GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #12

SATU NAMA DI ATAS SEGALANYA

Arfan menemukan nama itu pada hari keempat, jam tiga pagi.

Ia tidak langsung memberitahu siapapun. Bukan karena ingin menyimpannya, tapi karena ada perbedaan antara menemukan sebuah nama dan yakin bahwa nama itu adalah nama yang benar, dan Arfan sudah cukup lama melakukan pekerjaan ini untuk tahu bahwa nama yang salah, yang disampaikan dengan keyakinan, lebih berbahaya dari tidak ada nama sama sekali.

Ia menghabiskan tiga jam berikutnya memverifikasi.

Nama itu muncul dari titik konvergensi yang selama ini hanya terlihat sebagai bentuk di balik kaca berembun. Enam holding company yang berdiri dalam enam bulan dengan satu notaris. Aliran dari PT Manggala Konsultindo yang berputar melalui lapisan-lapisan yang dirancang untuk melelahkan siapapun yang mencoba mengikutinya. Dan di ujung semua itu, di tempat di mana semua jalur akhirnya bertemu setelah cukup banyak putaran untuk membuat sebagian besar orang menyerah, ada satu nama yang tidak pernah tertulis di dokumen mana pun secara langsung.

Baskoro Wibowo.

Arfan menemukan nama itu bukan dari dokumen yang menyebutkannya, tapi dari pola dokumen-dokumen yang dengan sengaja tidak menyebutkannya. Sebuah nama yang keberadaannya justru dikonfirmasi oleh cara semua orang lain diletakkan di sekitar tempat kosong yang seharusnya ia tempati. Seperti melihat bentuk seseorang dari lubang yang mereka tinggalkan di keramaian.

Ia menuliskannya di catatan, lalu menatap nama itu cukup lama.

Baskoro Wibowo bukan nama yang asing sepenuhnya. Ia adalah nama yang muncul sesekali di media bisnis sebagai investor, filantropis, salah satu dari sekian banyak orang kaya yang namanya muncul di acara-acara amal dan peresmian dan tidak pernah dalam konteks yang mengundang pertanyaan. Nama yang bersih. Nama yang cukup jauh dari dunia yang tim ini geluti untuk terasa seperti berada di kategori yang berbeda sama sekali.

Tapi angka-angkanya tidak berbohong.

Semua yang mengalir dari bawah, dari setoran terminal, dari jalur-jalur yang Ruslan dan Ucok dan orang-orang seperti mereka kelola, setelah cukup banyak lapisan, bermuara ke tempat yang sama dengan tempat di mana Baskoro Wibowo berdiri.

Arfan tidak tidur sisa malam itu.

Ia menyampaikannya ke Satria jam tujuh pagi, ketika rumah hijau masih dalam ritme paginya yang pelan.

"Gue nemu nama," kata Arfan. Ia tidak memutar layarnya kali ini. Ia hanya duduk di seberang Satria dengan cangkir kopi yang ketiga atau keempat pagi itu. "Tapi gue nggak yakin gue mau nemu nama ini."

Satria menunggu.

"Baskoro Wibowo."

Nama itu tidak langsung berarti apapun bagi Satria. Damar, yang kebetulan ada di ruangan itu untuk mengembalikan sesuatu, juga tidak menangkap reaksi apapun dari nama itu, karena bagi keduanya nama itu masih hanya susunan suku kata yang belum punya bobot.

"Siapa dia?" tanya Satria.

"Secara resmi? Investor. Punya saham di beberapa perusahaan yang namanya bersih semua. Muncul di berita bisnis sesekali. Nggak pernah ada catatan buruk, nggak pernah ada masalah hukum, nggak pernah ada apapun yang bikin orang curiga." Arfan meminum kopinya. "Secara tidak resmi, dari yang gue lacak, semua aliran uang yang kita ikuti dari bawah berakhir di dekat dia. Bukan di tangannya langsung. Tapi cukup dekat untuk bukan kebetulan."

"Seberapa yakin?"

"Delapan puluh persen. Dua puluh persennya karena gue nggak bisa nemu satu dokumen pun yang secara langsung menghubungkan dia. Semuanya lewat perantara, lewat nominee, lewat lapisan-lapisan yang dirancang supaya namanya nggak pernah muncul."

Satria memproses ini.

"Dua puluh persen keraguan itu bisa berarti dua hal," katanya. "Bisa berarti dia bukan orangnya. Atau bisa berarti dia justru orangnya, karena hanya orang yang benar-benar besar yang bisa memastikan namanya nggak pernah muncul di mana pun."

"Itu yang gue pikirin juga," kata Arfan. "Dan itu yang bikin gue nggak tidur semalem."

Satria berdiri, berjalan ke peta di dinding, menatapnya. Peta yang selama ini penuh dengan simpul-simpul lapisan bawah, dengan nama-nama yang bisa disentuh, dengan jalur-jalur yang bisa ditelusuri dengan tangan. Sekarang ada satu nama yang tidak ada tempatnya di peta itu karena ia terlalu tinggi untuk masuk ke skala yang peta itu gunakan.

Lihat selengkapnya