Tidak ada alasan yang cukup bagus untuk kembali ke terminal malam itu.
Damar tahu ini. Ia menyusunnya dalam kepala dengan cukup jujur, satu per satu, sambil berjalan ke arah yang berlawanan dari rumah hijau: pertama, Satria tidak minta ia kembali. Kedua, tidak ada misi aktif yang memerlukan kehadirannya sebagai Ari Amsari dalam dua puluh empat jam ke depan. Ketiga, dan ini yang paling tidak bisa ia argumentasikan melawan dirinya sendiri, kembali ke terminal berarti mempertahankan identitas yang sudah diminta untuk ia kubur perlahan.
Tapi Baron sedang tidak dalam mood yang baik.
Itu alasan yang bisa ia gunakan. Baron yang tidak dalam mood baik adalah variabel aktif yang mempengaruhi operasi. Informasi tentang mood Baron adalah informasi taktis. Tidak ada yang bisa memverifikasi informasi itu dari dalam rumah hijau tanpa menempatkan aset di lapangan, dan satu-satunya aset yang punya akses lapisan bawah saat ini adalah Ari Amsari.
Damar memutuskan bahwa alasan itu cukup.
Ia sudah setengah jalan ke terminal ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah membuat keputusan untuk berangkat. Ia hanya berjalan, dan keputusan itu sudah dibuat oleh bagian dirinya yang tidak meminta izin.
Warung Mbak Yani penuh jam delapan. Bukan penuh dalam arti semua meja terisi, tapi penuh dalam arti suara dan asap dan energi dari orang-orang yang sudah seharian bergerak dan sekarang butuh satu jam duduk tanpa harus menjadi siapapun yang penting.
Jefri sudah ada di meja biasanya. Mangkuk bakso separuh habis di depannya, rokok di antara jari kanan, ponsel di tangan kiri yang isinya video sesuatu yang ia tonton dengan volume kecil sambil sesekali ketawa sendiri.
"Eh, Ari." Matanya tidak naik dari ponsel. "Kirain lo udah kabur."
"Kabur ke mana?"
"Entah." Jefri akhirnya meletakkan ponselnya, menatap Damar dengan cara yang sudah terlalu lama jadi kebiasaan mereka untuk masih perlu dideskripsikan. "Beberapa hari ini lo nggak keliatan."
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
"Urusan yang bukan urusan lo."
Jefri tertawa, pendek dan tidak tersinggung. Itu yang selalu Damar hargai dari Jefri: ia mengajukan pertanyaan tapi tidak pernah menuntut jawabannya. Seperti orang yang bertanya bukan karena ingin tahu tapi karena tidak bertanya terasa tidak sopan.
Mbak Yani datang tanpa dipanggil, meletakkan kopi hitam di siku Damar dengan cara yang mengatakan ia sudah tahu pesanan ini dari jauh sebelum Damar duduk. Damar menerimanya dengan dua tangan. Masih panas.
"Baron tadi sore turun lagi," kata Jefri tiba-tiba, nada yang sama persis seperti kalau ia menceritakan cuaca.
Damar minum kopinya. Satu tegukan. "Lagi?"
"Kali ini agak beda. Biasanya kalau dia turun, orang-orangnya tetep santai. Tadi nggak. Mereka semua kayak lagi nunggu sesuatu yang nggak enak."
"Setoran?"
Jefri memutar sendoknya di mangkuk bakso yang sudah hampir kosong. "Lebih dari itu kayaknya. Gue denger dari Tono, katanya ada yang kurang minggu kemarin. Bukan kurang dikit, tapi kurang signifikan. Dan Baron..." ia menurunkan suaranya sedikit, bukan karena paranoid tapi karena ada level-level tertentu di mana suara rendah adalah kesopanan, bukan ketakutan. "Baron lagi nggak mau dengerin alasan."
"Siapa yang kena?"
"Belum keliatan siapa yang salah. Makanya dia nggak bisa marah ke satu orang. Dan Baron yang nggak bisa marah ke satu orang lebih berbahaya dari Baron yang udah tau targetnya."
Damar mengangguk pelan. Di bagian kepalanya yang bekerja terus bahkan ketika sisanya sedang menjadi Ari, ia memetakan informasi ini ke dalam grid yang sudah ia bangun selama empat tahun. Baron yang sedang mencari sumber kebocoran dalam jaringannya sendiri berarti Baron yang sedang audit internal. Audit internal berarti setiap orang di lingkaran Baron sedang diperiksa ulang posisinya, kredibilitasnya, dan jejak-jejaknya dalam beberapa minggu terakhir.
Nama Ari Amsari ada dalam lingkaran itu.
"Lo sendiri aman?" tanya Damar.
Jefri mengangkat bahu. "Gue nggak punya urusan langsung sama setoran yang kurang itu. Tapi siapa yang tau. Waktu Baron lagi kayak gini, kadang yang kena bukan yang salah, tapi yang paling gampang disalahin."
"Hati-hati aja, Jef."
Jefri menatapnya sebentar. Bukan lama, tapi dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya. "Lo juga."