GUNTARA, Fajar di Puncak Hening

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Fajar Harmoni di Bukit Barisan

Fajar Harmoni di Bukit Barisan

Perpisahan terindah dan keabadian sang penjaga

─━─━─「✦」─━─━─

### Kutipan Narasi Puitis & Sastra

Guntara berbalik perlahan, melangkah anggun ke balik kabut fajar yang berkilau emas. Di batas rimbun dedaunan, ia menoleh sesaat, mengeluarkan auman panjang yang merdu—bukan auman kemarahan, melainkan kidung terima kasih kepada manusia yang memiliki nurani. Lalu, raja rimba itu menyatu dengan kabut abadi Bukit Barisan. Arkan tersenyum; ia tahu, mereka tidak pernah benar-benar berpisah. Karena di setiap desah angin rimba, di setiap tetes embun yang jatuh, persahabatan mereka akan hidup selamanya.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian I: Menutup Bilur di Batas Lembah Kabut

─── 🐅 ───

Malam di punggung Bukit Barisan belum sepenuhnya menyerah kepada pagi, namun aroma udara telah berubah perlahan. Bau lumut basah yang pekat mulai berbaur dengan embun dingin yang menetes dari pucuk-pucuk daun medang, damar mata kucing, dan meranti raksasa yang berusia ratusan tahun. Di sebuah ceruk batu andesit yang terlindung dari sergapan angin malam, Arkan berlutut di atas lutut kanannya. Jemarinya yang kasar oleh gesekan kulit kayu dan bekas getah damar bergerak dengan kehati-hatian luar biasa, menyentuh tepi serat kain belacu tua yang melingkari belikat kanan sang raja rimba.

Guntara tidak bergeming sedikit pun. Kucing besar berbobot lebih dari seratus tiga puluh kilogram itu hanya mendengus halus—sebuah dengusan lembut berfrekuensi rendah yang menggetarkan rongga dada pemuda di hadapannya. Hembusan napas Guntara terasa hangat di kulit Arkan, meniupkan aroma khas tanah humus hutan perawan dan dedaunan basah yang telah terfermentasi oleh sang waktu. Tidak ada kegelisahan, tidak ada kilatan ancaman pada sepasang mata amber keemasan yang menatap lurus ke dalam pupil mata Arkan. Selama berminggu-minggu yang melelahkan di ceruk gua pengasingan ini, tatkala rasa sakit akibat luka jerat sling baja pemburu nyaris merenggut nyawa binatang agung itu, sebuah kepercayaan mutlak yang melampaui batas bahasa biologis telah tertempa kukuh di antara keduanya.

Dengan gerakan mantap namun seringan kepakan sayap ngengat malam, Arkan mengurai simpul terakhir ramuan obat. Lembaran serat daun sirih hutan yang ditumbuk bersama getah jernang merah menyala, akar pasak bumi, dan parutan kunyit liar terlepas satu demi satu dari permukaan kulit belikat Guntara. Arkan menahan napasnya sejenak, lalu sebuah hembusan nafas lega yang teramat panjang meluncur dari bibirnya yang kering merekah. Luka robek menganga sedalam tiga jari yang dahulu menampakkan serat otot merah kehitaman yang membusuk dan retakan putih tulang belikat kini telah menutup sempurna. Jaringan parut baru berwarna kelabu keperakan membentuk garis samar di antara corak loreng hitam pekat dan jingga tembaga—sebuah tanda kehormatan abadi, bukti bahwa sang penguasa rimba telah memenangkan pertarungan melawan kekejaman jerat baja manusia.

Kenangan berdarah itu kembali melintas bagai kilatan petir di benak Arkan, membakar ingatan yang takkan pernah pudar seumur hidupnya. Tiga puluh hari yang lalu, di dasar Lembah Berlumut yang pengap dan jarang tersentuh sinar matahari, ia menemukan Guntara dalam kondisi sekarat. Kawat sling baja baja pilin yang dipasang oleh sindikat pemburu liar telah melilit belikat sang harimau selama berhari-hari, memotong daging hidup-hidup hingga ke batas daya tahan makhluk ciptaan Tuhan. Raungan Guntara kala itu bukanlah auman wibawa raja rimba yang menuntut ketundukan, melainkan jeritan keputusasaan makhluk teraniaya yang telah pasrah menanti ajal menjemput atau menanti moncong bedil para penjarah hutan datang merenggut kulitnya.

Kala itu, hanya berbekal sebilah parang kecil pemotong kawat, sebuntal ramuan obat etnobotani warisan kakeknya, dan keberanian gila yang lahir dari rasa malu mendalam sebagai sesama manusia, Arkan merayap mendekati maut. Ia mengingat bagaimana ia menatap sepasang mata harimau itu di tengah kegelapan lembah yang becek, berbicara dengan bahasa bisu yang melampaui logika kata-kata: 'Tenanglah, Saudaraku. Aku datang bukan untuk mengambil kulitmu atau menjarah taringmu. Aku datang untuk mengembalikan kehormatanmu sebagai raja di rumahmu sendiri.'

Malam demi malam dilalui Arkan tanpa tidur nyenyak di sisi binatang buas yang terluka itu. Ia membersihkan nanah yang berbau anyir, menepis lalat bangkai yang mengerubung, membebatkan pasta daun obat yang dingin, dan meneteskan air rebusan akar pegagan serta madu hutan ke tenggorokan sang harimau yang kehausan. Pada malam-malam penuh demam, Guntara kerap mengigau dalam erangan rendah yang memilukan; di saat-saat itulah Arkan mendekap tubuh besar itu dari samping, membiarkan kehangatan tubuh manusianya menahan dinginnya gigilan hipotermia yang mengancam nyawa sang pemangsa. Di titik nadir itulah, rasa takut manusiawi terhadap taring dan cakar lebur seutuhnya, berganti menjadi ikatan persaudaraan jiwa yang tak masuk akal bagi dunia luar yang memandang rimba sebatas komoditas kayu gelondongan dan pundi-pundi rupiah.

Kini, di ambang fajar yang suci, mukjizat kesembuhan itu telah rampung tanpa cela. Arkan mengusap lembut bilur perak di bahu Guntara. Harimau itu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, membiarkan jemari manusia itu merasakan kehangatan otot leher dan pundaknya yang padat berisi. Otot-otot yang dulu terkoyak dan lumpuh kini berdenyut penuh tenaga purba yang perkasa. Waktu perlindungan di balik ceruk batu telah usai. Kaki bukit yang sunyi ini bukan lagi tempat persembunyian yang aman, melainkan titik tolak bagi sebuah kepulangan yang agung menuju takhta rimba yang sesungguhnya.

'Sudah sembuh, Guntara,' bisik Arkan lirih, nyaris teredam oleh desau dedaunan di atas kanopi hutan. Suaranya bergetar oleh haru yang tertahan di kerongkongan. 'Tubuhmu telah pulih seutuhnya. Dan belantara terdalam telah memanggil namamu sejak bintang fajar pertama terbit di ufuk timur. Saatnya engkau pulang ke rumahmu.'

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈


## Bagian II: Cakrawala Puncak Hening dan Samudra Awan

─── 🐅 ───

Mereka melangkah bersama menyusuri jalan setapak purba yang membelah punggungan batu kapur dan lumut montane. Tidak ada tali kekang di leher sang harimau, tidak ada rantai besi yang menyeret di tanah, dan tidak ada sangkar pembatas yang menghalangi gerak langkahnya. Guntara berjalan berdampingan dengan Arkan, menyelaraskan langkah kakinya yang berat namun tanpa suara dengan derap sepatu bot sang Jagawana. Bantalan telapak kaki harimau itu menyentuh tanah basah laksana bayangan yang melayang; setiap gerak langkahnya memancarkan keseimbangan sempurna yang telah disempurnakan oleh evolusi jutaan tahun di belantara kepulauan Sunda.

Udara malam yang semula pekat dan pengap di lembah bawah berangsur-angsur menipis, digantikan oleh hawa dingin pegunungan yang menusuk hingga ke sumsum tulang saat mereka merayap naik menuju ketinggian dua ribu meter di atas permukaan laut. Tumbuhan paku pohon raksasa berganti menjadi perdu kerdil berlumut tebal, dan bebatuan andesit berlumut kerak abu-abu mendominasi pemandangan di kiri dan kanan jalan setapak. Angin ketinggian mulai berbisik, menyapu aroma pinus sumatra dan getah damar ke wajah mereka berdua.

Lihat selengkapnya