habsahab

Aksan Taqwin Embe
Chapter #1

Satu

Saya ceritakan pelan-pelan…

Di pantai utara Desa Bron, di tepian sepanjang Jalan Daendels saban menjelang magrib muncul kilatan-kilatan cahaya merah kejinggaan tebal memanjang, kemudian memantul ke lautan. Cahaya itu tampak mengambang kemudian menyebar. Di laut ini orang-orang berjuang hingga bertaruh nyawa, berlumur garam, banting tulang agar tetap bisa makan. Tidak ada yang bisa diharapkan dari kerabat atau orang lain di saat mereka merasa butuh pertolongan. Orang-orang ini akan bergerak, bekerja, mencari penghidupan sendiri-sendiri. Bukankah hal itu memang sangat wajar dilakukan oleh masyarakat semestinya? Jadi jangan berharap kepada manusia. Berharaplah kepada Tuhan!

Tiba-tiba cahaya itu menyebar, lantas cahaya itu perlahan menyatu kembali masuk ke kedalaman lautan. Entah seberapa dalam laut itu, yang jelas di laut itulah seringkali menelan korban, menciptakan luka-luka di dada para perempuan. Laut bisa menenggelamkan mereka kapan saja, meski mereka mampu berenang dengan piawai. Jika ada orang yang tenggelam, berkali-kali tubuhnya akan muncul beberapa detik, kemudian tenggelam kembali. Setelah itu tak akan pernah muncul di permukaan kembali. Seperti ada yang menyedot tubuhnya secara cepat. Kata orang-orang, di dasar laut yang paling dalam ada sebuah kerajaan gaib yang dihuni dedemit-dedemit yang sangat menyeramkan. Apakah mungkin dedemit-dedemit itu bermula dari orang-orang yang mati, tubuh-tubuh yang tenggelam dan tidak dapat muncul di permukaan? Pada akhirnya kerabat merelakan korban-korban yang lenyap dan tak pernah sekali pun diketemukan. Apakah benar sudah menjadi dedemit-dedemit di kerajaan bawah laut?

“Apakah mereka meninggal sebagai tumbal?” ucap Japran.

“Aku rasa tidak mungkin. Kalau pun dugaanmu itu benar, apa yang dedemit-dedemit itu harapkan? Kita hanya mendengar kisah-kisah itu dari mulut ke mulut, tidak pernah sekali pun mengetahui secara jelas soal laut ini, kan?” ucap Sloki si tukang mabuk.

 “Ya, barangkali saja. Kata orang-orang, laut ini akan kembali tenang-redam dan nelayan-nelayan akan mudah mendapatkan ikan-ikan setelah pusaran itu sudah menelan korban.”

“Ah, mana mungkin bisa begitu. Jika apa yang kamu katakan benar, itu artinya kita segera membuat ritual seperti orang-orang terdahulu?”

“Seharusnya seperti itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa kita dianggap tetuah di sini. Orang-orang melakukan pelarungan kepala sapi atau kerbau terakhir kalinya ketika kita masih kecil, bukan? Aku ingat betul kamu sangat ketakutan dan menutup muka di perut ibumu. Saat ini kepercayaan seperti itu sudah tergerus. Pendapat orang-orang yang berpendidikan, pemikiran-pemikiran logis sudah mematahkan kepercayaan yang dianggap takhayul itu. Orang-orang semakin pintar, mereka sangat agamis. Bisa mendebat apa saja yang bertolak belakang dengan pemikirannya. Orang-orang berpendidikan itu selalu bersih tegang dengan orang yang lahir lebih awal dan merasa paling tahu segalanya tentang laut dan kepercayaan nenek moyang. Pada akhirnya yang tua mengalah, dan sudah tidak ada yang percaya hal-hal semacam itu lagi. Tapi bukankah ini fakta, Ki?”

Sloki hanya mampu diam, kemudian ia menatap bundar mata dan kening Japran yang mengerut penuh ketakutan. Sloki dan Japran karib sejak kecil. Mereka adalah orang-orang berpendidikan yang sangat terpaksa mendedikasikan dirinya sebagai nelayan karena minimnya lapangan pekerjaan di kampung ini. Selain mereka ada juga orang-orang yang memang memutuskan menjadi nelayan karena merasa nyaman dengan tantangan, atau meneruskan pekerjaan ayahnya. Mereka menyebutnya itu sebagai warisan. Di kampung ini irang yang berpendidikan hingga SMA terlihat sangat baik dan berwibawa. Sebab tak banyak orang di kampung ini mampu menyekolahkan anaknya hingga SMA, apalgi hingga sarjana. Namun soal pekerjaan, mereka tetap bermuara di lautan—berurusan dengan perahu, pukat, garam, dan ikan-ikan. Di usia ke- 32 tahun, yang tergolong cukup matang dalam berumah tangga, mereka sudah tidak lagi memikirkan pekerjaan lain lagi selain menjadi nelayan. Mereka hanya ingin berurusan dengan lautan. Otaknya sudah malas diajak berpikir yang berat-berat, kecuali soal laut.

Hari itu langit tampak semakin muram, Japran dan Sloki masih berada di tepi laut sisi kiri dekat gladak pelabuhan. Mereka secara bersamaan melihat cahaya kilatan itu jatuh masuk ke lingkar pusaran tanda peringatan—tali melingkar yang dikelilingi bola-bola kecil warna merah dan putih, yang tak boleh satu pun orang melintasi area itu. Area itu sangat berbahaya untuk siapa saja. Bahkan jika perahu-perahu ingin menuju pulau lain atau sekadar ingin melintasi menuju ke tengah—laut yang permukaannya lebih dalam, mereka harus berputar ke sisi kiri terlebih dahulu. Tentu saja jaraknya akan lebih jauh dan memakan waktu cukup lama. Semua itu untuk menghindari area yang sangat berbahaya itu.

“Coba kamu perhatikan, Ki. Kilatan-kilatan itu masuk ke kedalaman pusaran itu, kemudian timbul-tenggelam. Apa memang benar selalu timbul tenggelam seperti itu?”

“Kali ini iya. Aku juga melihatnya. Jadi selama ini dugaanku benar. Kilatan-kilatan itu jatuh, setelah itu perlahan muncul, kemudian tenggelam kembali.”

“Semacam ini memang kerap terjadi, bukan?”

“Iya, kamu benar. Kejadian seperti ini memang sering terjadi, namun aku tak pernah menghiraukan. Aku merasa kilatan timbul tenggelam itu seperti air yang mendidih karena disebabkan perubahan cuaca atau fenomena alam. Ternyata tidak! Tapi ini justru terlihat sangat menarik sekaligus menakutkan.”

“Menarik dari mananya? Justru baru kali ini aku mau menghiraukan dan membahas perihal ini, kemudian menghubungkan dengan hal mistis. Biasanya aku melihat cahaya itu masuk ke laut, setelahnya sudah tidak kembali lagi ke permukaan. Ya, aku pikir itu hal yang lumrah.”

Kilatan-kilatan itu tidak hanya satu. Di hari-hari tertentu pusaran itu selalu diserbu kilatan-kilatan berkali-kali sehingga tampak seperti mendidih. Kilatan itu bermunculan, kadang dua, tiga, bahkan empat secara bergantian atau berkejaran dengan tempo yang sangat cepat. Tidak satu pun orang yang mengetahui arti dari kilatan itu. Meski tetuah kampung pernah mengatakan kilatan itu adalah jelmaan banaspati yang turun dari awan yang sangat panas, kemudian sembunyi di laut, mencari mangsa para nelayan yang masih melakukan aktivitas ketika magrib, menculik anak-anak, atau membawa perempuan yang masih gadis duduk di depan pintu, namun orang-orang sudah tidak lagi mempercayainya.

“Omong kosong! Kalau soal mistis, itu mustahil!” ucap Japran.

Lihat selengkapnya