Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #3

Nama yang bermakna, untuk anak yang masih lemah

Dari sedikitnya perkataan kasar yang Ayah-ku dapatkan, tidaklah lain berasal karena-ku. Tapi saat Aku mengatakan itu adalah, “Karena-ku”, entah apa yang Ayah fikirkan sama atau tidaknya dengan apa yang Aku fikirkan.

Aku mengatakan bahwa sedikitnya perkataan kasar yang Ayah-ku dapatkan dari berbagai bentuk, rupa dan wujud manusia, tidaklah lain berasal karena-ku, bukanlah suatu hal yang Aku katakan tanpa alasan. Walaupun Aku mengatakan hal tersebut hanya berdasarkan dari asumsi-ku saja, melainkan tidak pernah Ayah katakan itu secara langsung, tapi tetap saja menurut-ku itu adalah kebenaran.

Aku yang berkata demikian karena sering kali Ayah dipelakukan tidak selayak-nya manusia karena Aku yang saat belum bersekolah selalu ikut Ayah bekerja. Tapi, Aku tidak meminta agar Ayah mengajak-ku dengan-nya setiap kali Ia bekerja, dan entah alasannya apa pada saat kecil dulu.*

Tapi jika alasan Ayah selalu mengajak-ku saat Ia bekerja hanya untuk mendengar para manusia yang tidak beradab senonoh pada Ayah, lebih baik Aku dirumah saja bersama Ibu-ku. Biarlah Aku membantu Ibu memasak walau seperti anak perempuan yang lama – kelamaan akan hafal letak warung dan pasar disekitaran rumah karena sering berbelanja.

Dengan begitu, Aku tidak merasakan sakit hati yang rasanya jika Aku mempunyai senjata mematikan, akan Aku bunuh setiap orang yang berkata kasar pada Ayah-ku walau hanya satu kata.

Tapi, setiap kali sesudah Aku melihat sekaligus mendengar Ayah di caci maki oleh para manusia biadab yang entah alasan apa Ia dilahirkan di dunia jika hanya untuk mencaci maki manusia lain, ada satu hal yang aku herankan.

Satu hal yang sangat amat Aku herankan dan membuat Aku berfikir dalam hati-ku, “Sepertinya Ayah-ku bukanlah manusia biasa pada umumnya.” Dan hal yang membuat-ku sampai berfikiran seperti itu adalah, Aku tidak pernah mendengar, melihat, atau merasakan kebencian dalam diri Ayah terhadap orang yang telah mencaci maki Ayah sampai seolah menghampus harga diri-nya yang padahal, Ayah-ku juga seorang manusia.

Lihat selengkapnya