GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #13

PELABUHAN

Ucok bekerja dari sebuah gudang di area pelabuhan yang secara resmi adalah tempat penyimpanan barang impor dan secara tidak resmi adalah salah satu titik transit terpenting di seluruh jaringan lapisan bawah kota ini.

Berbeda dengan Ruslan yang mengandalkan kebiasaan dan rasa aman yang berlebihan, Ucok lebih hati-hati. Ia jarang datang ke tempat yang sama dua kali dalam pola yang bisa diprediksi. Ia selalu punya minimal dua orang di dekatnya. Dan gudang yang ia gunakan malam itu punya hanya satu jalan masuk yang mudah dan beberapa jalan keluar yang hanya diketahui oleh orang yang sudah lama bekerja di sana.

Ini membuat operasi terhadap Ucok memerlukan pendekatan yang berbeda.

Arfan menghabiskan tiga hari memetakan ritme gudang itu, kapan orang paling sedikit, kapan pergantian shift terjadi, kapan Ucok biasanya sendirian di ruang kantornya di lantai dua untuk menghitung dan mencocokkan angka. Fajar dan Bang Bam mempelajari titik-titik masuk. Satria menyusun urutannya.

Malam operasi, mereka masuk melalui jalur bongkar muat yang sudah kosong karena kapal terakhir hari itu sudah selesai dibongkar tiga jam sebelumnya.

Ada tiga orang di gudang malam itu selain Ucok.

Dua adalah orang Ucok, penjaga yang lebih fungsional sebagai simbol daripada pertahanan nyata, jenis orang yang direkrut karena tubuhnya besar bukan karena kemampuannya. Fajar dan Bang Bam menangani keduanya tanpa suara yang cukup untuk sampai ke lantai dua.

Orang ketiga bukan orang Ucok.

Ia adalah staf administrasi. Seorang laki-laki kurus berusia sekitar empat puluhan dengan kacamata yang salah satu gagangnya diperbaiki dengan lakban, duduk di meja kecil di sudut lantai satu dengan tumpukan buku catatan dan kalkulator dan lampu meja yang cahayanya membuat lingkaran kuning kecil di kegelapan gudang.

Ia mencatat. Itu pekerjaannya. Ia mencatat berapa yang masuk, berapa yang keluar, ke mana perginya, dari mana datangnya. Ia adalah orang yang mengubah pergerakan barang gelap menjadi angka yang rapi di buku catatan, dan ia melakukannya dengan ketelitian orang yang bangga pada pekerjaannya meski pekerjaannya adalah membukukan kejahatan.

Ketika Damar dan Satria masuk ke lantai satu, laki-laki itu mendongak dari bukunya.

Ia tidak berteriak. Ia tidak lari. Ia hanya membeku, tangannya masih memegang pulpen di atas halaman yang setengah terisi, matanya membesar di balik kacamata yang gagangnya dilakban.

Satria meletakkan satu jari di bibirnya.

Laki-laki itu mengangguk pelan, gemetar, dan tidak mengeluarkan suara.

Ucok di lantai dua persis seperti yang Arfan prediksi: sendirian, di depan meja penuh angka, kemeja yang lengannya digulung, secangkir kopi dan asbak penuh puntung.

Ia tidak sesiap yang ia kira.

Ketika pintu ruangannya terbuka dan tiga orang masuk, Ucok melakukan perhitungan cepat yang sama seperti Ruslan, tapi sampai pada kesimpulan yang berbeda lebih cepat. Ruslan mencoba menawar karena Ruslan percaya ia punya sesuatu yang bisa ditawar. Ucok, melihat siapa yang masuk dan cara mereka masuk, langsung tahu bahwa posisinya jauh lebih buruk dari itu.

"Gue nggak bakal teriak," kata Ucok, cepat, mengangkat kedua tangannya sedikit. "Gue nggak bakal teriak. Kita ngomong aja."

Satria menutup pintu di belakangnya.

"Duduk," katanya.

Ucok sudah duduk. Ia duduk lebih dalam ke kursinya, seolah bisa menjauh dari situasi dengan menekan punggungnya ke sandaran.

"Lo mau apa?" tanya Ucok. Suaranya sudah kehilangan sebagian besar kestabilannya. "Uang? Gue punya. Informasi? Gue kasih. Apa aja. Gue nggak mau ada masalah."

"Wiryo," kata Satria.

Nama itu membuat Ucok diam sebentar. Bukan diam karena tidak tahu. Diam karena tahu, dan sedang mengkalkulasi apa artinya bahwa orang-orang ini sudah sampai ke nama itu.

"Kalian tau Wiryo," kata Ucok pelan.

"Kami tahu Wiryo. Kami mau tahu yang di atas Wiryo."

Ucok menelan sesuatu. Matanya bergerak dari Satria ke Damar ke pintu dan kembali ke Satria. "Yang di atas Wiryo bukan sesuatu yang gue mau tau, apalagi ngomongin."

"Tapi kamu tahu."

Lihat selengkapnya