GURITA KOTA

Indra S Miraj
Chapter #24

KITA TIDAK SELESAI

Data dikirim pada sore hari, dari ruang tengah rumah Pak Mangun, melalui laptop yang Arfan sandarkan di pangkuannya karena ia masih belum cukup kuat untuk duduk tegak di meja untuk waktu yang lama.

Tiga jalur, dijalankan hampir bersamaan.

Yang pertama sampai ke dua jurnalis melalui saluran yang Arfan rancang untuk tidak bisa dilacak balik, disertai cukup konteks bagi orang yang sudah lama mencari untuk langsung mengerti apa yang mereka pegang. Yang kedua terunggah ke server anonim, timer publikasi diaktifkan, kunci pembatalan disimpan di satu tempat yang hanya Arfan tahu. Yang ketiga sudah lebih dulu berpindah tangan, hard disk kecil yang Laras urus sendiri, ke seseorang yang tidak ia sebutkan namanya kepada siapapun.

Ketika semuanya selesai, Arfan menutup laptopnya.

"Sudah," katanya. "Sudah keluar. Ketiga-tiganya."

Ruangan itu hening.

"Bisa ditarik lagi?" tanya Fajar.

"Yang server bisa dibatalkan sebelum timer habis, kalau kita mau. Yang dua lagi tidak. Jurnalis sudah pegang. Yang fisik sudah di tangan orang yang Laras percaya." Arfan menyandarkan kepalanya ke belakang, matanya lelah. "Kalau kita mau semuanya benar-benar tidak bisa ditarik, biarkan timer server jalan. Setelah itu, tidak ada jalan mundur untuk siapapun."

Satria berdiri di dekat jendela, memunggungi ruangan, menatap ke halaman rumah Pak Mangun tempat ayam yang tidak jelas fungsinya sedang mematuk sesuatu di tanah.

Ia tahu apa arti membiarkan timer itu jalan.

Membiarkannya jalan berarti mereka menjadi musuh terbuka dari orang paling berkuasa yang tidak pernah tercatat di mana pun. Berarti tidak ada lagi kemungkinan untuk menghilang, untuk mundur, untuk berpura-pura bahwa mereka hanya tim kecil yang kebetulan menyentuh sesuatu yang terlalu besar dan memilih untuk melepaskannya sebelum terbakar. Membiarkannya jalan berarti mereka memilih perang yang tidak bisa mereka menangkan sekarang, mungkin tidak dalam waktu lama, mungkin tidak tanpa kehilangan lebih banyak dari yang sudah mereka kehilangan.

Membatalkannya berarti aman. Diam. Hilang.

Dan sia-sia.

Satria berbalik dari jendela.

Ia menatap masing-masing orang di ruangan itu, satu per satu, dengan cara yang berbeda dari cara ia menatap mereka di rapat sebelum penyelamatan Arfan. Kali itu ia bertanya apakah mereka memilih untuk ada. Kali ini ia tidak bertanya. Ia hanya menatap, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang menyerupai penghormatan, penghormatan kepada orang-orang yang sudah kehilangan begitu banyak dan masih ada di ruangan ini.

Arfan, yang wajahnya masih menyimpan bekas malam ia tertangkap.

Fajar, yang kepercayaannya runtuh dan yang tetap tinggal.

Bang Bam, yang tidak ada di ruangan tapi ada di kamar sebelah, hidup karena kotak perlengkapan yang disiapkan oleh orang yang mengkhianati mereka.

Damar, yang tiga bulan lalu masih menjadi Ari Amsari di terminal dan sekarang duduk di sini dengan tangan yang sudah tidak lagi bersih.

Dan di suatu tempat di luar, Laras, yang tidak ada di meja ini tapi tidak pergi.

Satria tidak membuat pidato.

Lihat selengkapnya