Rencananya sederhana, dan kesederhanaan itulah yang seharusnya menjadi kekuatannya.
Dua tim, dua lokasi, satu malam. Satria memimpin tim pertama ke Rumah Enam untuk Darmono, dengan Damar dan Arfan. Fajar memimpin tim kedua ke sisi utara untuk Hendra, dengan Laras dan Bang Bam. Waktu eksekusi diselaraskan supaya tidak ada yang sempat memperingatkan yang lain. Dua simpul lapisan menengah, dibuka dalam satu malam, sebelum keduanya bisa saling memberi tahu bahwa jaringan sedang dibersihkan.
Semua sudah dihitung. Semua sudah dipetakan. Setiap orang tahu posisinya.
Yang tidak ada dalam perhitungan adalah bahwa salah satu dari mereka sudah memberikan seluruh rencana ini kepada pihak lain, beberapa jam sebelum malam dimulai.
RUMAH ENAM. 21:40.
Darmono lebih tenang dari Ruslan dan lebih terhormat dari Ucok.
Ia sudah paruh baya, rambut yang mulai memutih di pelipis, cara duduk yang menunjukkan seseorang yang sudah lama berada di posisi di mana orang lain yang gemetar di hadapannya, bukan sebaliknya. Ketika Satria dan Damar masuk ke ruang kerja di lantai atas Rumah Enam, Darmono tidak mencoba menawar dan tidak langsung ketakutan. Ia hanya menaruh pulpennya, menyandarkan punggungnya, dan menatap dua orang yang masuk dengan ekspresi orang yang sedang menilai situasi dengan tenang.
"Kalian yang mengambil Ruslan dan Ucok," katanya. Bukan pertanyaan.
Satria menutup pintu.
"Sudah kuduga cepat atau lambat akan sampai ke sini." Darmono meraih gelas air di mejanya, minum seteguk, meletakkannya kembali. "Kalian pikir kalian sedang membersihkan sesuatu."
"Kami tahu apa yang kami lakukan," kata Satria.
Darmono tersenyum. Bukan senyum mengejek. Senyum orang yang tahu sesuatu yang lawan bicaranya tidak tahu, dan sedang memutuskan seberapa banyak dari itu yang akan ia bagikan.
"Tidak," kata Darmono. "Kalian tidak tahu. Itu yang paling lucu dari semua ini."
Satria menarik kursi, duduk di depannya. "Jelaskan."
"Buat apa? Supaya kalian bisa merasa lebih baik atau lebih buruk?"
"Supaya kamu punya alasan untuk masih berguna."
Darmono menatapnya lama. Ada perhitungan di balik matanya, perhitungan orang yang tahu bahwa informasi adalah satu-satunya mata uang yang tersisa baginya malam ini.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan jelaskan, karena aku pikir kalian pantas tahu untuk siapa sebenarnya kalian bekerja selama ini."
SISI UTARA. 21:45.
Fajar tahu ada yang salah bahkan sebelum mereka sampai ke pintu.
Rumah Hendra terlalu gelap. Bukan gelap orang yang sedang tidur, bukan gelap orang yang sedang berhati-hati. Gelap yang berbeda, gelap yang punya kualitas tertentu yang sudah Fajar pelajari dalam dua tahun dinas dan bertahun-tahun setelahnya, gelap tempat sesuatu sudah terjadi.
Ia mengangkat tangan. Tim berhenti.
"Ada yang tidak beres," bisiknya.
Bang Bam, di sisinya, sudah merasakan hal yang sama. Ia tidak berkata apapun, hanya memindahkan berat badannya ke posisi yang lebih siap, matanya bergerak ke titik-titik di sekitar rumah yang bisa menyembunyikan seseorang.
Laras di belakang mereka, diam.
Fajar bergerak maju dengan hati-hati, menyusuri sisi rumah menuju pintu belakang yang sudah dipetakan sebagai titik masuk. Pintu itu tidak terkunci. Lebih buruk dari tidak terkunci: pintu itu sedikit terbuka, dengan cara pintu yang ditinggalkan oleh orang yang tidak peduli lagi apakah ada yang masuk atau tidak.
Ia mendorongnya pelan.
Bau itu sampai ke hidungnya sebelum matanya menyesuaikan diri dengan gelap. Bau yang tidak bisa disalahartikan oleh siapapun yang pernah menciumnya sebelumnya.