Mereka masuk ketika Ruslan masih di dalam kamar.
Itu bukan kebetulan. Itu adalah pemilihan waktu yang diperhitungkan oleh Satria sejak dua hari sebelumnya, ketika Arfan selesai memetakan rutinitas Ruslan dan menemukan satu pola yang konsisten: setiap Rabu dan Jumat, Ruslan datang ke rumah kontrakan di Gang Jeruk nomor tujuh antara pukul delapan dan delapan tiga puluh malam. Ia tidak pernah membawa lebih dari satu pengawal. Ia selalu menghabiskan waktu kurang dari satu jam di dalam sebelum pulang, dengan alasan yang sama yang selalu dipakai laki-laki paruh baya yang merasa hidupnya cukup terjaga untuk tidak perlu terlalu hati-hati.
Tono, pengawal itu, tertidur di sofa ruang tamu.
Bukan karena ia ceroboh. Tapi karena ia sudah melakukan pekerjaan ini cukup lama untuk tahu bahwa tidak ada yang mau diganggu selama Ruslan di dalam kamar, dan menunggu dengan sadar hanya menguras energi yang lebih berguna disimpan untuk hal-hal yang benar-benar memerlukan perhatian. Ia tertidur dengan posisi orang yang terbiasa tidur di tempat yang tidak nyaman: punggung tegak, kepala sedikit ke kanan, tangan di atas paha.
Fajar yang masuk pertama dari pintu belakang. Satu menit kemudian pintu depan terbuka dari dalam.
Bang Bam di belakang Fajar. Damar di belakang Bang Bam. Satria masuk terakhir, menutup pintu dengan cara yang tidak mengeluarkan suara sama sekali, dan berdiri di sisi yang memberinya garis pandang ke lorong, ke sofa Tono, dan ke pintu kamar utama sekaligus.
Tono tidak bangun.
Fajar berlutut di depan sofa, meletakkan sesuatu kecil di bawah hidung Tono dengan hati-hati, memastikan dosisnya cukup untuk menambah tidurnya beberapa jam tanpa meninggalkan efek yang perlu dijelaskan kepada dokter. Cara tangannya bergerak adalah cara tangan orang yang sudah melakukan ini cukup sering untuk tidak perlu berpikir tentang langkah-langkahnya.
Dari arah kamar utama, suara.
Bukan suara percakapan. Lebih dalam dari itu, lebih tidak teratur, suara yang keluar dari dua tubuh yang sedang tidak memikirkan apapun selain apa yang ada di depan mereka malam itu. Erangan berat seorang pria yang sudah tidak muda tapi masih merasa perlu membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri, berpadu dengan desahan napas perempuan yang temponya tidak beraturan.
Di balik tirai tipis kamar, bayangan dua tubuh yang sedang saling bertindih terpantul jelas di dinding. Siluet itu bergerak maju mundur dalam ritme yang lambat dan sedikit tidak efisien.
Satria mengangkat tangan kanan. Tunggu.
Mereka berdiri membeku di tengah kegelapan ruang tamu yang hanya diterangi cahaya televisi yang menyala tanpa suara. Di sofa, Tono tidur dengan ritme napas yang semakin dalam. Di luar, suara motor lewat sesekali dan kemudian sepi lagi.
Damar berdiri di posisinya, memproses semuanya dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya di terminal tapi dengan parameter yang berbeda: di terminal ia mengamati untuk menyimpan informasi. Di sini ia mengamati karena itu satu-satunya hal yang diminta darinya malam ini dan ia belum tahu lebih banyak dari itu.
Dari dalam kamar, suara decit ranjang yang singkat. Satu lenguhan lelah. Kemudian diam.
Diam yang berbeda dari diam sebelumnya, lebih seperti diam setelah sesuatu selesai daripada diam di antara sesuatu yang sedang berlanjut.
Langkah kaki telanjang di lantai.
Pintu kamar terbuka.
Ruslan keluar ke lorong dengan tangan yang sibuk mengencangkan gulungan sarung di pinggangnya. Rambutnya berantakan. Dadanya masih naik turun mencari pasokan oksigen. Ia menyelipkan sebatang rokok kretek ke bibirnya yang mulai keriput, menyulutnya sambil berjalan ke arah dapur tanpa menyalakan lampu lorong, dengan cara orang yang sudah cukup hafal dengan tata letak rumah ini untuk tidak memerlukannya.
Ia tidak melihat Fajar di sudut ruang tamu sampai Fajar sudah terlalu dekat untuk direspons dengan cara yang berguna.
Ruslan berhenti. Rokoknya hampir jatuh.
Ia menyelamatkan rokoknya lebih dulu sebelum menilai situasinya. Itu mengatakansesuatu tentang cara kerjanya.
Bang Bam muncul dari sisi kirinya. Damar dari sisi kanan. Satria berdiri tepat di depan, di antara Ruslan dan pintu keluar yang mana pun yang mungkin sempat ia pertimbangkan.
Ruslan tidak berteriak. Ia menghisap rokoknya sekali, mengeluarkan asapnya pelan, dan menatap keempat orang di depannya dengan ekspresi yang sedang melakukan sesuatu di baliknya, ekspresi menghitung, mengurutkan, mencari informasi yang berguna dari apa yang tersedia.
"Bukan polisi," katanya akhirnya. Suaranya lebih stabil dari yang semestinya untuk seseorang yang baru saja mendapati empat orang asing di dalam rumah yang bukan miliknya. "Polisi ketuk pintu."
Tidak ada yang menjawab.
"Bukan orang Baron juga. Baron kirim orang yang gue kenal." Ia menghisap rokoknya lagi. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain dengan cara analis yang sedang bekerja dengan waktu yang sangat terbatas. "Jadi kalian dari luar."
Satria berkata, "Duduk."
Mereka menggunakan kursi makan yang Fajar pindahkan ke tengah ruang tamu. Ruslan duduk, meletakkan rokoknya di asbak yang ada di atas meja, dan mengamati proses itu dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa kalau ini adalah akhirnya, ia tidak akan melewatinya dengan gemetar.