Mungkin kalian harus sedikit mengulurkan tangan kalian dan berpegangan dengan tangan-ku. Agar untuk Aku bisa membawa kalian sebentar saja ke masa lalu-ku. Dengan harapan kalian pun bukan hanya semakin menghargai sosok Ayah namun, juga arti sebuah keluarga. Karena bagaimana pun juga, beruntunglah kalian yang memilki keluarga yang masih utuh sejak kecil sampai umur kalian pada saat ini.
Karena, “Kita akan merasakan sebuah kasih sayang disaat kesengsaraan melanda kita.” kira – kira begitulha quotes yang pernah Aku dapatkan dari Ayah-ku yang sangat – sangat menjadi pahlawan sekaligus tokoh insipratif untuk-ku.
Hidup-ku saat ini memang sangatlah bahagia jika dirasakan dalam bentuk materi. Setelah apa yang telah Aku perjuangkan yang pasti-nya bukan hanya dari hasil perasaan keringat-ku melainkan, juga hasil banting tulang Ayah. Banting tulang Ayah-ku yang entah seperti apa rupa dan bentuk tulang dalam tubuh-nya dari ujung kepala sampai ujung jari kaki jika, dilihat menggunakan sinar – X.
Saat ini mungkin kalian menanggap perkataan-ku sangatlah teramat berlebihan. Tapi Aku yakin dan Aku sangat percaya setelah kalian selesai membaca cerita-ku, kalian akan langsung mencium dan memeluk seorang laki – laki yang sudah berjuang mati – mati hanya untuk membantu paru – paru kalian untuk terus bisa bernafas.
Aku juga mempunyai Ayah yang bukan hanya kuat secara fisik tapi, Aku juga memilik Ayah yang sangat teramat kuat secara batin dan fikiran. Entah apa yang terjadi jika Ayah – ayah lain di luar sana juga merasakan hal yang serupa dengan Ayah-ku. Karena Aku yang sebagaia anak-nya yang hanya menunggu suapan nasi seraya ingin mencari gedung tertinggi dan tanpa ragu untuk menerjunkan tubuh-ku. Tapi, tidaklah dengan Ayah-ku yang selalu berkata, “Kalau tidak bisa melewati cobaan hidup ini, bukan Ayah-mu namanya.” Ucap Ayah yang selalu tersenyum saat mengatakan hal tersebut pada-ku. Padahal Aku sendiri tidak tahu apakah saat didalam kamar atau dimanapun saat tidak bersama dengan-ku, apakah Ia masih tetap dengan senyuman-nya itu?, Aku rasa tidak.
* * *
Dulu saat masih kecil, Aku selalu dibawa jalan – jalan bersama Ayah, dan tidak terlalu dekat dengan Ibu-ku. Tidak terlalu dekat dengan Ibu-ku bukan karena Aku ataupun Ibu-ku tidak saling mencintai dan menyayangi. Tapi mungkin, karena Aku sering di ajak jalan – jalan oleh Ayah-ku mengitari kota yang kata-nya disebut sebagai “IBU KOTA” padahal sifatnya lebih seperti “IBLIS KOTA.”
Oleh karena itulah, Aku mungkin adalah satu satu dari sekian anak yang merasakan penderitaan dan melihat penderitaan itu pula. Aku katakan menderita sebenarnya bukan karena Aku tidak bersyukur, tapi memang biasanya itu yang dimaksudkan dengan orang – orang dari kata menderita. Yaitu dengan kekurangan secara ficancial atau sederhananya disebut materi.