Sore berikutnya, Baron turun ke jalur retribusi.
Tidak ada yang mengumumkan kedatangannya. Tidak perlu. Orang-orang di jalur itu sudah terlatih mengenali tanda-tandanya seperti mengenali cuaca: ada hawa tertentu yang berubah beberapa menit sebelum orangnya muncul. Percakapan mengecil. Gestur tubuh menyesuaikan. Bahkan yang tadinya berdiri seenaknya mulai mencari sesuatu yang bisa dilakukan dengan tangan mereka supaya tidak kelihatan sedang menganggur.
Baron berjalan terlalu pelan untuk tempat yang ramai.
Bukan pelan karena tua, bukan pelan karena malas. Itu adalah pelan yang dipelajari. Pelan yang mengatakan: aku tidak terburu-buru karena tidak ada satu pun hal di sini yang bisa bergerak lebih cepat dari keputusanku.
Damar melihatnya dari jarak dua puluh meter, berdiri di depan warung tambal ban yang setengah pintunya sudah diturunkan. Ia tidak berpura-pura sedang melakukan apapun. Di terminal, orang yang terlalu keras berpura-pura sibuk justru lebih mencurigakan dari orang yang terang-terangan bengong. Jadi ia bengong. Memandang ke arah jalanan. Membiarkan Baron masuk ke sudut pandangnya seperti orang memasuki layar.
Baron berhenti di lapak Pak Hasan, pedagang rokok dan minuman botol yang sudah berjualan di titik yang sama selama lebih dari satu dekade. Ia tidak mengatakan selamat sore atau menanyakan kabar. Tangannya meraih sebatang rokok dari etalase kaca tanpa izin, menyulutnya, dan berbicara dengan suara yang terlalu pelan untuk didengar dari jarak Damar berdiri.
Pak Hasan mengangguk. Sekali. Bukan anggukan setuju, lebih seperti anggukan orang yang tahu bahwa tidak mengangguk bukan pilihan yang tersedia.
Baron mengambil sesuatu kecil dari saku celananya, meletakkannya di atas etalase dengan cara yang tidak mencolok tapi cukup kelihatan oleh siapapun yang sedang mengawasi, lalu berbalik dan berjalan lagi.
Bukan uang. Terlalu kecil dan terlalu ringan untuk uang.
Damar menyimpannya sebagai catatan yang belum perlu ditindaklanjuti.
Sepuluh menit kemudian, ia duduk di warung Mbak Yani dan Jefri sudah ada di sana dengan semangkuk mie rebus yang uapnya mengepul ke arah kipas angin plastik yang berputar dengan suara grek-grek.
"Tadi Baron turun," kata Damar, nada kasual, sambil meraih gelas teh yang sudah disiapkan Mbak Yani tanpa diminta.
"Tau." Jefri meniup mie-nya. "Gue liat dari jauh."
"Ada yang beres?"
"Biasa aja kayaknya." Jefri mengangkat bahu. "Emang Baron kalo turun sendiri biasanya soal hal-hal kecil. Kalo ada yang besar, dia kirim orang dulu."
"Setor minggu ini udah?"