Koordinat itu membawa Damar ke sebuah kompleks perumahan lama di sisi selatan kota, daerah yang tidak pernah ia masuki selama empat tahun di terminal karena tidak ada alasan untuk masuk, bukan bagian dari peta Ari Amsari yang selama ini ia jaga dengan teliti.
Nama itu, Ari Amsari, sudah menempel di tubuhnya lebih lama dari yang seharusnya. Pak Surya yang membuatnya, dua lembar dokumen dan satu cerita latar yang cukup untuk bertahan di lingkungan terminal tapi tidak cukup untuk bertahan di tempat dengan orang-orang yang tahu cara memeriksa lebih dalam. Waktu itu Pak Surya bilang, satu tahun, paling lama dua. Cukup untuk memetakan jalur bawah dan menemukan simpul-simpulnya.
Empat tahun kemudian, Damar masih di sini.
Atau lebih tepatnya: Ari masih di sini, dan Damar yang terkubur di bawahnya semakin sering lupa ia pernah punya nama lain.
Rumah itu cat hijaunya sudah pudar menjadi warna yang tidak bisa lagi disebut hijau dengan percaya diri, lebih mirip abu-abu yang pernah bermimpi jadi hijau. Pagarnya besi tua, tinggi, tidak ada bell atau interkom. Hanya plat nomor yang sudah tidak terbaca karena ada yang dengan sengaja menggosoknya sampai habis.
Damar berdiri di depan pagar itu.
Ia tidak mengetuk. Tidak memanggil. Hanya berdiri dengan cara yang sudah terlatih untuk tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu, karena di tempat-tempat seperti ini perbedaan antara menunggu dan mengawasi ditentukan oleh cara badan berdiri.
Tiga puluh detik kemudian, pintu samping rumah terbuka dan seseorang yang bergerak dengan efisiensi orang yang sudah tidak perlu memikirkan gerakannya keluar dan berjalan ke arah pagar.
Damar tidak mengenali wajahnya. Laki-laki, sekitar tiga puluhan, bahu yang membuat kemejanya tampak tidak cukup lebar, cara mata bergerak yang memberitahu bahwa ia sudah merekam setiap detail Damar dalam tiga detik pertama dan sedang membandingkannya dengan sesuatu di kepalanya.
"Damar Sutejo?" tanya laki-laki itu. Suaranya bukan suara orang yang biasa memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Tergantung siapa yang tanya."
Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku, memegang di antara dua jari, memperlihatkan sebentar. Bukan kartu identitas resmi. Sesuatu yang lebih kecil, kode yang Pak Surya beri tahu kepadanya setahun lalu sebagai pegangan darurat jika koordinat pernah membawanya ke tempat yang tidak ia kenal.
Damar mengangguk.
Pagar dibuka.
"Fajar," kata laki-laki itu. Nama tanpa jabatan, nama yang diucapkan seperti fakta geografis.
Di dalam, rumah itu lebih besar dari yang tampak dari luar. Bukan karena luas, tapi karena setiap ruang digunakan dengan cara yang tidak ada ruginya. Tidak ada furnitur dekoratif. Tidak ada hal yang ada hanya karena enak dilihat. Yang ada hanya yang berguna, diletakkan di tempat yang memaksimalkan fungsinya.
Fajar membawanya melewati satu koridor dan sebuah pintu yang terlihat seperti pintu lemari tapi tidak.
Di ujung koridor itu, seseorang sedang membaca berkas sambil berdiri. Perempuan, lebih muda dari Damar perkirakan dari caranya berdiri, rambut yang dikucir dengan cara yang terlihat seperti tidak dipikirkan tapi terlalu presisi untuk benar-benar tidak dipikirkan.
Ia tidak menoleh ketika Damar masuk.
Tidak, itu tidak tepat. Ia menoleh, tapi sudah menoleh sebelum Damar masuk, cara menoleh orang yang sudah mendengar langkah kaki dari jarak cukup jauh dan sudah memutuskan tidak perlu bereaksi secara ekspresif terhadapnya.
Matanya memindai Damar dengan cara yang terasa seperti filing sistem, memasukkan informasi ke tempat yang tepat dengan cepat dan selesai.
"Laras," katanya. Juga nama tanpa jabatan.
Damar mengangguk. Ia ingin berkata sesuatu tapi ada sesuatu dalam cara perempuan itu sudah kembali ke berkasnya yang memberitahukan bahwa percakapan baru dimulai kalau ada keperluan konkret.
Di ujung koridor itu, sebelum pintu berikutnya, Damar menangkap sesuatu: cara Laras dan Fajar bergerak di sekitar satu sama lain. Bukan gerakan yang dipikirkan, bukan protokol, tapi kebiasaan yang sudah lama terbentuk. Mereka berbagi ruang seperti orang yang sudah terlalu lama bekerja bersama untuk masih perlu negosiasi tentang di mana boleh berdiri.
Ada sejarah di sini yang tidak ia masuki dari awal.
Satria ada di ruang berikutnya.
Ia berdiri di depan peta yang ditempel di dinding dengan cara yang membuat peta itu tidak terlihat seperti dekorasi, membelakangi pintu, membaca sesuatu yang tidak kelihatan dari sudut Damar berdiri.
Fajar memperkenalkan dari ambang pintu: "Yang dari terminal."
Satria berbalik.
Damar sudah bertemu banyak orang yang punya otoritas. Otoritas biasanya menempel di cara bicara, di cara berpakaian, di cara seseorang menggunakan ruang yang ada di sekitarnya. Satria tidak melakukan semua itu. Ia hanya berdiri dan menatap, dan dalam cara menatap itu ada sesuatu yang tidak bisa dengan mudah ia kategorikan karena bukan penilaian dan bukan sambutan dan bukan peringatan.
Lebih seperti pengenalan yang sudah terjadi sebelum pertemuan ini.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Satria.