Sekelompok siswi dari sekolah yang sama memekik kencang sambil melambai-lambaikan tangan. Baju kemeja merah dengan motif daun pada ujung lengannya berpadu dengan celana hitam menjadi bukti bahwa mereka berasal dari sekolah asal yang sama. Sementara itu, satu orang yang dipanggil tadi setengah meloncat, lalu bergegas riang mendekati mereka di depan gerbang sekolah. Di antara ratusan siswa lain yang seusia, kelompok siswi ini terlihat lebih modis dan berasal dari keluarga berada.
Tidak seberapa lama kelompok gadis itu masuk ke halaman sekolah, sebuah bis tua berhenti beberapa meter di sebelah kiri gerbang sekolah. Penumpang pertama yang turun dari bis itu bernama Radmila. Nama itu terpampang jelas di papan nama yang digunakan di dada sebelah kanan. Siswa-siswi yang kebetulan melihat dirinya turun dari bis terlihat berbisik. Sepertinya mereka mencibir tampilan kocak siswi itu.
Pagi ini adalah hari besar bagi sekolah yang dituju oleh siswa-siswi itu. Mereka sedang memasuki halaman sekolah kuliner internasional terbesar di Kamboja. Banyak sekali siswa-siswi setara junior high school dari seluruh dunia yang mendambakan untuk masuk ke sekolah tersebut. Cita-cita mereka semua sudah pasti, yaitu menjadi chef atau ahli masakan terbaik di dunia.
Tidak terkecuali dengan Radmila, anak imigran asal Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang ikut orang tuanya merantau sejak kecil di Kamboja. Pagi itu, Radmila sengaja tidak menggunakan seragam. Dia hanya menggunakan kemeja putih dan celana biru. Sebetulnya, pakaian itu memang standar seragam sekolah setara SMP di Indonesia. Namun, yang menjadi bahan tertawaan siswa-siswi lain yang melihat Radmila adalah penggunaan apron berwarna garis-garis merah dan putih. Orang-orang mengaggap hal itu norak dan berlebihan.
Radmila tidak terlalu mempedulikan omongan di kanan kirinya. Dia fokus untuk langsung berbaris di lorong depan sekolah. Pada bagian papan pengumuman, barisan itu merupakan antrian meja registrasi untuk lomba memasak hari itu. Rutinitas tahunan itu menjadi bukti betapa banyaknya orang yang rela masuk sekolah bonafid itu, meski harus berdesak-desakan. Kesempatan lomba memasak di hari itu menjadi salah satu persyaratan masuk penerimaan murid baru di sekolah tersebut.
Berbeda dengan Radmila, kelompok gadis muda yang pagi tadi tampak berbeda di depan gerbang masuk sekolah dari pintu berbeda. Mereka berjalan anggun dan percaya diri tanpa melalui lorong antrian. Seorang panitia dewasa menemani mereka berjalan ke arah pintu besi yang langsung terhubung ke salah satu ruangan sekolah.
Beberapa siswa laki-laki di belakang Radmila menggunjing penuh takzim, sedangkan sikap kontra ditampilkan melalui muka-muka sinis siswi di antrean depan.
“Wah, lihat tubuh semampai cewek itu. Cantik banget ya? Gue pasti akan mendekatinya nanti di sekolah?” ujar bocah lelaki yang perutnya agak buncit.
“Woi, tahu diri lah. Dia itu Sopia Darany. Anak seorang chef ternama di dunia. Bokapnya itu katanya pemilik dua restoran berbintang dua Michelin loh. Lo, mending mikir dulu deh. Usaha masuk sekolah ini saja sudah susah payah begini. Apalagi dapetin dia,” tampal temannya yang tubuhnya kurus tinggi dan berkepala botak, persis seperti pensil dengan ujung bandul.
Radmila sedikit memalingkan wajah. Dia mendengar nama yang tidak asing di telinganya. Nama marga Darany memang begitu populer saat ini. Hampir setiap orang membuka sosial media. Wajah Montha Darany selalu fyp. Bahkan, usaha masakan cepat saji kemasan miliknya selalu ada di rak-rak minimarket Asia Tenggara.
Tidak seberapa lama dari pergunjungan tentang Sopia Darany selesai, Radmila sudah tiba ke meja registrasi. Dia langsung menuliskan nama, mendapatkan nomor, dan menerima satu lembar kupon untuk makan siang. Radmila mendapatkan urutan ke-133. Cukup banyak juga peserta yang datang, pikirnya. Padahal, menurut pengumuman di website sekolah, hanya dua kelas saja yang dibuka tiap tahunnya. Jika satu kelasnya ada 30 orang, itu berarti lomba memasak tahun ini harus menyeleksi lebih dari separuh pesertanya. Apalagi, Radmila melihat masih banyak orang yang berbaris untuk mendaftar.
***
Ruang Praktik Kitchen di Sekolah Internasional Kemahiran Kuliner dibagi menjadi 3 ruang dapur utama. Masing-masing dapur terdapat 10 kitchen set dari stainless steel yang megah dan canggih. Masing-masing set dilengkapi peralatan lengkap dari mulai wastafel untuk mencuci bahan masakan dan hingga lemari bawah untuk penyimpanan peralatan memasak. Bahkan, di sebelah kiri set terdapat area pacojet[1] yang khusus untuk membuat es krim, puree[2], dan mousse[3].
Pada area belakang kitchen set, terdapat jajaran lemari pendingin profesional yang juga terbuat dari material stainless steel. Ukurannya mungkin lebih besar dari tiga buah kulkas rumahan yang dijajarkan. Ketika guru pengawas pertandingan dari tiap ruangan kitchen membuka lemari pendingin tersebut untuk perkenalan. Suasana ruangan seketika sejuk. Padahal, ada sekitar lima belas orang yang hadir. Pada bagian atas kabinet terdapat chiller sudah dilengkapi dengan bahan-bahan utama lomba, terutama berbahan daging. Sementara itu, pada bagian tepinya terdapat bagian meja persiapan dan pendingin untuk perakitan makanan cepat saji.
“Maaf, Kak. Lomba di ruang ini juga. Kalau itu bedanya apa ya?” tanya seorang gadis berkulit sawo matang dengan jari kanan yang memulas-mulas kaca matanya yang berembun dan jari kiri menunjuk ke sebelah kabinet chiller.
“Oh, panggil saja saya Mila,” jawabnya sambil menjulurkan tangan, “Itu bagian dari lemari pendingin juga sih. Kalau tidak salah namanya workable refrigator. Pada bagian bawahnya terdapat kulkas bawah meja yang menyimpan bahan-bahan terbatas, sedangkan atasnya itu adalah meja persiapan untuk perakhitan makanan cepat saji, misalnya salad, sandwich, atau ya semacamnya begitu deh.”
“Oh begitu. Maaf ya saya banyak tanya. Perkenalkan saya Mona Ose dari Indonesia.”
“Lah, dari Indonesia juga? Saya juga dari Indonesia. Dari NTT. Saya orang Lembata.” Jelas Radmila dengan antusias.
“Wah kebetulan ya. Saya juga dari NTT. Saya dari Larantuka. Semoga kita bisa masuk sekolah ini bersama-sama ya.” Jawab Mona dengan sedikit canggung.
Setelah melakukan tur kitchen, panitia memberi tahu bahwa lomba akan dimulai pukul 1 siang.
“Baik semuanya, semua peserta diperbolehkan untuk makan siang dulu. Silakan tukarkan kupon makan siangnya di kantin kami yang berada di selasar utara sekolah.” Teriak seorang guru panitia menggunakan megaphone.