Gunung Wingit

OvioviO
Chapter #7

Jembatan Putus #7

Mereka meninggalkan Mas Dedi, si Hantu Anti-Sosial yang depresi karena cicilan motor, dengan perasaan yang sangat campur aduk. Di satu sisi, ada kelegaan luar biasa karena “aparat” yang mengejar mereka hanyalah mahasiswa botani. Di sisi lain, ada rasa malu yang mendalam karena mereka telah melakukan konser dangdut untuk mengusir objek penelitian ilmiah.

Pintu besi kecil di belakang tumpukan mi instan itu berderit saat Bagus mendorongnya. Cahaya senter LED-nya memantul pada lorong beton sempit yang dipenuhi sarang laba-laba.

“Jadi, intinya, kita ini sekelompok orang bodoh yang lari dari bayangan sendiri?” gumam Rina sambil mengibaskan debu dari jaketnya.

“Bukan bodoh, Rin. Kita ini waspada secara berlebihan,” bela Bagus, meski suaranya tidak seyakin biasanya. “Di dunia pendakian, lebih baik salah lari daripada salah tinggal, kan?”

“Tapi lari sambil goyang itik di depan monyet itu tetap saja tidak bisa dimaafkan secara logika,” sela Santi, yang kini sibuk menghapus file-file video lama di ponselnya agar ada ruang untuk “konten kejujuran” yang akan ia buat nanti.

Mereka menyusuri lorong evakuasi tua itu selama lima belas menit. Udara terasa pengap, namun setidaknya tidak ada suara monyet atau bau kunyit Tante Rosa. Hingga akhirnya, mereka sampai di ujung lorong yang tertutup oleh tumpukan kayu-kayu lapuk. Setelah bersusah payah menyingkirkan penghalang itu, mereka keluar ke sebuah area terbuka.

Bagus terkesiap. “Lho? Kenapa kita kembali ke sini?”

Mereka tidak keluar di belakang pos Pak Kasno. Mereka justru keluar di sisi lain Lembah Cekikikan, namun dengan sudut pandang yang lebih tinggi. Dan pemandangan di bawah mereka benar-benar mengerikan bagi siapa pun yang mencintai ketenangan.

Lagu dangdut dari speaker Bagus, yang entah bagaimana masih menyala karena baterainya yang ajaib, ternyata telah memicu Pesta Monyet yang sesungguhnya. Ratusan monyet itu tidak hanya bergoyang, mereka mulai membongkar apa pun yang tertinggal di area camp tadi.

“Tas cadangan kita!” teriak Joko, menunjuk ke arah tumpukan tas yang kini dikerubuti monyet. “Dan... itu kerupuk kaleng gue!”

Salah satu monyet besar tampak mengenakan headband milik Santi, sementara monyet lain mencoba menggunakan kompor portabel sebagai gendang. Pesta itu menjadi liar. Monyet-monyet itu seolah-olah telah menemukan cara baru untuk bersenang-senang, dan itu melibatkan penghancuran logistik mereka.

“Kita harus mengambil barang-barang itu,” kata Rina dengan nada tegas. “Ada kunci motor dan STNK di dalam tas-tas itu.”

“Tapi lewat mana? Kalau kita turun lewat jalur tadi, kita akan dilempar buah maja lagi!” ujar Santi panik.

Bagus melihat ke arah sebuah jalur setapak yang sangat curam di sebelah kanan mereka. Jalur itu tidak terlihat seperti jalur pendakian, melainkan seperti bekas longsoran yang ditumbuhi lumut licin. Di ujung jalur itu, terdapat sebuah jembatan gantung tua yang talinya sudah putus sebelah.

“Itu jalur tercepat untuk memutar dan menyergap monyet-monyet itu dari belakang,” kata Bagus, matanya berbinar melihat peluang aksi.

“Jembatan itu terlihat seperti akan putus hanya dengan ditatap, gus,” protes Rina.

“Itu disebut Keputusan Fatal, Rin!” seru Bagus kembali ke mode sok tahunya. “Dalam situasi darurat, kita harus mengambil jalur yang paling tidak mungkin dipilih oleh musuh, dalam hal ini, monyet dangdut!”

Tio mendekati pinggiran tebing, menatap jalur curam itu dengan saksama.

“Tanah ini bilang,” kata Tio pelan, “dia sudah bosan menahan beban. Dia ingin sekali-kali mencoba melepaskan sesuatu ke bawah. Tapi dia juga bilang, jembatan itu sebenarnya hanya pura-pura rusak untuk mengusir pendaki penakut.”

Joko menatap tasnya di bawah sana yang sedang ditarik-tarik oleh dua monyet. “Keputusan fatal atau tidak, rendang darurat gue ada di dalam tas itu. Gue ikut Bagus!”

“Ini ide buruk. Ini ide yang sangat, sangat buruk,” gumam Rina, namun ia tetap melangkah mengikuti Bagus yang mulai menuruni lereng licin itu dengan gaya yang lebih mirip orang terpeleset daripada pendaki profesional.

Proses menuruni lereng licin itu lebih mirip dengan adegan film komedi slapstick daripada aksi infiltrasi militer. Bagus memimpin dengan gaya "perosotan pantat" yang tidak estetis, sementara Rina berusaha mempertahankan martabatnya dengan berpegangan pada akar-akar pohon yang sayangnya seringkali hanya berupa lumut yang menyamar.

"Pelan-pelan, gus! Lo bukan pemain ski!" teriak Rina saat melihat Bagus meluncur cepat dan berhenti tepat sebelum masuk ke jurang kecil berkat tertahan oleh sebuah batu besar.

"Ini namanya Teknik Gravitasi Terkendali, Rin! Sangat efisien energi!" jawab Bagus sambil membersihkan tanah dari celananya yang kini robek di bagian belakang.

Mereka sampai di pangkal jembatan gantung tua itu. Jembatan tersebut melintang di atas sungai berbatu yang kering, menghubungkan lereng tempat mereka berdiri dengan area pesta monyet di seberang. Seperti yang dikatakan Tio, salah satu tali baja utamanya putus dan menjuntai, membuat papan-papan kayunya miring sekitar 30 derajat.

"Oke, rencananya begini," Bagus berbisik, seolah-olah monyet-monyet yang sedang asyik bergoyang dangdut di kejauhan bisa mengerti bahasa manusia. "Kita seberangi jembatan ini satu per satu. Begitu sampai di seberang, kita lakukan serangan kejutan. Gue bakal nyalain Vakum Cleaner Portabel pada mode reverse untuk meniup udara, Joko berteriak seperti orang kesurupan, dan Santi... Lo ambil foto dengan flash paling terang!"

"Kenapa gue harus berteriak?" tanya Joko protes. "Gue lebih suka menyerang dengan keheningan yang mengancam."

"Karena teriakanmu memiliki frekuensi yang mirip dengan suara predator monyet yang sedang sakit gigi, Joko! Itu taktis!" sahut Bagus asal.

Rina menatap jembatan itu dengan ngeri. "Bagus, papan-papan ini sudah berlumut. Sekali terpeleset, kita bakal berakhir menjadi hiasan sungai di bawah sana."

Tio maju lebih dulu tanpa rasa takut. Ia melangkah ke atas papan kayu pertama yang berderit memilukan. "Papan ini bilang, dia merindukan berat badan manusia. Dia bosan hanya diinjak oleh bayangan awan."

Lihat selengkapnya