GURU

Di Pindho Bismoko
Chapter #1

Embun Pagi

Dinginnya pagi teralihkan oleh hangat mentari yang menembus sela-sela dedaunan. Sinar itu berdesakan, menghujat lembut kelopak mata seorang bocah yang masih terlelap. Sisi dalam kelopak matanya memerah seketika. Begitulah cara alam membangunkannya setiap pagi.

Bocah itu bangkit dari lincak—bangku dari anyaman bambu warisan sekaligus karya kakeknya yang berdiri rendah namun kokoh di teras rumah.Ia mengusap matanya, menatap halaman depan tanpa jemu. Dedaunan hijau di sana menjelma panggung megah tempat tarian embun pagi digelar, diiringi akapela ciamik kawanan kinjeng tangis, serangga yang bersuara persis derita orang menangis.

Meskipun kebanyakan orang lebih suka merayakan Sunday Morning, bocah itu jauh lebih menyukai Monday Morning. Setiap Senin pagi, ia pergi ke warung bubur Yu Klumpuk dengan sukacita. Namun, tak ada sukacita pagi ini ketika seorang pria mendadak muncul di hadapannya.

Pria itu tidak terlalu tinggi, berkulit sawo matang. Senyum manisnya tertutup rindang kumis dan jenggot yang berkesan garang. Matanya tajam—tidak sepenuhnya mengancam, tetapi cukup untuk disalahartikan sebagai bentuk intimidasi.

Seketika, jantung bocah itu berdegup kencang bagai mangga matang yang terguncang badai pagi. Hampir gugur. Tanpa menunggu persetujuan isi kepala, matanya memberi perintah mutlak pada kedua kaki: Lari! Ia melesat kencang menuju bukit yang berdiri megah di selatan desa.

Diayunkannya kaki sejauh mungkin, tetapi kecepatannya seolah tak bertambah. Langkahnya terasa berat; ia bahkan beberapa kali nyaris tersandung kakek dan nenek warga desa yang sedang berinisiatif memperpanjang harapan hidup dengan jogging pagi.

Di belakangnya, pria itu menguntit. Ia sengaja tidak menambah kecepatan lari agar tidak mengundang curiga warga sekitar—kecurigaan publik adalah hal yang berbahaya baginya. Meski begitu, matanya tetap menjangkau jauh ke arah si bocah agar tak kehilangan jejak.

Bocah itu mulai lelah. Keringat deras melumuri wajahnya, klomoh. Kakinya mulai gemetar. Begitu melihat deretan pohon di batas desa, ia langsung menerobos masuk ke hutan cemara. Tanpa babibu, ia mengincar persembunyian terbaik menurut pengalamannya: semak-semak rapat di dekat sumur tua.

Brak! Jurang tiga meter di tepi hutan ia lompati bagai harimau Sumatra yang hendak menerkam mangsa. Dalam kepanikan, rasa sakit menguap begitu saja. Ia akhirnya roboh terlentang di balik semak rapat, bernapas tersengal-sengal.

Di balik rimbun semak, Koko mulai memproses kegilaan barusan.

Ia percaya teori bahwa manusia hanya menggunakan sepuluh persen dari total kemampuannya dalam keadaan normal. Saat panik, sisa sembilan puluh persen itu meledak keluar. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat rumah tetangganya hampir ludes dilalap si jago merah. Dua orang warga tanpa istirahat sanggup menggotong lemari kayu jati dan piano tua keluar dari rumah yang terkepung api—sebuah keajaiban visual karena bobot piano itu jauh melampaui berat badan kedua penggotongnya.

Koko yakin, saat melompati jurang tiga meter tadi, ia baru saja mengeluarkan sepuluh koma nol lima persen kemampuannya. "Aku masih bisa sepuluh kali lebih hebat," bisiknya dalam hati. "Mungkin aku bahkan bisa terjun dari gedung tiga puluh meter. Sangat yakin aku bisa tetap hidup saat melayang turun. Lima detik kemudian... baru terbaring tenang memeluk bumi."

Di tengah analisa konyol itu, nalurinya menangkap gerakan. Dari balik semak persis di sampingnya, mendadak muncul seorang bocah lima tahun. Bocah cilik itu melangkah santai, lalu berdiri tepat di depan persembunyian Koko.

Koko menguatkan otot-otot mata, melotot hingga bola matanya nyaris keluar beberapa milimeter. Bocah itu tak bergeming.

"Kakak sedang main petak umpet?" tanya bocah lima tahun itu polos.

Jengkel Koko membumbung tinggi. "Setahuku cuma Dora dan Diego yang hobinya berkeliaran di hutan sendirian pagi-pagi. Huh!" keluhnya dalam hati.

Koko meraih sebatang ranting, mematahkannya agar lebih pendek, lalu mengacungkannya seperti senjata pengusir. Ia berharap bocah itu paham sinyal agar segera angkat kaki.

Pesan itu rupanya sampai. Bocah cilik itu balik kanan dan pergi.

Namun, tak sampai lima menit, bocah itu kembali lagi! Kali ini ia membawa sebilah bambu yang dicabut dari patok proyek pembangunan perumahan di pinggir hutan cemara itu. Ia mengacungkan bambu itu ke arah Koko dengan mata berbinar.

"Maju kamu, monster! Hiyaaattt!" seru bocah itu sambil mengayunkan bambunya, mengajak duel pedang.

Di saat yang bersamaan, Koko menangkap siluet pria berkumis tadi di ujung lorong hutan. Tak ada waktu meladeni duel pedang konyol ini. Koko langsung melesat keluar dari semak, bergegas berlari menuju sisi lain hutan.

Lihat selengkapnya