GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #19

PENGAKUAN

Satria tidak berteriak.

Itu yang paling tidak diharapkan oleh siapapun di ruangan itu, dan itu yang membuat apa yang terjadi berikutnya jauh lebih berat dari teriakan apapun. Orang-orang di ruangan itu, secara sadar atau tidak, sudah menyiapkan diri untuk ledakan. Untuk kemarahan yang meledak, untuk tuduhan yang dilemparkan, untuk sesuatu yang keras dan panas dan bisa dihadapi karena kekerasan dan kepanasan adalah hal-hal yang punya bentuk.

Satria tidak memberikan itu.

Ia berjalan ke tengah ruangan, berhenti beberapa langkah dari Laras, dan berbicara dengan nada yang sama persis seperti nada yang ia pakai untuk membuka briefing operasi. Datar. Terstruktur. Tanpa beban di permukaannya.

"Berapa lama."

Bukan pertanyaan. Tidak ada tanda tanya di ujungnya, tidak ada nada naik yang menandakan sesuatu sedang ditanyakan. Hanya dua kata, diletakkan di udara di antara mereka, menunggu.

Laras tidak menjawab langsung.

Ia menatap lantai sebentar, bukan karena tidak berani menatap Satria, tapi karena ada sesuatu yang perlu ia kumpulkan sebelum ia bisa mengangkat wajahnya. Kemudian ia mengangkatnya, dan menatap Satria, dan menjawab.

"Sebelum operasi Hendra."

Di sudut ruangan, Fajar mengeluarkan suara.

Bukan kata. Hanya udara yang keluar dari hidung, pendek dan tajam, suara orang yang baru saja mendengar sesuatu yang mengonfirmasi hal terburuk yang ia takutkan dan tidak punya kata untuk meresponsnya. Suara itu mengandung lebih banyak dari yang bisa diucapkan oleh kalimat apapun.

Bang Bam tidak bergerak. Ia berdiri di tempatnya, besar dan diam, matanya pada Laras tapi wajahnya tidak menunjukkan apapun yang bisa dibaca. Ia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang pernah berada di sisi lain dari sesuatu seperti ini, yang pernah menjadi orang yang mengkhianati untuk melindungi seseorang, dan mungkin karena itu ia adalah satu-satunya yang tidak bereaksi dengan kejutan.

Damar berdiri di dekat pintu, tempat Satria menariknya masuk tadi, dan tidak mengucapkan apapun.

"Kenapa," kata Satria.

Lagi, bukan pertanyaan dengan tanda tanya. Hanya satu kata.

Dan Laras, yang sudah menghitung momen ini berkali-kali dalam kepalanya, yang sudah tahu bahwa suatu hari ia harus mengucapkan kalimat ini, membukanya dengan hal yang paling mendasar dari semuanya, hal yang menjadi akar dari segala yang lain.

"Baskoro adalah ayahku."

Keheningan yang mengikuti bukan keheningan kejutan.

Kejutan punya kualitas yang tajam, yang cepat, yang bereaksi. Ini bukan itu. Ini adalah keheningan sebuah ruangan yang sedang memproses sesuatu yang terlalu besar untuk langsung ditanggapi, sesuatu yang mengubah bentuk dari segala hal yang sudah terjadi sebelumnya dan memaksa semua orang di ruangan itu untuk menyusun ulang apa yang mereka pikir mereka pahami.

Baskoro Wibowo. Pemimpin Garuda Manggala. Orang yang untuknya, tanpa sadar, mereka sudah bekerja selama ini.

Ayah dari perempuan yang berdiri di ruangan ini.

Yang sudah bekerja di sisi mereka selama bertahun-tahun.

Yang Satria cintai.

Lihat selengkapnya