Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #1

My Hero

I-BU KO-TA, apa yang terlintas didalam benak setiap orang di dunia ini saat mendengar kata tersebut?. Sebuah pusat pemerintahan?, tempatnya orang – orang yang memiliki pemikiran ataupun gaya hidup yang lebih modern dari tempat lain?. Mungkin saja benar, dan mungkin saja tidak. Karena setiap orang berhak dan dengan sangat bebas berpandangan tentang apa yang Ia lihat dan Ia ketahui.

Dan jika seperti itu, tentunya Aku pun boleh berpendapat juga kan? Karena Aku pun sama seperti kebanyakan orang lain dalam hal pandangan yang berbeda, pun beda kepala setiap manusia, akan beda isinya juga.

Aku tidak bisa banyak berkomentar pada kalian orang – orang yang berpendapat bahwa IBU KOTA adalah sebuah tempat pusat pemerintahan. Ya karena Aku juga setuju dengan hal tersebut. Tapi mungkin Aku kurang sepakat jika IBU KOTA di gadang – gadang sebagai tempat orang – orang yang memiliki pemikiran ataupun gaya hidup yang lebih modern dari tempat, atau kota lainnya terutama, pada negara INDONESIA tercinta-ku ini.

Menurut-ku IBU KOTA di negara-ku ini yaitu adalah, DKI Jakarta yang terlentak di salah satu tempat bagian kecil di dalam kuasa pulau Jawa, tidaklah lebih seperti sebuah tempat sampah. Bahkan, Aku pun juga tidak sepakat jika nobatkan dengan sebuah kata “IBU KOTA“.

Yaa benar, terdapat kata “IBU“ didalamnya yang dimana jika kita semua mendengar kata Ibu adalah sesosok manusia, dengan berjenis kelamin perempuan namun mempunyai jiwa yang lebih dari malaikat. Dan tentunya, saat mendengar kata malaikat fikiran kita semua mungkin akan sedikit berbeda dalam bentuk ucapan namun memiliki arti yang sama yaitu, “BAIK“.

Dan pada intinya, menurut-ku kota kelahiran-ku ini tidaklah pantas disebut sebagai IBU KOTA dari puluhan atau bahkan ratusan kota – kota lain yang ada di indonesia.

Sangatlah tidak pantas menyandang IBU KOTA dan mungkin sebaiknya lebih pantas disebut dengan nama, “SETAN KOTA”. Bukan tanpa alasan Aku berani mengatakan hal tersebut jikalau Aku tidak melihat kenyataan yang telah terjadi.

IBU KOTA yang seharusnya menjadi suatu tolak ukur atau mungkin bisa menjadi contoh untuk ratusan kota – kota lainnya, tetapi malah mencerminkan nilai – nilai yang sangat amat tidak beradab.

IBU juga bukan hanya berarti seseorang yang melahirkan seseorang, dan hanya berbuat baik pada seseorang yang Ia lahirkan dari rahim-nya. Tapi arti kata “IBU” yang paling terpenting menurut-ku adalah sebuah kata sifat yang sebelumnya sudah Aku katakan yaitu, “BAIK”. Atau mungkin yang biasa kita dengar dengan sifar ke-IBUan. Jadi IBU yang sebenarnya adalah memiliki sifat penyayang bukan hanya kepada seorang anak yang Ia lahirkan langsung dari rahim-nya.

Begitupun dengan IBU KOTA negara-ku ini yang sangat tidak pantas disebut sebuah IBU KOTA karena tidak memiliki sifat luhur seperti malaikat.

Entah sudah tersisa berapa Tera Byte lagi memori yang tersisa dikepala-ku untuk sanggup menampung penderitaan yang kian marak terjadi di atas tanah yang dibanggakan sebagai sebuah IBU KOTA.

Tidak jarang Aku mengisi waktu luang dengan sambilan berjalan – jalan sembari mengabadikan setiap moment penyiksaan yang sebisa mungkin Aku abadikan dalam sebuah rekam jejak. Dengan pemikiran saat sampainya Aku dirumah lalu melihat rekaman – rekaman tersebut seraya berkata, “Yups, Kita tentukan penyiksaan paling sadis dihari ini.” Ucap-ku yang sambil melihat – lihat jejak digital di kamera-ku.

Begitulah sekiranya moment yang selalu memenuhi memori kepala dan kamera-ku dalam setiap langkah-ku menyusuri sebuah tempat yang biasa disebut sebagai “IBU KOTA”.

Lihat selengkapnya