GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #17

TERAS

Malam sebelum operasi Kamis, Laras sudah ada di teras ketika Satria keluar.

Ia tidak kaget mendengar langkah Satria di belakangnya. Ia sudah mendengarnya sejak di dalam, mengenali ritme langkah itu dari cara Satria selalu berjalan sedikit lebih pelan di malam hari, seolah malam adalah sesuatu yang tidak ingin ia ganggu lebih dari perlu.

Teras itu menghadap ke halaman belakang yang gelap, ke pagar tinggi yang memisahkan rumah dari jalan, ke pohon mangga tua yang sudah lama tidak berbuah tapi tidak pernah ditebang. Tidak ada lampu yang menyala di luar. Hanya cahaya samar dari dalam rumah yang menembus melalui jendela, dan di atas, langit yang tidak berbintang karena kota terlalu terang untuk membiarkan bintang terlihat.

Satria duduk di bangku kayu panjang di sebelah Laras. Bangku yang catnya sudah mengelupas di satu sisi, yang sudah ada di teras ini lebih lama dari siapapun yang sekarang tinggal di rumah ini.

Mereka tidak berbicara.

Ini bukan hal yang tidak biasa di antara mereka. Keduanya sudah terbiasa dengan jenis keheningan yang tidak membutuhkan penjelasan, keheningan yang sudah menjadi bahasa tersendiri selama bertahun-tahun bekerja berdampingan. Ada malam-malam di masa lalu di mana mereka duduk seperti ini selama satu jam tanpa satu kata pun, dan keheningan itu tidak pernah terasa kosong.

Tapi malam ini keheningan itu berbeda.

Keduanya tahu itu berbeda. Dan keduanya memilih untuk tidak mengatakan apa yang membuatnya berbeda.

Beberapa menit berlalu.

Angin malam bergerak pelan melalui daun-daun pohon mangga, membawa bau tanah dan sesuatu yang samar dari dapur tetangga yang masak larut. Di kejauhan, sebuah motor lewat, suaranya naik lalu menghilang.

Satria meletakkan tangannya di atas tangan Laras.

Tangan Laras ada di atas lututnya, diam, dan Satria meletakkan tangannya di atas tangan itu. Bukan menggenggam. Tidak ada tekanan yang menuntut, tidak ada gerakan yang meminta sesuatu. Hanya diletakkan, seperti seseorang yang punya begitu banyak hal untuk dikatakan sehingga tidak tahu dari mana memulai, dan memutuskan bahwa sentuhan ini harus mengatakan apa yang kata-kata tidak bisa susun.

Lihat selengkapnya