Pagi itu Damar berangkat lebih awal dari biasanya.
Bukan ke terminal. Ke arah yang berbeda, menyusuri jalan yang ia pilih dengan kriteria: sempit, banyak cabang, susah diikuti tanpa ketahuan. Kota ini punya struktur yang menguntungkan orang yang tidak ingin ketahuan bergerak. Gang-gang yang saling tembus, pasar kaget yang bikin kemacetan terstruktur setiap pagi, jalur banjir lama yang sudah jadi jalan tikus tapi belum ada di peta digital mana pun.
Koordinat Pak Surya mengarah ke sebuah blok permukiman di sisi timur, sekitar empat puluh menit jalan kaki dari terminal. Daerah yang tidak terlalu padat, tidak terlalu sepi, persis jenis tempat yang dipilih orang kalau ingin ada tanpa terlalu ada.
Damar tidak jalan lurus. Ia muter dulu. Dua putaran. Bukan karena paranoiak, tapi karena orang paranoiak biasanya ketahuan justru dari cara mereka terlalu sering menoleh. Ia tidak menoleh. Ia hanya mengubah ritme langkah dan sesekali berhenti di depan warung atau tukang parkir, cukup lama untuk memastikan tidak ada bayangan yang menyesuaikan diri dengan perubahannya.
Tidak ada yang mengikuti. Atau kalau ada, mereka cukup bagus untuk tidak ia deteksi.
Kedua kemungkinan itu sama-sama tidak enak.
Ia tidak masuk dari depan.
Gang belakang lebih sempit, berbau got dan sabun cuci yang mengering di jemuran, cukup gelap di beberapa bagian meski matahari sudah naik karena atap seng rumah-rumah di kiri kanan menyambung hampir rapat. Damar berjalan dengan kecepatan orang yang tahu ke mana ia pergi, bukan tergesa, tidak menelusup.
Dari titik di ujung gang, ia punya garis pandang ke jendela belakang rumah kontrakan Pak Surya dan ke dua ujung gang sekaligus.
Ia berdiri di situ. Menghitung.
Lima menit. Sepuluh menit.
Tidak ada pergerakan dari dalam. Tirai jendela tertarik rapat. Pintu belakang terkunci dari dalam, tapi kuncinya bukan tipe yang biasa dipakai penghuni lama di daerah ini. Tipe yang lebih baru. Diganti belum lama.
Menit ke dua belas, matanya mendarat di sudut selokan.
Ireng.
Damar kenal kucing itu sejak pertama kali diajak ke sini dua tahun lalu. Belang hitam-putih dengan ujung ekor yang sedikit bengkok karena pernah kejepit pintu waktu masih kecil, selalu duduk di atas pagar atau di bingkai jendela belakang. Pak Surya tidak pernah secara resmi mengakui memeliharanya, tapi selalu ada nasi atau ikan asin yang setengah hancur di mangkuk kecil dekat pintu belakang setiap pagi.
Sekarang Ireng tergeletak di sudut selokan, kakinya sedikit terentang ke arah yang salah.
Bukan posisi tidur. Bukan posisi kucing yang sedang istirahat. Tidak ada luka yang terlihat dari jarak ini, tidak ada darah, tidak ada tanda kekerasan yang jelas. Tapi tubuh itu ada di tanah dengan cara yang tidak dipilih sendiri oleh seekor kucing yang masih hidup.
Damar berdiri di situ satu menit penuh.