GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #10

YANG TAK MUNCUL

Dua hari setelah Ruslan hilang, terminal berubah cara bernapasnya.

Bukan perubahan yang bisa ditunjuk ke satu hal konkret. Lebih seperti perubahan yang terjadi di seluruh ekosistem ketika ada sesuatu yang seharusnya ada tidak lagi ada, ketika tubuh yang sudah terbiasa dengan kehadiran satu gravitasi tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan kevakumannya. Orang-orang masih datang dan pergi, muatan masih masuk dan keluar, setoran masih berjalan karena setoran tidak pernah berhenti, tapi ada sesuatu di bawah semua itu yang berbeda.

Seperti suara yang menghilang dari kota setelah bertahun-tahun ada, dan ketidakhadirannya lebih terdengar dari kehadirannya dulu.

Damar duduk di pos tambal ban yang sudah menjadi salah satu titik pengamatannya sejak dua tahun pertama sebagai Ari, pura-pura memerhatikan ponselnya, memantau jalur retribusi dari sudut matanya.

Baron belum turun hari ini. Tapi orang-orangnya sudah turun sejak pagi.

Bukan dengan cara yang mencolok. Mereka bergerak dengan cara yang terlihat seperti aktivitas biasa bagi siapapun yang tidak tahu cara membedakan orang yang ada di sebuah tempat karena memang urusannya di sana dan orang yang ada di sebuah tempat karena sedang memeriksa sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tidak diajukan secara langsung, tidak dengan cara yang bisa dipermasalahkan. Lebih seperti percakapan yang menumpang pada percakapan lain, nama-nama yang disebut seperti bukan nama yang sedang dicari tapi nama yang disebutkan karena terlibat dalam cerita yang sedang diceritakan.

Cara yang efisien. Cara yang sudah teruji.

Damar memindahkan perhatiannya dari jalur ke Pak Hasan di lapak rokok, lima belas meter ke arah kanannya. Pak Hasan sedang melayani pembeli, wajahnya datar, cara tubuhnya berdiri di belakang etalase kaca dengan posisi yang sedikit lebih kaku dari biasanya.

Mereka sudah ke sana.

Dua jam kemudian, Pak Hasan melewati pos tambal ban dengan tas plastik di tangan, berjalan dengan kecepatan orang yang sedang ke suatu tempat. Ia tidak berhenti. Ia tidak menoleh. Tapi ketika melewati Damar, ia menjatuhkan satu bungkus rokok di dekat kaki Damar dengan cara yang bisa terlihat seperti jatuh dari tasnya.

Damar mengambilnya. Pak Hasan sudah empat langkah lebih jauh.

Di dalam bungkus rokok itu, di antara batang-batang kretek yang masih utuh, ada kertas kecil yang dilipat dua kali.

Damar tidak membukanya di sana. Ia berdiri, memasukkan bungkus rokok ke sakunya, dan berjalan ke arah toilet umum terminal yang gelap dan berbau tetapi punya satu kelebihan: tidak ada kamera yang bekerja di dalamnya sejak dua tahun lalu dan tidak ada yang memperbaikinya.

Di dalam, ia membuka kertasnya.

Tulisan tangan yang rapi tapi cepat, tiga baris:

tadi pagi orang baron nanya soal lo nama ari disebut dua kali ati-ati

Di rumah Baron, malam itu, lampu ruang kerja masih menyala.

Baron duduk di kursi kerjanya, di depan meja yang permukaannya lebih luas dari yang diperlukan oleh dokumen-dokumen yang ada di atasnya, menatap sesuatu di tengah meja yang tidak konkret. Tangannya tidak bergerak. Kopinya sudah dingin sejak setengah jam lalu tapi tidak ia sentuh.

Ruslan sudah tiga hari tidak ada.

Bukan tiga hari yang biasa. Baron sudah cukup lama di bisnis ini untuk tahu perbedaan antara orang yang menghilang karena sedang bersembunyi dan orang yang menghilang karena seseorang membuat ia menghilang. Ruslan tidak punya alasan untuk bersembunyi, tidak punya cukup uang untuk kabur, dan tidak punya jenis musuh yang biasanya hanya memindahkan seseorang dari satu kota ke kota lain tanpa kabar.

Ada yang mengambil Ruslan.

Dan belum ada yang tahu siapa.

Itu yang membuat Baron tidak bisa menjadi tenang dengan cara biasanya. Ia bisa marah kepada musuh yang dikenal. Ia bisa mengambil tindakan terhadap masalah yang punya wajah. Tapi masalah yang tidak punya wajah hanya bisa dikerjakan dengan satu cara: mengurangi ketidaktahuan sedikit demi sedikit sampai wajahnya mulai terlihat.

Itulah yang sedang ia lakukan dua hari ini. Dan itulah yang belum cukup menghasilkan apa yang ia inginkan.

Langkah kaki di belakangnya.

Baron tidak menoleh. Ia sudah hafal suara langkah itu sejak lama, hafal cara setiap orang di rumah ini berjalan dan apa yang biasanya mereka inginkan dari arah yang mereka datangi. Dan langkah ini, dengan kecepatan dan beratnya yang khas, mengatakan bahwa yang datang tidak sedang membawa laporan atau pertanyaan tentang makan malam.

Tangan Lilis mendarat di bahunya dari belakang.

Bukan pelan. Lilis tidak pernah mendekatinya dengan cara yang pura-pura tidak tahu apa yang ia mau. Dua jarinya menekan di sisi kanan leher Baron, menemukan titik yang mengeras persis di tempat yang selalu mengeras ketika suaminya sedang menahan sesuatu terlalu lama di kepalanya.

"Sudah berapa lama lo duduk di sini?" tanya Lilis.

"Nggak lama."

"Kopinya dingin."

Baron tidak menjawab itu.

Lilis memindahkan tangannya ke sisi kiri, tekanan yang sama, titik yang sama. Baron memejamkan matanya sebentar, membiarkan sesuatu yang tegang di sepanjang trapezius-nya mengendur sedikit.

"Masih belum ketemu siapa yang ambil Ruslan?" tanya Lilis.

"Belum."

Lihat selengkapnya