GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #20

MALAM SETELAHNYA

Satria tidak kembali ke dalam sampai dini hari.

Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi setelah keluar dari ruangan itu. Tidak ada yang mengikutinya, karena tidak ada yang tahu cara mengikuti seseorang yang pergi dengan cara Satria pergi malam itu. Ia hanya tidak ada, di suatu tempat dalam gelap di luar rumah kumpul darurat, selama berjam-jam, dan yang tersisa di dalam adalah empat orang yang tidak tahu cara menjadi tim tanpa orang yang selama ini menjadi pusatnya.

Ketika ia akhirnya kembali, menjelang jam empat pagi, ia tidak berbicara kepada siapapun.

Ia masuk melalui pintu yang sama yang ia keluari, melewati ruang tengah tanpa menatap siapapun yang masih terjaga di sana, dan langsung ke kamar yang sudah disiapkan untuknya di rumah darurat itu. Pintunya tertutup. Tidak ada suara dari dalam.

Damar, yang masih terjaga di ruang tengah, melihatnya lewat.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia tidak tahu apa. Tidak ada kalimat yang tepat untuk seseorang yang baru saja kehilangan hampir segalanya dalam satu malam, dan Damar sudah cukup tahu untuk mengerti bahwa dalam situasi seperti ini, kalimat yang salah lebih buruk dari tidak ada kalimat sama sekali.

Ia membiarkan Satria lewat tanpa berkata apapun.

Pintu kamar Satria tertutup. Dan di seberang pintu itu, di lorong, Fajar sudah duduk di lantai.

Fajar tidak menjelaskan mengapa ia ada di sana.

Ia hanya duduk di lantai lorong, punggung bersandar ke dinding di seberang pintu kamar Satria, kaki ditekuk, lengan di atas lutut. Ia tidak membaca apapun, tidak melakukan apapun, tidak menunggu apapun yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia hanya ada di sana, menjaga pintu itu, meski tidak ada yang memintanya dan meski tidak ada ancaman konkret yang perlu dijaga.

Malam tadi, Fajar adalah orang yang paling marah kepada Laras. Ia yang melangkah maju, ia yang melemparkan pertanyaan paling tajam, ia yang kemarahannya paling terlihat di ruangan itu.

Sekarang, beberapa jam kemudian, ia duduk di lantai menjaga pintu kamar orang yang paling hancur oleh apa yang membuatnya marah.

Damar tidak mengerti sepenuhnya apa yang menggerakkan Fajar. Tapi ia mulai memahami sesuatu tentang orang ini: bahwa kemarahan Fajar dan kesetiaan Fajar berasal dari sumber yang sama, dari kepercayaan yang ia berikan kepada manusia-manusia konkret setelah ia berhenti mempercayai struktur mana pun. Laras mengkhianati kepercayaan itu, dan itu yang membuatnya marah. Satria adalah bagian dari kepercayaan itu yang masih tersisa, dan itu yang membuatnya menjaga pintu.

Fajar melihat Damar berdiri di ujung lorong.

Mereka bertatapan sebentar. Fajar tidak mengatakan apapun, tidak menjelaskan, tidak meminta untuk ditemani atau ditinggalkan. Damar mengangguk sekali, dan Fajar mengangguk balik, dan itu sudah cukup sebagai seluruh percakapan yang perlu terjadi di antara mereka malam itu.

Damar kembali ke ruang tengah.

Ia harus mengambil alih.

Tidak ada yang mengatakannya. Tidak ada yang menunjuknya, tidak ada pengumuman, tidak ada momen di mana tanggung jawab dipindahkan secara resmi. Tapi Satria ada di balik pintu tertutup, Laras tidak lagi bagian dari tim, Arfan ada di tangan musuh, dan Bang Bam serta Fajar adalah orang-orang lapangan, bukan orang yang menyusun langkah berikutnya.

Yang tersisa adalah Damar.

Ia tidak siap untuk ini. Tidak ada yang bilang ia siap. Tiga bulan lalu ia masih menjadi Ari Amsari di terminal, dan sekarang ia duduk di depan peta di rumah darurat pada jam empat pagi, dengan satu anggota tim di tangan musuh dan struktur komando yang runtuh, mencoba memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Ia membuka peta.

Lihat selengkapnya