GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #9

DI BAWAH ANGKA

Arfan tidak tidur semalaman.

Bukan karena ada yang mengharuskannya. Tapi ada tahap tertentu dalam pekerjaan yang ia lakukan di mana tidur terasa seperti membuang momentum yang sudah susah payah dibangun, ketika pola yang sedang ia lacak masih setengah terlihat dan ia tidak mau melepaskan benang itu ke kegelapan karena tidak ada jaminan bahwa ia akan menemukan ujungnya lagi dari awal.

Wiryo ada di tengah layarnya dalam tiga jendela berbeda.

Jendela pertama: PT Manggala Konsultindo, perusahaan konsultansi manajemen dan bisnis yang berdiri tujuh tahun lalu, beralamat di lantai tujuh gedung yang tidak penting di kawasan pusat. Dua belas karyawan tetap, empat yang keluar masuk dalam tiga tahun terakhir. Laporan keuangan tahunan diaudit oleh kantor akuntan publik yang kecil tapi resmi, tidak ada catatan sanksi atau pemeriksaan pajak.

Jendela kedua: aliran masuk. Dari mana uang datang ke PT Manggala Konsultindo. Dalam tiga tahun terakhir, ada dua belas klien yang tercatat dalam laporan keuangannya. Semua terlihat sah. Semua bayar dengan transfer bank yang bisa dilacak. Tapi kalau Arfan menumpuk tanggal transfer dari semua klien itu dan membandingkannya dengan tanggal-tanggal tertentu dalam kalender yang hanya ia yang tahu relevansinya, pola yang muncul bukan pola klien bisnis biasa. Ini pola distribusi. Aliran yang teratur, berjeda sama, dan nilainya selalu dalam kelipatan yang terlalu bersih untuk benar-benar organik.

Jendela ketiga: aliran keluar. Dan di sinilah Arfan menghabiskan sebagian besar malamnya.

PT Manggala Konsultindo menyalurkan sebagian besar pendapatannya ke enam entitas. Enam entitas itu berbentuk holding company, masing-masing terdaftar di alamat berbeda tapi semua menggunakan notaris yang sama di Jakarta Selatan, dan semuanya berdiri dalam jangka waktu enam bulan yang persis sama. Enam bulan, enam holding company, satu notaris, nol direktur yang namanya bisa dilacak lebih jauh dari kertas itu sendiri.

Nominee. Semuanya. Nama-nama di atas kertas yang tidak punya wajah nyata di baliknya, atau punya wajah tapi wajah yang tidak tahu bahwa nama mereka sedang dipakai untuk sesuatu yang lebih besar dari yang mereka tanda tangani.

Di atas enam holding company itu, Arfan bisa melihat bahwa ada satu titik konvergensi. Satu tempat di mana semua aliran itu akhirnya bermuara, meski jalurnya diputar-putar melalui cukup banyak lapisan untuk membuat orang yang tidak sabar berhenti sebelum sampai ke sana.

Tapi nama di titik konvergensi itu masih belum terlihat. Ia hanya bisa melihat bentuknya, seperti orang yang tahu ada sesuatu di balik kaca yang berembun tapi belum bisa membedakan apakah itu kursi atau pohon atau manusia.

Arfan menyandarkan punggungnya ke kursi, menegangkan lehernya ke kanan dan ke kiri sampai berbunyi dua kali, dan menulis satu catatan di sudut layarnya: satu tangan. semua ini satu tangan.

Satria masuk ke ruang kerja Arfan jam delapan pagi dengan dua cangkir kopi, meletakkan satu di sisi meja yang tidak ada laptopnya, dan duduk di kursi yang Arfan geser ke sebelahnya.

Arfan menjelaskan. Bukan dengan banyak kata, karena ia tidak punya banyak kata untuk hal-hal yang lebih mudah ditunjukkan dari diucapkan. Ia memutarkan layarnya ke arah Satria dan memandu dengan jarinya: ini alirannya, ini titik-titik konvergensinya, ini yang belum bisa dilihat.

Satria mendengarkan tanpa memotong.

"Wiryo adalah penyangga," kata Arfan ketika ia selesai. "Ruslan benar. Tapi Wiryo juga bukan puncaknya. Ia hanya lapisan sebelum puncak."

"Berapa lama untuk menembus lapisan itu?"

Arfan mempertimbangkan ini dengan jujur. "Kalau gue bisa masuk ke sistem notarisnya, dua sampai tiga hari. Kalau gue harus dari luar saja, mungkin seminggu. Mungkin lebih. Dan ada kemungkinan bahwa nama yang ada di puncak itu tidak akan pernah muncul secara langsung di dokumen mana pun."

"Maksudnya?"

"Maksudnya ada orang yang cukup pintar dan cukup lama di permainan ini untuk tahu bahwa nama yang tidak pernah tertulis di mana pun tidak bisa ditemukan lewat kertas." Arfan menutup satu jendela di layarnya, menyisakan dua. "Kalau kita mau sampai ke sana, kita butuh sumber yang lebih dekat. Bukan data. Orang."

Satria melihat ke titik yang ada di tengah-tengah antara layar dan dinding di belakangnya. Cara ia berpikir sambil menatap sesuatu yang tidak sepenuhnya ada di sana.

"Ucok," katanya akhirnya.

Arfan mengangguk. "Ucok lebih dekat ke Wiryo dari Ruslan. Kalau Ruslan tahu nama Wiryo, Ucok mungkin tahu cara mengakses Wiryo."

"Jadwal Ucok?"

Lihat selengkapnya