Sisko tak bisa memaksa. Ia hanya bisa menawarkan jalan, bukan menyeret mereka untuk melangkah di atasnya. Harapan itu ia pasrahkan sepenuhnya pada kehendak anak-anak gubuk tersebut. Baginya, penolakan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sejak lahir pun, keberadaannya di dunia seolah kerap ditolak, tetapi nyatanya ia masih bertahan hidup hingga hari ini.
Meskipun demikian, karena kasih dan harapannya tak pernah padam, Sisko menyempatkan diri menuliskan selembar surat sebelum melangkah pergi dari tempat itu. Surat yang ia slipkan di celah pintu gubuk.
Mendung menggelantung rendah di atas cakrawala. Sisko berjalan melintasi jalan setapak dengan perasaan campur aduk—antara tegar dan bimbang. Dari kelima anak yang ia temui hari ini, tak satu pun yang mengiyakan ajakannya. Mereka semua memendam luka dan trauma yang sama terhadap tempat bernama 'sekolah'.
Namun, Sisko tidak patah arah. Kedatangannya ke desa ini terasa bukan kebetulan belaka. Firasat dan mimpinya beberapa malam lalu membimbingnya ke sini.
Dalam mimpinya lima hari lalu, Sisko bertemu dengan enam orang anak. Ia meyakini mimpi itu adalah petunjuk bahwa ia akan mendapatkan enam murid baru. Lima anak dengan karakter serupa di dalam mimpinya sudah hadir di depan mata—Penta, Feri, Latief, Ipeh, dan Koko. Kurang satu anak lagi.
Di dalam mimpi itu, anak terakhir bertemu dengannya dalam sebuah pertunjukan musik. Itulah yang membuat Sisko yakin, anak keenam tidak akan ia temukan di dalam desa ini.
"Pulang ke kotamu... ada setangkup haru dalam rindu..."
Sayup-sayup lantunan lagu mengiringi langkah pulangnya. Suara itu berasal dari arah belakang. Mata Sisko yang semula tertambat pada keindahan hamparan sawah di kiri-kanan jalan, kini teralih penasaran mencari sumber suara merdu tersebut.
Sisko membalikkan badan. Matanya terbelalak.
Seorang bocah laki-laki berjalan santai sambil memetik gitar kecil dan bernyanyi. Perasaan déjà vu seketika menghantam ingatan Sisko.
Lagu itu... Ya, lagu Katon yang kudengar di konser dalam mimpiku! bisik Sisko dalam hati. Apakah anak ini orangnya?
Bocah itu berjalan cepat mendahului Sisko tanpa memutus bait lagunya. Sisko menajamkan pandangan, berusaha mencocokkan raut wajah bocah itu dengan bayangan kabut dalam mimpinya.
Sisko mengekor dari belakang. Bocah itu terus melangkah riang tanpa menyadari kehadiran Sisko. Ketika mendekati gapura sebuah kompleks perumahan di ujung jalan, anak itu mempercepat langkahnya.
Sisko sempat ragu. Apakah benar dia? Kelihatannya dia anak dari keluarga berada yang tinggal di kompleks ini.