Gunung Wingit

OvioviO
Chapter #6

Kumpulan Monyet #6

Keputusan untuk turun dari Menara Air yang nyaris runtuh terbukti benar secara fisik, namun secara mental, para pendaki ini justru memasuki wilayah yang lebih tidak masuk akal. Setelah berhasil menghindari kejaran tim pembongkaran yang untungnya lebih sibuk dengan baut-baut raksasa daripada mengejar sekelompok pendaki, Bagus dan kawan-kawan kini terdampar di sebuah lembah yang tidak ada dalam peta Rina.

Lembah itu disebut Lembah Cekikikan. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Saat mereka melangkah masuk, suara angin yang melewati sela-sela daun tidak terdengar seperti desau biasa, melainkan seperti suara orang yang sedang menahan tawa.

“Kalian dengar itu?” bisik Rina, tangannya memegang kompas yang kini jarumnya berputar seperti baling-baling helikopter. “Hutan ini... suaranya aneh.”

“Itu hanya efek angin dari tekanan udara rendah, Rina,” sahut Bagus, meskipun ia sendiri memegang erat Vakum Cleaner Portabel-nya seolah itu adalah jimat pelindung. “Atau mungkin ini adalah suara alam yang merayakan kedatangan teknologi kita!”

Santi, yang sudah tidak peduli lagi dengan sinyal GPS yang mati, mencoba mengambil foto pohon-pohon di sekitar mereka. Namun, setiap kali ia menekan tombol shutter, layar ponselnya hanya menampilkan gambar blur yang aneh.

“Pohon-pohon ini tidak mau difoto!” keluh Santi. “Lihat deh, batangnya punya guratan yang mirip banget sama wajah orang lagi ketawa mengejek. So disrespectful!”

Joko, yang perutnya mulai keroncongan lagi, tidak peduli pada wajah pohon. Ia lebih peduli pada bau yang menyengat. “Bau apa ini? Seperti... buah yang difermentasi di dalam kaus kaki basah?”

Tiba-tiba, dari arah atas, sebuah benda lunak dan berair mendarat tepat di atas ransel 80 liter milik Bagus. Plak! Bau busuk seketika meledak.

“Apa itu?!” teriak Bagus, melompat kaget hingga hampir terjatuh.

Tio membungkuk, mengambil sisa benda itu dengan ranting. “Ini buah Maja Busuk. Tapi ada yang aneh. Buah ini tidak jatuh karena gravitasi.”

Tio menunjuk ke dahan pohon besar di atas mereka. Di sana, duduklah puluhan, mungkin ratusan, monyet dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, hampir seperti sedang bermeditasi. Namun, mata mereka tertuju pada ransel Bagus yang penuh dengan barang-barang mengilap.

“Pohon ini bilang,” kata Tio pelan, “monyet-monyet ini adalah Monyet Hipnotis. Mereka tidak akan menyerang dengan taring, tapi dengan irama.”

“Irama?” Rina mengerutkan kening.

Benar saja, salah satu monyet mulai memukul dahan pohon dengan ritme yang teratur. Tak-tak-tak... tak-tak-tak. Monyet lain mengikuti dengan memukul buah-buah keras ke batang pohon. Dalam sekejap, seluruh lembah dipenuhi dengan irama perkusi alami yang sangat sinkron.

“Ini... ini gila! Mereka bermain musik?” Santi terpana, refleks ingin merekam live, namun ia ingat baterainya tinggal 4%.

“Bukan sekadar musik,” sela Tio. “Lihat kaki Joko.”

Joko, tanpa ia sadari, mulai menghentakkan kakinya mengikuti irama monyet. “Lho? Gue enggak bisa berhenti! Kaki gue punya pikirannya sendiri!”

Bagus mulai merasa panik. “Ini adalah Perangkap Frekuensi Audio Rendah! Monyet-monyet ini menggunakan gelombang suara untuk mengendalikan saraf motorik kita! Mereka ingin kita menari sampai pingsan agar mereka bisa menjarah microwave dan rendang kita!”

“Rencana gila, Bagus! Kita butuh rencana gila sekarang!” teriak Rina, yang juga mulai merasa pinggulnya bergoyang secara involunter.

Bagus memutar otak, matanya tertuju pada ranselnya yang berisi segala macam benda tidak berguna. “Kita tidak bisa melawan irama mereka dengan diam. Kita harus mengambil alih vibe musiknya! Rina, ambil speaker bluetooth cadanganku di kantong samping!”

“Untuk apa?!”

“Kita akan melakukan Serangan Dangdut Balasan! Jika mereka ingin kita menari, mereka juga harus ikut menari dengan aturan kita!”

Rina merogoh kantong samping ransel Bagus dengan gerakan panik, sementara kakinya sudah mulai melakukan gerakan sliding yang tidak ia inginkan. Ia menarik keluar sebuah speaker bluetooth berbentuk kepala robot yang matanya bisa menyala merah.

“Nyalakan, Bagus! Cepat! Sebelum tanganku mulai melakukan gerakan mencuci piring!” teriak Rina.

Bagus menekan tombol daya dengan dramatis. Suara “The Bluetooth Device is Ready to Pair” menggema di lembah, sempat membuat irama perkusi monyet terhenti sejenak karena kebingungan. Bagus segera menyambungkan ponselnya dan mencari daftar putar paling sakti yang ia miliki: “Dangdut Koplo Non-Stop Pembakar Semangat 2025”.

Begitu dentuman gendang koplo yang super cepat meledak dari speaker robot itu, suasana Lembah Cekikikan berubah total. Suara angin yang tadinya tertawa mengejek kini seolah-olah teredam oleh suara suling yang melengking tinggi.

“Ini dia! Operasi Goyang Dominasi dimulai!” seru Bagus.

Monyet-monyet di atas pohon tampak tersentak. Ritme tak-tak-tak mereka yang mistis hancur berantakan. Salah satu monyet pemimpin yang duduk di dahan tertinggi mencoba kembali memukul dahan, tapi tangannya justru mengikuti ketukan kendang koplo yang jauh lebih lincah.

Lihat selengkapnya