Gunung Wingit

OvioviO
Chapter #8

Gua Bayangan #8

Sesuai instruksi Mas Dedi, satu-satunya jalan turun yang tidak akan membawa mereka kembali ke pesta monyet atau jaring drone Dede adalah melalui Gua Bayangan. Secara fisik, tempat ini adalah sebuah terowongan alam yang menembus dasar bukit kapur, namun secara reputasi, tempat ini adalah lokasi di mana “logika akan dipaksa untuk pensiun dini”.

Mereka berdiri di depan mulut gua yang berbentuk oval sempurna, menyerupai mata yang sedang mengantuk. Cahaya senja yang oranye kemerahan masuk dari belakang mereka, menciptakan bayangan-bayangan yang sangat panjang dan hitam legam di lantai gua yang rata.

“Ingat kata Mas Dedi,” bisik Rina, memastikan tali sepatunya terikat kuat. “Bayangan di sini lebih jujur daripada kita sendiri. Jangan melihat ke bawah jika kalian belum siap menghadapi kenyataan.”

“Halah, bayangan mah Cuma pantulan cahaya yang terhalang benda padat,” sahut Bagus, meski tangannya gemetar saat merogoh senter LED cadangan. “Fisika dasar, Rin! Ga ada yang perlu ditakuti dari sebuah siluet.”

Bagus melangkah masuk paling depan. Cahaya senternya membelah kegelapan, namun anehnya, cahaya itu tidak memantul seperti biasa. Dinding gua ini seolah-olah menyerap cahaya, membuatnya tetap remang-remang meskipun Bagus menggunakan mode High Beam.

“Lho? Kok redup?” Bagus mengguncang-guncang senternya. “Baterai masih baru ga mungkin secepat ini menyerah!”

Santi merapat di belakang Bagus. “Guys, kalian lihat nggak? Bayangan Bagus... kenapa dia nggak pegang senter?”

Semua mata tertuju ke lantai. Di bawah kaki Bagus, bayangannya tampak sedang berdiri dengan pose yang berbeda. Sementara Bagus yang asli sedang memegang senter tinggi-tinggi, bayangannya di lantai justru sedang bersedekap dan menggeleng-gelengkan kepala seolah sedang merasa sangat malu.

“Bagus,” suara Joko bergetar. “Bayangan lo... dia sepertinya sedang menghakimi keputusan lo untuk membawa vakum cleaner ke gunung.”

Bagus melompat mundur. “Apa-apaan ini?! Sensor optikku pasti sedang mengalami delusi visual!”

“Jangan bergerak dulu!” perintah Rina. Ia mencoba melihat bayangannya sendiri. Di lantai, bayangan Rina tidak tampak seperti pendaki tangguh yang memegang peta. Bayangan itu justru tampak sedang duduk meringkuk sambil menangis, sangat kontras dengan sosok Rina yang berdiri tegak dan mencoba terlihat berani.

“Tio,” Rina menelan ludah. “Apa yang dikatakan bayangan ini?”

Tio melihat ke bawah. Bayangan Tio adalah satu-satunya yang normal. Bayangan itu mengikuti setiap gerakannya dengan presisi setiap milimeter.

“Bayangan gue bilang,” kata Tio pelan, “dia sudah capek mendengarkan curhatan benda mati di sekitar sini. Dia Cuma mau tidur. Tapi dia bilang, bayangan kalian sedang melakukan Demo Protes terhadap Kepribadian kalian masing-masing.”

Santi memberanikan diri melihat bayangannya. Bayangan Santi di lantai tidak memegang ponsel, melainkan sedang melempar ponsel khayalan ke dinding dan menunjukkan jari tengah ke arah mereka.

“Astaga!” Santi memekik. “Bayangan gue... dia adalah seorang Haters! Dia benci semua konten yang gue buat!”

Suasana di dalam gua mendadak menjadi sangat dingin. Bukan dingin udara, melainkan dingin yang muncul dari dalam hati masing-masing. Gua Bayangan bukan sedang menakut-nakuti mereka dengan hantu, melainkan dengan Insecuritas yang selama ini mereka sembunyikan di balik topeng teknologi, estetika, dan makanan.

“Kita harus terus jalan,” kata Rina, suaranya parau. “Jangan pedulikan mereka. Mereka Cuma pantulan. Ingat, kita harus sampai ke pos bawah sebelum tengah malam.”

Mereka mulai berjalan lebih dalam. Namun, semakin jauh mereka melangkah, bayangan-bayangan itu mulai mengeluarkan suara. Bukan suara mulut, melainkan suara bisikan yang bergema langsung di kepala mereka masing-masing.

“Bagus...” bisik sebuah suara yang terdengar mirip Bagus tapi lebih dewasa. “Lo tahu kan kalau drone-lo itu sebenarnya mainan yang dipaksa berfungsi? Lo Cuma pura-pura pintar supaya nggak dianggap cupu...”

Bagus berhenti mendadak, wajahnya pucat pasi. “Diam! Gue ini engineer mandiri!”

Bisikan-bisikan itu semakin nyata, memantul di dinding gua yang hitam pekat. Gua ini seperti sebuah ruang sidang di mana hakimnya adalah sisi gelap dari diri mereka sendiri.

Bagus adalah yang pertama mengalami krisis identitas. Bayangannya di lantai kini tidak lagi hanya menggeleng, tapi seolah-olah mulai menunjuk-nunjuk ke arah ranselnya yang besar.

“Bagus...” bisik bayangan itu, suaranya terdengar seperti narator film dokumenter yang sedang membongkar skandal. “Lo bawa semua alat ini bukan karena butuh, tapi karena lo takut orang lain tahu kalau sebenarnya lo nggak tahu cara menyalakan api tanpa korek gas, kan? Lo hanyalah seorang pria dengan mainan baterai yang ketakutan pada alam...”

“Berhenti!” Bagus berteriak, mengarahkan senter LED-nya ke lantai seolah ingin membakar bayangannya sendiri dengan cahaya. “Teknologi adalah peradaban! Gue adalah pionir!”

Namun, cahaya senter itu justru membuat bayangan tersebut semakin tajam dan kontras. Bagus mulai berkeringat dingin.

Di sisi lain, Santi sedang berhadapan dengan versinya yang paling jujur. Bayangannya tampak sedang melakukan gerakan menghapus semua akun media sosial.

“Santi...” bisik bayangan itu, terdengar seperti suara komentar paling pedas di kolom Instagram-nya. “Lo nggak benar-benar menikmati pemandangan ini, kan? Lo Cuma peduli pada berapa banyak orang yang melihatmu ‘menikmati’ pemandangan ini. Lo merasa kesepian meskipun pengikut lo jutaan. Lo takut kalau ponsel lo mati, lo akan hilang dari dunia...”

Santi menutup telinganya, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang penuh eyeliner mahal. “Itu bohong! Gue memberikan inspirasi! Gue memberikan hiburan!”

Lihat selengkapnya