Malam itu presiden sedang berpidato, dan di warung Mbak Yani tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Televisi empat belas inci yang menggantung miring di pojok dinding, ditopang kawat jemuran dan doa, menyiarkan wajah pemimpin negara dalam resolusi yang membuat mukanya terlihat seperti foto lama yang ketimpa jamur. Suara baritonnya bersaing melawan deru mesin bus antarkota, gonggongan anjing di kejauhan, dan bunyi kompor Mbak Yani yang meletup-letup setiap kali minyak terlalu panas.
Di bangku-bangku plastik yang kaki depannya diganjal bungkus rokok bekas, duduk orang-orang terminal malam itu: empat sopir angkot dengan mata cekung akibat dikejar setoran liar yang makin mencekik bulan ini, dua anak ormas berseragam loreng pudar yang kehabisan bahan obrolan, seorang kernet yang tertidur pulas bersandar pada karung beras, satu debt collector berjaket kulit sintetis yang mukanya sudah terlatih untuk tidak mengekspresikan apapun.
Dan Ari.
Ari si anak terminal, wajah yang sudah cukup lama berseliweran di sini hingga tak ada lagi preman atau mandor yang menanyakan dari mana asalnya. Ia duduk di bangku paling pojok, dekat pintu yang separuh engselnya sudah lepas, memutar-mutar gelas kopi hitam yang sudah lama dingin dengan dua tangan. Cara memegang gelas itu seperti orang yang tidak mau kehilangan satu-satunya benda hangat di dekatnya, meski hangatnya sudah pergi dari tadi.
Nama aslinya Damar Sutejo. Tapi nama itu hanya tersimpan di kedalaman kepalanya dan di laci sebuah kantor yang jarang ia kunjungi.
Kadang ia hampir lupa siapa Damar sebenarnya.
"Mbak, gedein dikit napa suaranya!" seru Jefri dari meja pojok, mengunyah kacang atom dengan mulut terbuka. "Kagak kedengeran nih si Bapak ngomong apaan."
Mbak Yani yang sedang mengelap meja bernoda tumpahan kopi mendengus kasar. "Lu kerjaannya nyuruh mulu. Bayar dulu kopi lu sana."
"Elah, kopi seribu lima ratus perak aja ditagih. Gue lagi numpang duduk doang ini, nunggu muatan masuk."
"Numpang duduk pala lu. Kalo semua orang di mari numpang duduk doang, warung gue tutup besok pagi."
Mbak Yani tidak membesarkan volume televisi itu. Ia justru membalikkan badan ke arah kompor, mengaduk sesuatu yang berbau seperti jahe dan kayu manis, membiarkan si presiden berpidato pada frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang dari tadi memang tidak mau mendengarkan.
Tapi suara itu tetap masuk. Seperti air yang menemukan retakan.
"Saudara-saudara sebangsa dan setanah air…"
Warung mendadak hening. Bukan karena hormat, tidak ada yang hormat di sini pada jam sepuluh malam setelah seharian digerus aspal dan pungli. Keheningan itu milik orang-orang yang sedang menerka-nerka kebijakan baru apa lagi yang akan menyingkirkan periuk nasi mereka bulan depan. Mereka sudah cukup kenyang belajar bahwa setiap pidato tentang ketertiban selalu berarti biaya baru bagi yang tidak punya daya tawar.
"Kita memasuki era stabilitas. Ketertiban. Dan iklim investasi yang sehat."
"Denger tuh, Ri." Jefri menyempilkan sisa rokok ke sudut bibirnya. Tawanya yang biasa meledak kini keluar tipis dan getir. "Kita semua di sini bakal dipensiunin cepet."
"Pensiun gundulmu." Debt collector berjaket kulit menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari dinding. "Paling ganti nama doang. Dulu namanya preman, besok namanya satgas penertiban. Tetep aja setoran kita disedot ke atas."
"Bener." Salah satu sopir angkot, yang wajahnya lebih tua dari usianya karena matahari dan hutang, menyandarkan punggungnya. "Bulan lalu aja trayek angkot kita dipotong paksa buat ngasih jalan ke bus pariwisata punya bos-bos pusat. Yang penting pejabat atas makin kenyang, kita yang di bawah disuruh makan aspal."
"Pensiun apaan," sahut debt collector di pojok. Suaranya berat, seperti dikeluarkan dari dasar tenggorokan. "Paling ganti istilah doang. Kayak tai kucing dikasih parfum."
"Yang penting setoran jalan terus."
"Yang penting proyek ada."
"Yang penting orang atas masih makan."
Jefri menepuk pundak Damar. "Tenang aja. Orang atas butuh orang kayak kita. Ganti presiden, ganti camat, ganti kapolsek, yang berubah paling warna spanduk. Yang beginian mah nggak bakal ilang."
Tawa pendek dan kering pecah di antara mereka. Tawa yang tidak keluar dari dada tapi dari tempat yang lebih rendah, perut yang sudah lama terbiasa kosong di jam-jam yang salah.
Damar ikut menyunggingkan senyum tipis. Di terminal, terlalu ramah akan membuatmu dicurigai. Terlalu dingin juga akan mengundang bahaya. Bertahan hidup adalah soal menjaga takaran emosi, dan ia sudah menjaga takaran itu selama empat tahun.
Di layar, presiden menaikkan nada suaranya.
"Negara tidak akan memberi ruang bagi unsur-unsur yang menjadikan kekacauan sebagai jalan hidup. Negara harus hadir!"
Tepuk tangan audiens di gedung mewah itu meledak meriah. Di warung Mbak Yani, yang bergerak hanya asap rokok.
Damar meletakkan gelasnya.
Unsur. Pilihan kata yang ganjil. Bukan oknum, bukan kelompok bersenjata, bukan nama atau wajah, unsur. Kata itu adalah bahasa operasi. Cara seseorang membicarakan manusia setelah manusia tersebut diputuskan tidak perlu dianggap manusia lagi. Ia pernah membaca arahan operasional yang menggunakan kata yang sama persis, dengan huruf kapital, di lembar kertas yang sudah lama ia bakar.