Saat telinga polos-ku ini dengan sangat leluasanya mendengar perkataan Ayah, yang walaupun pada saat itu Aku tidak mengetahui apa maksudnya selain kata “Jangan membenci”. Hanya kata itu saya yang Aku tahu karena memang seperti yang Aku katakan sebelumnya bahwa, orang jahat adalah orang yang pantas untuk dibenci. Tapi itu adalah kata Ibu yang entah Aku tidak pernah melihatnya secara langsung dengan, mendapat perlakuan dari orang lain seperti yang Ayah terima.
Tapi, Aku masih belum bisa memutuskan kata apa dan siapa yang dapat Aku percaya dan juga setidaknya menjadi pegangan-ku dalam bertingkah laku dan memperlakukan orang lain. Namun yang pasti, saat dulu Aku masih kecil, Aku lebih memilih kata – kata Ibu-lah yang Aku percaya dan tindakan Ayah yang Aku tirukan.
Dengan begitu, Aku bisa lebih leluasa dan tidak semestinya pula Aku memilih salah satu dari kedua orang yang telah merawat-ku. Walaupun memang sebenarnya Ayah-lah yang lebih dekat dengan-ku namun, tetap saja Ibu adalah seseorang wanita yang telah melahirkan-ku dengan taruhan nyawa, dan memberiku ASI selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan.
Yabenar, saat itu Aku masih bingung dan tentu saja Aku tidak bisa memilih karena, itu adalah pilihan yang sangat teramat berat bagi setiap orang. Pilihan yang sangat teramat berat jika kedua pilihan itu adalah orang tua kandung-nya sendiri, bukanlah orang tua angkat ataupun orang tua tiri.
Tapi, saat sekarang Aku berumur 25 tahun yang tentunya tubuh, fikiran, perasaan, atau bahkan sampai kerangka tulang dalam tubuh yang dibaluti oleh 7 lapis kulit sudah tidak seperti 19 tahun yang lalu.
16 tahun yang lalu jika dalam hitungan umur-ku, dan 28 tahun yang lalu bagi Ayah-ku harus menghidupi-ku dan satu adik kecil-ku yang sudah meninggal dunia 19 tahun yang lalu saat usianya 6 tahun, dan pada saat usia-ku 19 tahun.
Dalam sejarah hidup-ku, baru hanya 1 kali saja Aku melihat Ayah menangis tepat dihadapan-ku, yang juga sangat jelas terlihat dengan mata kepala-ku sendiri. Kematian adik-ku yang membuat Ayah berkata, “Ayah gagal Jar... Ayah telah gagal menjadi seorang Ayah.” Dengan rintihan air mata dan isakan tangisnya pun juga membuat-ku tidak dapat berkata – kata.