GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #8

PERTANYAAN YANG SALAH

Pagi di rumah hijau terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, bukan karena ada yang berubah secara fisik tapi karena ada massa tertentu yang menempel pada udara di dalam ruangan ketika orang-orang yang ada di dalamnya sudah melakukan sesuatu yang tidak bisa diulang dan sedang belajar hidup bersebelahan dengan kenyataan itu.

Arfan sudah di mejanya sejak subuh. Nama Wiryo ada di satu sudut layarnya, di antara jendela-jendela lain yang masing-masing berisi potongan informasi yang sedang ia coba hubungkan satu sama lain. Ia tidak bicara banyak di debrief singkat yang Satria pimpin jam enam pagi, hanya mencatat, hanya mengonfirmasi bahwa nama itu sudah masuk ke sistem yang ia bangun.

"Wiryo," kata Satria, satu kata, cara ia mengucapkan nama yang baru masuk ke peta.

"Perusahaan konsultansi terdaftar," jawab Arfan. "Dua belas karyawan, kantor di lantai tujuh gedung yang tidak penting. Laporan keuangan bersih sampai kamu tahu apa yang dicari. Gue butuh dua hari untuk petakan alirannya."

Satria mengangguk. Dua hari.

Fajar dan Bang Bam tidak ada di ruangan itu, masing-masing sudah ke urusan mereka sendiri. Laras ada di sudut, membaca sesuatu di atas meja yang bukan bagian dari debrief tapi kehadirannya di ruangan itu terasa seperti bagian dari ekuilibrium yang sudah terbentuk.

Damar duduk dan mendengarkan dan tidak mengatakan tentang Baron.

Ia sudah berencana mengatakannya pagi ini. Sungguh. Di perjalanan dari truk ke kamarnya semalam, ia sudah menyusun formulasinya: informasi ini ia dapat malam sebelum operasi Ruslan, ia kembali ke terminal karena ada indikasi pergerakan yang perlu dikonfirmasi, dan ini relevan karena Baron yang sedang audit internal berarti lingkungan terminal akan semakin tidak aman untuk kehadiran Ari Amsari dalam waktu dekat.

Formulasi itu masuk akal. Tidak ada yang salah dari informasinya. Hanya konteksnya yang memerlukan pengakuan bahwa ia pergi tanpa memberitahu siapapun.

Tapi Satria sudah melanjutkan ke hal berikutnya, Arfan sudah kembali ke layarnya, dan momen untuk formulasi yang sudah ia susun itu terlewat dengan cara yang tidak sepenuhnya tidak ia sengaja.

Damar keluar dari rumah hijau jam delapan.

Terminal siang hari berbeda dari terminal malam hari dengan cara yang lebih dari sekadar cahaya.

Malam, terminal punya jenis kepadatan yang horizontal, orang-orang tersebar di warung-warung dan pos-pos dengan ritme yang ditentukan oleh shift dan setoran dan kapan muatan datang. Siang, kepadatannya vertikal, tumpuk-menumpuk, lebih banyak suara, lebih banyak gerak, lebih sedikit ruang untuk sesuatu yang tidak ingin ketahuan.

Damar masuk ke warung Mbak Yani dengan cara yang sudah ia lakukan ratusan kali dan duduk di bangku yang sudah hafal bentuk duduknya.

Atmosfer hari ini sedikit berbeda.

Bukan secara dramatis. Tidak ada yang berdiri di sudut berbisik-bisik dengan wajah tegang. Tapi ada pergeseran kecil dalam cara orang-orang bergerak, cara beberapa percakapan berhenti satu detik lebih cepat dari biasanya ketika seseorang baru masuk, cara tertentu orang memesan sesuatu sambil melirik ke arah yang tidak perlu dilirik kalau tidak ada alasannya.

Ruslan belum ada di mana-mana sejak kemarin malam.

Belum tentu semua orang tahu ini. Tapi orang-orang terminal punya cara tersendiri untuk merasakan ketika sebuah simpul dalam jaringan yang tidak pernah secara resmi ada tiba-tiba tidak ada lagi. Seperti merasakan perubahan tekanan udara sebelum hujan, bukan karena mereka melihat mendung tapi karena tubuh mereka sudah belajar.

"Ari."

Jefri muncul dari arah toilet belakang, menepuk bahunya dari samping dengan cara yang sudah menjadi salam standar mereka.

"Jef."

"Lo tadi dari mana? Udah nggak keliatan dari kemarin."

"Urusan." Kata yang sama dengan kemarin. Tidak kreatif, tapi cukup untuk orang yang tidak menuntut elaborasi.

Jefri duduk di seberangnya. Memesan es teh dari Mbak Yani yang sudah menaruh kopi hitam di depan Damar tanpa diminta. Ia kelihatan seperti Jefri yang biasa, cara ia duduk dengan satu kaki di bawah pantat karena kursinya sedikit tinggi, cara ia menata rokoknya di tepi meja supaya gampang dijangkau.

Tapi ada sesuatu.

Damar bisa merasakannya sebelum Jefri bicara. Empat tahun belajar membaca orang di tempat yang tidak mengampuni kesalahan baca memberikannya semacam reseptor untuk hal-hal yang belum diucapkan. Dan Jefri yang sedang menahan sesuatu tidak persis sama dengan Jefri yang sedang santai, meski bedanya kecil.

Lihat selengkapnya