GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #11

MEMBUNUH ARI

Untuk membunuh seseorang yang tidak pernah benar-benar ada, kamu perlu lebih banyak persiapan daripada untuk membunuh orang sungguhan.

Damar menghabiskan sepanjang pagi menyiapkan kematian Ari Amsari.

Ia tidak melakukannya di terminal. Ia melakukannya dari kontrakannya, dari ponsel Ari yang untuk terakhir kali ia hidupkan, menanam benih di beberapa tempat yang tepat. Satu pesan ke seorang pengepul barang bekas yang pernah berutang budi kepada Ari, berisi kalimat-kalimat yang cukup ambigu untuk terdengar seperti orang yang sedang panik soal utang. Satu percakapan telepon dengan Mul, tetangga kontrakan lama yang mulutnya lebih cepat dari otaknya, di mana Ari menyebutkan dengan nada gugup bahwa ia "ada masalah sama orang" dan mungkin harus "pergi sebentar."

Mul akan menceritakan ini ke setengah terminal dalam dua hari. Itu gunanya Mul.

Damar sudah menghitung semuanya. Ari Amsari yang menghilang karena utang dan masalah dengan orang yang tidak disebut namanya adalah cerita yang cukup lengkap untuk membuat Baron berhenti mencari. Orang yang kabur karena masalahnya sendiri tidak menarik untuk dikejar. Ia hanya satu lagi orang terminal yang tenggelam ke dalam kota yang cukup besar untuk menelan siapapun yang ingin hilang.

Semua ini bisa dilakukan tanpa pergi ke terminal sama sekali.

Damar tahu ini. Ia sudah merancang seluruh operasi kematian Ari sedemikian rupa sehingga tidak ada satu langkah pun yang secara teknis memerlukan kehadirannya secara fisik di sana.

Sore itu ia pergi ke terminal.

Cahaya sudah mulai jingga ketika ia sampai. Jam-jam ketika terminal berada di antara dua ritmenya, ketika kesibukan siang mulai reda tapi kepadatan malam belum datang, ketika bayangan memanjang di antara bus-bus yang parkir dan warung-warung mulai menyalakan lampu mereka satu per satu.

Warung Mbak Yani baru saja menyalakan lampunya.

Jefri ada di meja biasanya.

Damar berdiri di seberang jalan selama beberapa detik sebelum menyeberang. Ia melihat Jefri dari jarak itu, Jefri yang sedang menonton sesuatu di ponselnya sambil sesekali tertawa sendiri, Jefri yang tidak tahu bahwa orang yang sedang menatapnya dari seberang jalan sudah datang untuk terakhir kali.

Ia menyeberang.

"Ari!" Jefri langsung mengangkat kepalanya, senyumnya melebar dengan cara yang selalu sama, tulus tanpa perlu dipikir. "Tumben sore. Biasanya lo malem."

"Lagi pengen aja." Damar duduk di seberangnya.

Mbak Yani datang dengan kopi hitam sebelum ia sempat memesan, meletakkannya di depan Damar. "Mas Ari. Lama nggak kesini siang-siang."

"Iya, Mbak. Kangen kopi Mbak."

"Halah, bisa aja." Tapi ada sesuatu di sudut bibir Mbak Yani yang menunjukkan bahwa kalimat itu, meski basa-basi, tetap mendarat di suatu tempat. Ia kembali ke dapur.

Damar memegang kopinya dengan dua tangan.

Masih panas. Uapnya naik ke wajahnya, membawa aroma yang sudah empat tahun menjadi bagian dari sore dan malamnya, aroma yang tidak akan pernah lagi ia hirup dari cangkir yang disodorkan tanpa diminta oleh perempuan yang menghafal pesanannya dari jauh sebelum ia duduk.

"Lo kenapa sih?" tanya Jefri, meletakkan ponselnya.

"Kenapa apa?"

"Muka lo. Kayak orang lagi mikirin sesuatu yang berat."

Damar tersenyum. Senyum Ari. "Nggak ada apa-apa, Jef."

"Bohong."

Damar minum kopinya. "Ada sedikit masalah. Tapi bukan yang gede."

Jefri mengangkat alisnya, menunggu.

Dan di sinilah Damar mulai membunuh Ari.

Ia menceritakan cerita yang sudah ia siapkan. Utang. Orang yang menagih. Situasi yang mulai tidak aman untuk tetap di sekitar sini. Ia menceritakannya dengan takaran yang tepat, tidak terlalu detail sampai terdengar mengarang, tidak terlalu samar sampai terdengar menyembunyikan. Cerita yang cukup untuk membuat Jefri mengangguk-angguk dengan wajah prihatin, cukup untuk membuat Jefri percaya bahwa temannya sedang dalam masalah yang wajar, jenis masalah yang menimpa orang-orang terminal setiap saat.

Cerita yang seluruhnya bohong.

Lihat selengkapnya