku laksana lempengan baja cor. Kaki depan kanannya menggantung di udara, terhenti tepat satu inci sebelum menyentuh tanah. Sang harimau tidak bergerak, bulu di sepanjang punggungnya meremang lembut.

Arkan seketika merendahkan tubuhnya, lutut kanannya menyentuh tanah secara perlahan dengan tumpuan berat pada telapak kaki bagian luar untuk meredam bunyi gesekan sendi. Hubungan batin mereka mengirimkan sinyal visual berupa kilatan keemasan samar di pelupuk mata Arkan: ada ancaman tersembunyi setinggi betis.

Durgala bukan amatir. Pria itu adalah mantan instruktur gerilya bayaran yang memahami psikologi penyusup malam. Dalam kegelapan mutlak, insting alami manusia adalah meraba dinding atau melangkah dengan menyapu kaki ke depan. Justru kebiasaan itulah yang dijadikan umpan maut.

Tanpa menyalakan senter maupun lentera kecil—karena seberkas cahaya seukuran jarum pentol pun akan terlihat bagai suar di ngarai tertutup ini—Arkan merogoh saku rompi taktisnya. Jemarinya yang terlatih mengeluarkan selembar daun kering pohon kruing yang sebelumnya telah ia lumuri getah damar mata kucing segar yang dicampur serbuk lumut fosfor alami dari lereng lembah basah.

Arkan memegang tangkai daun itu dengan dua jari, lalu mengayunkannya sangat perlahan di atas permukaan tanah setinggi sepuluh sentimeter, memotong jalur yang hendak dilalui. Daun bergetah itu berfungsi laksana sisir penangkap tak terlihat.

Srekk... sentuhan seringan sayap nyamuk terasa di ujung tangkai daun.

Ujung getah damar menangkap seutas serat tipis. Di bawah kilauan bintang yang menembus celah sempit di puncak ngarai lima puluh meter di atas kepala mereka, getah fosfor itu membiaskan garis tipis berkilat dingin: kawat pemicu baja berdiameter nol koma dua milimeter. Tali kawat maut itu terentang menyilang dari rekahan batu di kiri ke sebuah pasak kayu pasak di sela batu kanan.

Arkan menahan napasnya. Mengikuti alur kawat dengan kepekaan jemari tanpa sarung tangan, ia menemukan ujung kawat tertaut pada cincin picu granat fragmentasi M67 yang diselipkan ke dalam lubang cadas setinggi lutut. Pin pengamannya telah dicabut sebagian; tarikan seringan dua ratus gram saja sudah cukup untuk melepaskan pelatuk pegas, membakar sumbu tunda empat detik, dan meledakkan lima ratus serpihan baja panas di dalam lorong sempit berdinding basal ini. Jika itu meledak, bukan hanya serpihannya yang membunuh, melainkan gelombang kejut yang terkonsentrasi di celah sempit akan meremukkan paru-paru dan gendang telinga mereka seketika.

Dengan kehati-hatian seorang ahli bedah saraf, Arkan mengeluarkan kawat penjepit baja anti-magnetik dari kerah jaketnya. Matanya yang telah beradaptasi penuh dengan kegelapan memandu kedua tangannya. Ia menyelipkan kawat pengunci ke lubang pasak granat, melipat ujungnya untuk menahan tuas pegas agar tidak terlepas, lalu dengan gunting kuku taktis memotong kawat pemicu tepat di titik simpul.

Keringat dingin mengalir di pelipis Arkan, menetes ke bibirnya dengan rasa asin yang getir. Namun ia tidak menyekanya. Gerakan tangan menyeka keringat dapat menimbulkan suara gesekan lengan baju. Ia membiarkan tetes keringat itu jatuh bebas menimpa permukaan daun kering di tangannya.

Arkan menepuk pelan panggul Guntara dua kali dengan ujung jari telunjuk. Aman. Keduanya melangkah melewati bangkai jebakan pertama tanpa bersuara, meninggalkan maut yang telah dijinakkan dalam keheningan.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian III: Melangkah di Atas Belati

Scree Runtuh, Bibir Jurang Tanpa Dasar, dan Keteguhan Fisik Harimau

─── 🐅 ───

Lihat selengkapnya