GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #14

YANG DIHITUNG LARAS

Ada orang yang berdoa ketika mereka takut, dan ada orang yang menghitung. Laras selalu menghitung.

Ia belajar menghitung sejak kecil, bukan karena ada yang mengajarinya tapi karena tidak ada yang lain yang bisa ia andalkan. Ibunya bekerja terlalu keras dan terlalu lelah untuk menjadi tempat bertanya tentang hal-hal yang tidak punya jawaban mudah, dan ayahnya adalah kekosongan berbentuk manusia, sebuah tempat di dalam dirinya yang selalu ada tapi tidak pernah bisa disentuh. Jadi Laras belajar menghitung. Menghitung berapa yang tersisa di akhir bulan. Menghitung seberapa jauh ia bisa mempercayai seseorang sebelum kepercayaan itu menjadi kelemahan. Menghitung jarak antara apa yang orang katakan dan apa yang sebenarnya mereka maksudkan.

Malam ini, di kamarnya di rumah hijau, ia sedang menghitung dua hal sekaligus.

Di atas mejanya ada dua benda.

Yang pertama adalah selembar catatan. Bukan catatan operasi tim, meski sekilas terlihat seperti itu. Ini adalah catatan yang ia susun sendiri, dari informasi yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama berminggu-minggu dari sumber yang tidak ia sebutkan kepada siapapun di rumah ini. Tanggal-tanggal. Sebuah garis waktu.

Di puncak garis waktu itu ada satu tanggal yang dilingkari: kapan proyek investasi besar itu dimulai. Proyek yang menjadi alasan seluruh operasi "bersih-bersih" ini ada. Proyek yang membutuhkan kota yang tenang, jaringan bawah yang sudah dibersihkan dari elemen-elemen yang tidak bisa dikendalikan, iklim yang cukup stabil untuk membuat mitra dari luar merasa uang mereka aman.

Laras tahu tentang proyek itu lebih banyak dari yang ia sampaikan kepada tim. Ia tahu kapan dimulainya. Ia tahu berapa besar yang dipertaruhkan. Dan ia tahu, dari cara ia menghitung, bahwa ada jendela waktu yang sangat spesifik yang sedang terbuka sekarang dan akan tertutup ketika proyek itu resmi berjalan.

Jendela itu adalah tentang Satria.

Selama jendela itu terbuka, membunuh Satria terlalu mahal. Satria adalah agen yang dikenal oleh institusi, seseorang yang kematiannya akan memicu penyelidikan, keributan, perhatian, hal-hal yang paling tidak diinginkan oleh seseorang yang sedang membangun citra bersih menjelang proyek terbesar dalam kariernya. Selama jendela itu terbuka, Satria lebih aman sebagai musuh yang diam daripada sebagai martir yang berisik.

Tapi ketika jendela itu tertutup, ketika proyek sudah berjalan dan uang sudah masuk dan tidak ada lagi yang bisa dibatalkan hanya karena satu penyelidikan, perhitungannya berubah. Ketika itu terjadi, Satria hanya menjadi satu lagi variabel yang bisa dihilangkan dengan biaya yang bisa ditanggung.

Laras sudah menghitung berapa lama jendela itu.

Dua belas bulan. Mungkin delapan belas kalau proyeknya tertunda.

Dua belas bulan adalah waktu yang cukup. Cukup untuk Satria menemukan jalan lain. Cukup untuk keadaan berubah. Cukup untuk banyak hal yang tidak bisa ia prediksi tapi harus ia percayai bisa terjadi, karena alternatif dari mempercayai itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia tanggung.

Itu adalah kalkulasi pertama.

Benda kedua di atas mejanya adalah sebuah foto.

Ia meletakkannya menghadap ke bawah.

Bukan karena ia tidak mau melihatnya. Ia hafal setiap detail foto itu tanpa perlu membaliknya. Ia tahu persis bagaimana cahaya jatuh di wajah perempuan dalam foto itu, bagaimana perempuan itu tersenyum dengan cara orang yang tidak terbiasa difoto, bagaimana latar belakangnya adalah halaman rumah yang catnya sudah pudar tapi masih dirawat dengan telaten oleh orang yang tidak punya banyak tapi menjaga yang sedikit itu dengan sepenuh hati.

Laras meletakkannya menghadap ke bawah karena setiap kali ia melihatnya, ia merasa seperti sedang mencuri.

Lihat selengkapnya