GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #21

PERTANYAAN DI TERAS

Malam berikutnya, Damar mendengar suara Fajar sebelum ia melihatnya.

Ia sedang berjalan ke dapur untuk mengambil air, melewati koridor yang menghubungkan ruang tengah dengan teras belakang, ketika suara itu sampai ke telinganya. Tidak keras. Bukan suara orang yang ingin didengar. Tapi rumah darurat ini sepi pada jam ini, dan kesepian itu membawa suara ke tempat-tempat yang tidak dimaksudkan untuk mencapainya.

Pintu teras setengah terbuka.

Damar berhenti sebelum sampai ke pintu itu.

Fajar berdiri di teras, membelakangi pintu, menghadap ke halaman yang gelap. Ia sendirian. Dan ia sedang berbicara.

Bukan menelepon, tidak ada ponsel di tangannya. Bukan berbicara kepada seseorang, tidak ada orang lain di teras. Ia sedang berbicara ke udara, ke halaman gelap, ke sesuatu yang tidak ada di sana dan tidak akan menjawab.

Suaranya tidak membentuk kutukan atau kemarahan. Damar sudah menyiapkan diri untuk mendengar kemarahan, karena kemarahan adalah yang ia harapkan dari Fajar. Tapi yang keluar dari mulut Fajar bukan kemarahan.

Itu adalah pertanyaan.

"...jadi apa gunanya milih sendiri kalau ujungnya sama aja."

Damar berdiri di koridor, tidak masuk, tidak mundur.

Fajar diam sebentar setelah kalimat itu, seolah menunggu jawaban dari halaman gelap yang tidak akan pernah memberikannya. Kemudian ia berbicara lagi, lebih pelan, dan kalimat berikutnya membawa sesuatu yang lebih dalam dari yang Damar duga.

"Pak Surya yang pilih dia. Pak Surya yang pilih kita. Berarti Pak Surya yang..."

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Ia berhenti di tengah, di tempat di mana kalimat itu akan sampai pada kesimpulan yang mungkin terlalu berat untuk diucapkan bahkan ke udara yang tidak menjawab. Berarti Pak Surya yang apa. Berarti Pak Surya yang tahu. Berarti Pak Surya yang memilih Laras mengetahui siapa dia. Berarti struktur yang Fajar percayai, struktur yang ia pilih sendiri setelah berhenti mempercayai semua struktur lain, mungkin busuk dari akar yang sama yang menumbuhkannya.

Fajar tidak menyelesaikan kalimat itu karena menyelesaikannya berarti sampai pada sesuatu yang ia tidak siap untuk hidup bersama.

Lihat selengkapnya