Warung Mbak Yani sudah buka sejak pagi.
Terminal di jam ini punya ritme yang berbeda dari malam, kepadatan yang lebih vertikal, lebih banyak suara orang yang baru memulai hari daripada orang yang menutupnya. Bus pertama dari arah timur sudah masuk, menurunkan penumpang yang matanya masih setengah tertutup, dan bau kopi bercampur bau solar dan gorengan yang baru diangkat dari wajan.
Di salah satu bangku plastik di pojok, dekat pintu yang separuh engselnya masih belum diperbaiki, seorang laki-laki duduk sendirian.
Ia bukan wajah yang dikenal di terminal ini. Tapi cara ia duduk adalah cara yang dikenal oleh siapapun yang tahu apa yang harus dicari: bangku yang dipilih memberinya garis pandang ke pintu, ke jalan, ke seluruh sudut warung sekaligus. Kopi di depannya nyaris tidak tersentuh. Matanya tidak tertuju pada apapun secara langsung, tapi tidak ada yang lewat di sekitarnya yang tidak ia rekam.
Cara duduk seseorang yang sedang mengamati, sambil terlihat seperti sedang tidak melakukan apapun.
Mbak Yani menaruh piring gorengan di dekatnya, seperti yang selalu ia lakukan kepada siapapun yang duduk terlalu lama tanpa memesan cukup. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih dengan nada yang sopan tapi tidak mengundang percakapan lanjutan. Mbak Yani, yang sudah terlalu lama membaca orang untuk tidak mengerti sinyal itu, kembali ke dapurnya.
Di televisi yang menggantung miring di pojok, ditopang kawat jemuran dan doa yang sama seperti bertahun-tahun, berita pagi sedang berjalan.
"...dokumen yang diduga bocor ke publik dalam beberapa hari terakhir mengungkap dugaan jaringan finansial yang menghubungkan sejumlah nama besar dengan proyek infrastruktur bernilai triliunan. Dua media independen yang pertama kali mempublikasikan temuan ini menyebut bahwa dokumen tersebut menunjukkan pola aliran dana yang selama ini tidak pernah terdeteksi..."
Laki-laki di pojok itu menatap televisi sebentar.
Tidak lama. Cukup untuk menangkap inti dari apa yang disiarkan, tidak cukup untuk terlihat seperti seseorang yang punya kepentingan khusus terhadap berita itu. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada kejutan, tidak ada kepuasan, tidak ada kekhawatiran. Hanya seseorang yang mendengar berita pagi seperti orang lain mendengar berita pagi.
Lalu ia menunduk ke ponselnya.
Bukan ponsel yang mahal, bukan yang murah. Jenis ponsel yang dipilih justru karena tidak menarik perhatian, tidak menonjol dalam kategori apapun. Ia mengetik sesuatu, singkat, dengan gerakan jari orang yang sudah terbiasa menyampaikan hal-hal penting dalam jumlah kata yang paling sedikit.
Dua kata.
Mereka bergerak.