Gunung Wingit

OvioviO
Chapter #2

Konten Viral #2


Mereka telah melewati batas antara Pos Pendakian dan kawasan hutan yang sebenarnya, meninggalkan kekacauan basecamp (dan anak kecil yang kecewa karena ponsel Santi retak) di belakang. Udara di sini terasa lebih dingin, lembap, dan dipenuhi aroma tanah basah bercampur dedaunan gugur. Jalur setapak yang mereka lalui kini jauh lebih sempit, memaksa kelima pendaki itu berjalan dalam satu baris, seperti iring-iringan bebek yang sedang dalam misi bunuh diri.

Bagus, yang masih kesal karena drone-nya gagal diuji coba, berjalan dengan langkah kaki yang terlalu bersemangat. Ransel 80 liternya, yang kini membawa replika pedang samurai mainan, pistol air, dan obeng set lengkap, membuatnya terlihat seperti pedagang kaki lima yang tersesat di hutan.

“Oke, guys,” Bagus memulai, suaranya dipenuhi otoritas yang tidak pantas. “Kita sekarang berada di Jalur ‘Selo Kencono’. Menurut literatur pendakian yang gue baca di forum online yang sudah mati, jalur ini konon adalah jalur meditasi para leluhur.”

“Forum online yang sudah mati?” tanya Rina, yang berjalan di belakangnya sambil memegang peta. “Itu sama saja dengan merujuk pada pesan di botol yang hanyut di laut, Bagus. Kita ikuti saja rambu kuning itu.”

Rambu kuning yang dimaksud Rina adalah sepotong kain lusuh yang terikat pada dahan pohon, nyaris tak terlihat.

Di belakang Rina, Joko mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, padahal mereka baru berjalan sekitar satu jam. Beban terberatnya bukan terletak pada berat ranselnya, melainkan pada keharusan untuk menjaga microwavable rendang paru dan sup buntut bekunya agar tetap aesthetic dan tidak terguncang.

“Gue harus istirahat sebentar,” rengek Joko. “Lutut gue bilang, gue sudah berjalan selama 40 tahun. Dan perut gue bilang, sudah waktunya Sarapan Kedua.”

Santi, yang berjalan di belakang Joko, langsung melihat peluang konten.

“Wait! Hold on! Joko, jangan bergerak!” Santi segera menyalakan kamera ponselnya, mengabaikan retakan di layarnya. “Guys, lihat nih! ‘Reaksi Pendaki Overweight pada Trek Menantang di Gunung Wingit!’ Vibe-nya sangat real!”

Joko mendengus, tetapi karena ia juga ingin tampil di vlog, ia memaksakan diri memasang ekspresi sangat menderita, sambil memeluk erat ranselnya. “Gue ga overweight. Gue Cuma nyimpen cadangan kalori darurat yang gedhe banget,” koreksinya.

Tio, yang berjalan paling belakang dengan tempo yang sangat santai, tiba-tiba berhenti di samping sebuah batu besar yang dipenuhi lumut hijau.

“Batunya bilang, gue harus duduk sebentar dan mendengarkan keluh kesahnya,” kata Tio, lalu dengan santai ia duduk di atas batu itu. “Dia bilang, dia lelah diinjak-injak oleh orang-orang yang hanya memikirkan selfie dan rendang.”

Semua orang terdiam, termasuk Santi yang baru saja akan mengambil foto dirinya sendiri dengan latar belakang Joko yang terengah-engah.

“Tio, bisa ga lo berhenti bicara dengan benda mati selama sepuluh menit aja?” pinta Rina. “Itu membuat suasana horor non-stop.”

Bagus, melihat adanya peluang untuk menjadi pahlawan yang bisa menjelaskan segalanya, segera turun tangan.

“Ini semua karena energi alam, Rina!” Bagus berteori. “Kita memasuki zona di mana elemen-elemen primitif berinteraksi dengan gelombang Wi-Fi yang tersesat! Itu sebabnya benda mati menjadi hidup, dan Joko merasa lapar setiap 15 menit!”

Tepat setelah Bagus selesai berbicara, Santi melihat sebuah penanda jalan yang terlihat baru. Sebuah plakat kayu kecil dengan ukiran bunga yang rapi.

“Wow, ini baru! Vibe-nya klasik banget!” Santi memuji, segera mengambil ponselnya untuk berfoto. “Gue akan caption ini: ‘Keindahan yang tersembunyi di kedalaman hutan mistis!’”

Rina teringat peringatan dari Pak Kasno: “Jangan pernah memuji keindahan jalur setelah matahari terbenam.” Meskipun hari masih pagi, Rina merasakan firasat buruk.

“San, jangan terlalu memuji. Ingat kata penjaga pos,” bisik Rina memperingatkan.

“Ah, Rin, itu hanya takhayul untuk membuat pendaki baru takut!” Santi menepisnya, lalu berpose close-up dengan plakat itu. “Gue udah upload! Perfect!”

Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar suara krek! Yang keras, seperti kayu yang dipatahkan paksa. Sebuah bayangan melintas cepat di antara pepohonan. Lalu, suara itu menghilang, digantikan oleh keheningan yang mencekam.

Lihat selengkapnya