Pelarian dari Satpol PP Gunung (yang keberadaannya masih 50% mitos dan 50% ketakutan Bagus akan denda) jauh lebih melelahkan daripada pendakian itu sendiri. Mereka menyusup ke jalur sempit yang hanya dibuka oleh Tio, berdasarkan saran dari pohon beringin yang terlalu bosan.
Bagus, dengan ranselnya yang kebesaran, tersangkut tiga kali di akar pohon yang melintang, membuat Rina harus menariknya keluar seperti menarik gabah dari karung. Santi sesekali berteriak kesal karena dahan pohon merusak make-up waterproof mahalnya, sementara ia masih mencoba merekam lari-lari panik itu sebagai “konten eksklusif.”
“Cepat! Cepat! Kita tidak boleh tertangkap! Mereka bakal menyita drone-gue sebagai barang bukti pelanggaran estetika!” Bagus terengah-engah, meskipun ia berlari di belakang Rina.
“Mereka akan menyita microwave rendang gue!” seru Joko, yang tiba-tiba menemukan energi super. Ia berlari dengan kecepatan tak terduga, didorong oleh ketakutan kehilangan bekal favoritnya.
Setelah berlari tanpa henti selama hampir satu jam, mereka sampai di sebuah tanah lapang kecil, tersembunyi di balik barisan semak paku-pakuan yang tinggi. Sebuah tempat yang sempurna untuk bersembunyi.
“Pohon ini bilang, kita bakal aman di sini, setidaknya sampai tengah malam,” kata Tio, mengusap batang semak paku-pakuan itu.
Rina langsung memeriksa peta dan altimeter-nya. “Kita sudah jauh dari jalur resmi. Kita harus mendirikan tenda sekarang. Matahari hampir terbenam.”
Mendengar kata mendirikan tenda, Bagus kembali menunjukkan otoritasnya.
“Serahin ke gue! Ini adalah ‘Tenda Anti-Gorengan’ buatanku!” Bagus mengeluarkan gulungan kain berwarna army yang aneh dan beberapa tiang yang terlihat terlalu tipis. “Tenda ini menggunakan sistem ventilasi anti-bau masakan dan anti-ghost detection!”
Tentu saja, mendirikan tenda Bagus adalah bencana. Tiang-tiangnya tidak pas, ritsletingnya macet, dan kainnya terlalu kecil untuk lima orang ditambah bekal Joko.
“Tenda apa ini, Bagus? Kenapa groundsheet-nya terlihat seperti taplak meja bekas?” protes Rina sambil mencoba menarik salah satu tiang.
“Itu adalah Groundsheet Serat Alami Pilihan!” Bagus membela diri. “Dan ini adalah tenda komunal. Kita akan saling berbagi ruang dan kehangatan!”
Joko, yang sudah kehabisan energi supernya, hanya peduli satu hal. “Gue ga peduli tenda apa ini. Gue Cuma butuh tempat buat manasin Rendang Anti-Sitanya!”
Santi, melihat chaos persiapan tenda yang luar biasa, segera mengaktifkan fitur time-lapse di ponselnya.
Mereka akhirnya berhasil mendirikan tenda—sebuah bangunan miring yang terlihat seperti disengat tawon. Joko, tanpa membuang waktu, mengeluarkan microwave portabelnya dan memasukkannya ke sudut tenda.
“Lo serius bakal manasin makanan di dalam tenda?” tanya Rina, syok.
“Iya dong! Bau rendang bakal jadi aroma terapi terbaik melawan energi negatif gunung!” Joko menyalakannya. Suara beep microwave yang berbunyi nyaring di tengah hutan yang sunyi terdengar seperti pengumuman perang.
Malam mulai turun. Hutan di sekitar mereka menjadi gelap dengan cepat, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar dan lampu ring light Santi yang mencolok. Meskipun baterainya lemah, Santi masih bersikeras untuk menyala di dalam tenda demi “cahaya malam yang flawless.”
“Ingat pesan Pak Kasno,” bisik Rina, sambil menatap keluar tenda. “Jangan pernah memuji keindahan jalur setelah matahari terbenam.”
“Jalur apa yang kita puji? Dan jangan terlalu overthinking dengan setiap hal!” Bagus mendengus sambil mengoleskan krim anti-nyamuk khusus di lengannya. “Kita bahkan tidak tahu di mana jalur kita sekarang.”
“Tepat,” ujar Tio, yang sedang mengatur posisi tidur ranselnya. “Dan jam tanganku bilang, sekarang adalah waktu di mana pohon-pohon di luar sana mulai menyusun strategi bullying.”
Tepat pada momen ketegangan itu, terdengar suara krek! Dari luar. Suara ranting patah. Bukan satu. Tapi banyak. Dan bunyinya semakin cepat.
“Tap, tap, tap, tap, tap, tap!”
Suara langkah kaki itu sangat banyak, cepat, dan terorganisir. Lima orang pendaki di dalam tenda itu terdiam, saling bertukar pandang. Itu terdengar seperti rombongan besar, setidaknya lima puluh pasang kaki yang berlari kencang.
“Satpol PP?” bisik Santi, wajahnya kini benar-benar tanpa filter.
“Tidak mungkin,” balas Bagus, suaranya bergetar. “Satpol PP tidak akan seramai ini. Ini... ini pasti Hantu Laskar Pendaki!”
Joko, yang baru saja hendak memasukkan suapan rendang pertama ke mulutnya, menjatuhkan sendoknya. Ia tidak takut hantu, tapi ia takut keramaian yang merusak momen makan.
Suara langkah kaki itu kini mengelilingi tenda mereka, seolah-olah mereka terkepung oleh sekumpulan makhluk yang berlarilari dengan ritme yang gila.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, berputar mengelilingi Tenda Anti-Gorengan Bagus dengan kecepatan yang menakutkan. Suara tap, tap, tap yang sinkron itu menimbulkan getaran samar di tanah, membuat botol air mineral di dalam tenda berdansa pelan.
Di dalam tenda yang sempit itu, kelima pendaki mematung.
Joko adalah yang pertama bereaksi, tetapi reaksi Joko bisa diprediksi. Ia merangkak cepat, menarik microwave portabelnya yang masih hangat dan menyembunyikannya di bawah bantal tidurnya.
“Mereka mau rendangku! Aku tahu! Hantu-hantu ini adalah Food Vlogger dari dimensi lain!” bisik Joko panik.
Bagus, si leader sok tahu, akhirnya merasa ini adalah momen yang tepat untuk menggunakan salah satu “teknologi tak terkalahkan” miliknya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ranselnya dan mengeluarkan senter LED super besar yang ia yakini mampu menembus kabut tebal sekalipun.
“Tenang! Gue bakal menyinari mereka dengan ‘Cahaya Pembasmi Aura Negatif’!” Bagus mengarahkan senter ke pintu tenda.
Rina menahannya. “Bagus, jangan! Itu bakal memprovokasi mereka!”
“Terlambat, Rin! Kita adalah pemburu, bukan yang diburu!” Bagus menekan tombolnya.
Cahaya senter itu menyala dengan intensitas yang membutakan. Bagus membuka ritsleting tenda sedikit, mengarahkan sinar itu ke luar.
Cahaya itu menyapu tanah lapang kecil di depan tenda. Selama sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, semua yang ada di dalam tenda menahan napas, menunggu penampakan Hantu Laskar Pendaki atau Satpol PP Gunung.