GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #23

KOPI DI DAPUR

Rumah Pak Mangun ada di pinggiran kota, di tempat yang cukup jauh dari mana-mana untuk aman dan cukup dekat ke sesuatu untuk tidak terisolasi total.

Pak Mangun sendiri adalah orang tua yang tidak banyak bicara, yang hubungannya dengan Pak Surya berasal dari masa lalu yang tidak pernah dijelaskan kepada siapapun, dan yang menerima kedatangan tim yang terluka itu tanpa mengajukan pertanyaan yang jawabannya tidak ingin ia dengar. Ia menyediakan tempat, menyediakan makan, dan sebagian besar waktu menghilang ke bagian belakang rumah tempat ia merawat beberapa tanaman dan seekor ayam yang tidak jelas fungsinya.

Bang Bam ada di salah satu kamar, dalam kondisi stabil setelah bantuan medis yang mereka dapatkan dalam perjalanan. Lemah, tapi hidup, dan cukup pulih untuk sesekali mengeluarkan komentar kering yang membuat Fajar tidak tahu harus lega atau kesal.

Arfan menghabiskan dua hari pertama untuk memulihkan diri.

Wajahnya masih menyimpan bekas dari malam ia tertangkap, memar yang berubah warna dari ungu ke kuning kehijauan, tapi matanya sudah kembali fokus, dan tangannya, yang paling penting, sudah bisa bekerja lagi.

Pada hari ketiga, ia membuka hard disk.

Data yang selamat lebih lengkap dari yang siapapun harapkan.

Arfan sudah cukup lama bekerja dengan cara yang mengasumsikan bahwa suatu hari ia akan tertangkap, dan asumsi itu membuatnya menyiapkan sistem yang bisa bertahan bahkan ketika ia sendiri tidak. Hard disk yang ia jaga sepanjang malam Rumah Enam, yang menjadi alasan ia terlalu terbebani untuk melarikan diri, berisi segalanya yang sudah ia kumpulkan selama berbulan-bulan.

Dan ketika ia menyatukannya dengan berkas-berkas yang Laras serahkan kepada Damar, gambarnya menjadi utuh.

"Ini dia," kata Arfan, memutar layarnya ke arah Satria dan Damar yang duduk mengelilingi meja di ruang tengah rumah Pak Mangun. "Bukan cuma aliran finansial. Rantai komandonya."

Ia memandu mereka melalui data itu. Bukan lagi enam holding company yang bermuara ke titik kosong yang belum bernama. Sekarang titik itu punya nama, dan namanya terhubung ke segalanya: bukan hanya sebagai penerima aliran uang, tapi sebagai pusat dari seluruh struktur pengambilan keputusan. Perintah-perintah yang mengalir turun. Eksekusi yang dikonfirmasi ke atas. Jaringan yang tidak hanya dibiayai oleh satu orang tapi dikendalikan oleh satu orang.

Baskoro Wibowo.

"Ia bukan hanya pemodal," kata Arfan. "Ia pemimpinnya. Garuda Manggala bukan organisasi yang ia danai. Garuda Manggala adalah dia. Semua yang kita lihat selama ini, Baron, Wiryo, jaringan bawah, itu semua tentakel. Dan ini kepalanya."

Satria menatap layar itu untuk waktu yang lama.

Konfirmasi ini tidak mengejutkannya. Darmono sudah mengatakannya. Ucok sudah menyebutkan namanya. Semua tanda sudah mengarah ke sini. Tapi ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dari kesaksian yang bisa salah dan melihatnya terbukti dalam data yang tidak bisa berbohong, dan perbedaan itu adalah perbedaan antara mencurigai dan tahu.

"Sekarang kita tahu," kata Satria pelan.

"Sekarang kita tahu," ulang Arfan.

Dan pengetahuan itu, alih-alih memberi kelegaan, membawa beratnya sendiri. Karena mengetahui bahwa Baskoro adalah kepala dari segalanya juga berarti mengetahui seberapa jauh mereka dari bisa menyentuhnya. Ia bukan bos lapisan bawah yang bisa disergap di rumah istri mudanya. Ia bukan simpul yang bisa diinterogasi di gudang pelabuhan. Ia adalah orang yang namanya tidak pernah muncul di dokumen manapun sampai orang seperti Arfan menghabiskan berbulan-bulan menggali, orang yang punya cukup kekuasaan untuk menghancurkan hampir setiap jalur hukum yang ada sebelum jalur itu sempat mendekatinya.

Mereka punya kepalanya sekarang.

Dan tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan dengan itu.

Diskusi tentang apa yang harus dilakukan berlangsung sepanjang sore.

Menyerahkan data ke lembaga resmi bukan pilihan. Arfan menunjukkan alasannya di dalam data itu sendiri: nama-nama di kepolisian, di kejaksaan, di lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi tempat bukti seperti ini dibawa, sebagian dari mereka ada di dalam aliran Baskoro. Tidak semua. Tapi cukup banyak untuk memastikan bahwa bukti yang masuk melalui jalur resmi akan diperlambat, dikubur, atau diubah menjadi senjata melawan orang yang membawanya.

"Kalau kita bawa ini ke jalur resmi," kata Arfan, "kita bukan cuma gagal. Kita mengekspos diri kita sendiri ke satu-satunya orang yang paling ingin tahu siapa kita."

"Jadi apa," kata Fajar, yang duduk di sudut dengan lengan bersilang. "Kita simpan? Percuma dong semua ini."

"Bukan simpan." Arfan menggeser beberapa berkas di layarnya. "Sebar. Tapi bukan lewat jalur yang bisa dia kontrol."

Ia menjelaskan rencananya.

Lihat selengkapnya