Satu tahun telah berlalu sejak insiden “Pesta Monyet Dangdut” dan “Gua Bayangan” yang legendaris itu. Di sebuah kafe kecil di sudut kota, lima orang (plus satu anggota tambahan) berkumpul di sebuah meja besar. Atmosfernya berbeda, tidak ada lagi tumpukan gadget canggih atau kabel yang berseliweran di atas meja.
Bagus datang paling awal. Ia tidak lagi memakai rompi teknisi dengan 20 saku. Ia kini mengenakan kemeja flanel sederhana. Di tangannya bukan lagi remote drone, melainkan sebuah buku saku berjudul “Panduan Bertahan Hidup dengan Cara Tradisional”. Bagus kini menjadi instruktur outdoor yang fokus pada teknik dasar, navigasi kompas magnetik dan cara menyalakan api tanpa bantuan gas.
“Teknologi itu alat bantu, bukan pengganti otak,” kata Bagus kepada teman-temannya sambil tersenyum bangga. Ia baru saja berhasil menyalakan api unggun di acara camping minggu lalu hanya dengan menggunakan gesekan bambu selama tiga jam.
Santi duduk di sampingnya. Ponselnya tergeletak di meja, dalam posisi terbalik. Ia tidak lagi mengejar engagement. Sekarang, Santi adalah seorang penulis esai perjalanan yang sukses. Akun media sosialnya masih ada, tapi isinya hanya foto-foto pemandangan tanpa filter dan tanpa wajahnya, dengan caption yang sangat singkat. Ia lebih menghargai “momen” daripada “rekaman momen”.
“Tahukah kalian?” Santi bercerita. “Tante Rosa sekarang jadi bintang iklan jamu kesehatan jiwa. Dede, lo lihat kan iklannya?”
Dede, yang kini bekerja sebagai editor video dokumenter independen, mengangguk sambil tertawa. “Iya, dia sekarang mengklaim dirinya sebagai ‘Guru Spiritual Jamu’. Tapi setidaknya dia tidak lagi nyuruh gue nerbangin drone di sarang tawon.”
Joko datang membawa kotak makanan besar. Semua orang mengira itu rendang, tapi saat dibuka, isinya adalah salad buah segar dan rebusan ubi. Joko telah bertransformasi, ia kehilangan sepuluh kilogram berat badan dan kini menjadi koki spesialis makanan sehat.
“Rendang tetap di hati,” kata Joko sambil mengunyah sepotong ubi, “tapi jantung gue lebih butuh ubi daripada santan kental 24 jam sehari.”
Rina masih menjadi pemimpin mereka, tapi ia tampak jauh lebih santai. Ia tidak lagi membawa peta yang dilaminasi atau jadwal perjalanan yang kaku. Ia baru saja kembali dari ekspedisi pemetaan hutan tanpa satu pun insiden “tersesat”.