Satria kembali ke meja operasi pagi berikutnya.
Damar sudah di sana sejak subuh, di depan peta yang sama yang ia pelototi sepanjang dua malam terakhir, ketika Satria masuk. Ia tidak mendengar pintu, tidak mendengar langkah. Ia hanya menyadari Satria sudah ada di ruangan ketika ada cangkir kopi yang diletakkan di meja di sisinya, dan ketika ia mendongak, Satria sudah duduk, cangkirnya sendiri sudah setengah kosong seolah ia sudah di sana lebih lama dari yang Damar sadari.
Satria tidak terlihat pulih.
Ada sesuatu di wajahnya yang tidak ada di sana sebelum malam pengakuan itu, sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang tidak akan hilang dalam semalam atau dalam banyak malam. Tapi ia ada di sana, di meja, dengan kopi di tangan, dan itu sendiri sudah mengatakan sesuatu.
"Kita perlu peta baru untuk Arfan," katanya.
Bukan sapaan. Bukan penjelasan tentang ke mana ia pergi selama dua hari, tentang apa yang terjadi di dalam dirinya, tentang bagaimana ia sampai pada keputusan untuk kembali. Hanya satu kalimat operasional, diletakkan di meja seperti melanjutkan percakapan kemarin yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Damar mengerti apa yang sedang terjadi. Satria kembali bukan karena ia sudah selesai dengan apa yang menghancurkannya. Ia kembali karena Arfan masih hidup di suatu tempat dan tidak bisa menunggu Satria selesai berduka. Ada hal-hal yang lebih mendesak dari kehancuran, dan Satria memilih untuk bergerak melewati kehancurannya bukan karena ia sudah sembuh tapi karena tidak bergerak berarti membiarkan Arfan mati.
"Sudah ada beberapa kemungkinan lokasi," kata Damar, memutar peta ke arah Satria. "Saya mulai dari yang saya tahu."
Mereka berkumpul siang itu. Kelima yang tersisa.
Satria menyampaikan situasinya dengan ringkas. Arfan kemungkinan besar masih hidup karena ia berharga selama ia bisa memberikan sesuatu. Ada dua lokasi yang paling mungkin menjadi tempat ia ditahan, berdasarkan pola yang Damar kumpulkan dari informasi lama Arfan sendiri tentang cara jaringan ini beroperasi. Rencananya: dua tim, dua lokasi, serbu bersamaan, karena mereka tidak punya waktu untuk memverifikasi lokasi mana yang benar sebelum bergerak.
Ketika ia selesai menjelaskan rencana, Satria melakukan sesuatu yang tidak biasa.
Ia tidak langsung membagi tim dan memberi perintah. Ia berhenti, menatap masing-masing orang di meja itu satu per satu, dan bertanya.
"Fajar. Menurutmu?"
Fajar, yang tidak terbiasa dimintai pendapat secara eksplisit karena biasanya perintah datang dan ia menjalankannya, terdiam sebentar. "Rencananya masuk akal. Dua lokasi, dua tim. Tapi kita cuma lima orang sekarang. Kalau bagi dua, masing-masing tim tipis."
"Aku tahu," kata Satria. "Bang Bam?"
"Tipis lebih baik dari lambat," kata Bang Bam. "Arfan nggak punya waktu buat nunggu kita ngumpulin orang."
"Damar?"
"Saya setuju bergerak sekarang. Tapi salah satu lokasi pasti kosong. Tim yang dapat lokasi kosong harus siap jadi bantuan cepat buat tim yang dapat lokasi benar."
Satria mengangguk. Ia menatap masing-masing dari mereka lagi.
Dan kemudian ia berkata sesuatu yang menjelaskan mengapa ia bertanya.
"Aku tidak bertanya karena aku butuh persetujuan kalian untuk rencana ini," katanya. "Rencananya sudah aku putuskan. Aku bertanya karena setelah semua yang terjadi, aku ingin setiap orang di meja ini sadar penuh bahwa kalian memilih untuk ada di sini. Tidak ada yang dipaksa. Siapapun yang mau keluar sekarang, keluar dengan hormat, dan tidak ada yang akan menyalahkan."
Ruangan itu hening.
Karena mereka semua mengerti apa yang tidak dikatakan Satria. Setelah Laras, setelah menyadari bahwa operasi ini bukan operasi mereka, setelah kehilangan Arfan dan hampir kehilangan segalanya, tidak ada lagi kepura-puraan bahwa mereka ada di sini karena tugas atau mandat atau struktur. Struktur itu sudah runtuh. Yang tersisa hanya pilihan telanjang: tetap, atau pergi.
Tidak ada yang pergi.