GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #15

YANG SUDAH TAHU LEBIH DULU

Damar menunggu sampai rumah hijau masuk ke ritme malamnya yang paling sepi.

Ia sudah memutuskan untuk melapor tiga hari lalu, tapi memberi dirinya tiga hari itu untuk memastikan bahwa yang akan ia laporkan bukan pola yang ia bangun sendiri dari kepingan yang sebenarnya tidak berhubungan. Selama tiga hari itu ia mengamati lebih teliti, dan tiga hari itu tidak mengurangi apa yang ia lihat. Justru menambahnya.

Ada empat item di raknya sekarang.

Nada suara Laras yang terlalu terkontrol saat menelepon ibunya. Cara tangannya melepaskan pulpen ketika nama Baskoro disebut. Catatan jadwal dengan nama Baskoro yang sudah ada di sana sebelum tim menemukannya. Dan yang keempat, dari tiga hari terakhir: cara Laras mengambil ponsel operasional keluar dari ruangan pada dua malam yang berbeda, kembali dengan wajah yang sudah diatur, dan tidak pernah, tidak sekali pun, meninggalkan ponsel itu di tempat di mana orang lain bisa memegangnya.

Empat item. Cukup untuk sebuah pola. Belum cukup untuk sebuah kepastian, tapi cukup untuk sesuatu yang tidak bisa lagi ia simpan sendiri tanpa menjadi bagian dari masalah.

Ia mengetuk kusen pintu ruang kerja. Satria ada di dalam, sendirian, seperti hampir setiap malam.

"Ada waktu?" tanya Damar.

Satria menoleh. Sesuatu dalam cara ia menoleh, atau mungkin dalam cara Damar berdiri di ambang pintu, membuat Satria langsung tahu bahwa ini bukan laporan operasional biasa.

"Masuk," katanya. "Tutup pintunya."

Damar menyampaikannya dengan cara yang sudah ia latih dalam kepalanya berkali-kali: kronologis, faktual, tanpa kesimpulan yang dibebankan di depan. Ia menyampaikan keempat item satu per satu, dengan nada yang ia usahakan terdengar seperti laporan lapangan, seperti sesuatu yang ia amati dan bukan sesuatu yang ia rasakan.

Ia tidak menyebut kata pengkhianatan. Ia tidak menyebut nama untuk apa yang ia curigai. Ia hanya meletakkan keempat item di atas meja, secara verbal, dan membiarkan Satria melihat bentuk yang mereka bentuk ketika disatukan.

Satria mendengarkan sampai selesai.

Ia tidak memotong. Ia tidak bertanya klarifikasi di tengah. Ia hanya duduk, tangannya di atas meja, matanya pada Damar tapi tidak sepenuhnya pada Damar, seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu dan sekaligus sedang mendengarkan sesuatu yang lain di dalam dirinya.

Ketika Damar selesai, ruangan itu masuk ke keheningan.

Bukan keheningan yang panjang. Tapi keheningan yang punya berat, keheningan di mana sesuatu sedang terjadi di dalam salah satu orang di ruangan itu yang tidak ditampilkan di permukaan.

"Itu saja?" tanya Satria akhirnya.

"Itu saja yang saya punya."

Satria mengangguk pelan. Ia memindahkan pandangannya dari Damar ke titik di atas meja, ke tempat kosong di antara mereka berdua.

"Terima kasih sudah membawa ini," kata Satria.

Dan kemudian, sesuatu dalam cara ia mengatakannya, sesuatu dalam bagaimana ia tidak terkejut, bagaimana tidak ada satu pun dari keempat item itu yang tampak baru baginya, membuat Damar menyadari sesuatu yang seharusnya sudah ia sadari lebih cepat.

"Kamu sudah tahu," kata Damar.

Lihat selengkapnya