Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #6

Nasi Bungkus yang menjadi Saksinya.

Setelah bertemu dan berkenalan dengan salah seorang perempuan dari sekian juta manusia yang ada didunia, membuat-ku berfikir positif tidak hanya pada seseorang. Tapi juga membuat-ku berfikir mencoba berfikir positif secara lebih luas.

Jika difikir – fikir, tidak mungkin rasanya Aku dapat bertemu dengan seorang wanita baik, rendah hati dan tidak melihat orang hanya dari cover-nya saja jika Aku masuk ke sekolah lain. Tapi mungkin juga kalau Aku masuk sekolah lain, yaitu sekolah negeri. Karena tidak mungkin Aku masuk kembali dalam sekolah swasta. Karena selain akan membebani Ayah, pastinya juga akan bertemu dengan anak – anak yang sombong hanya karena terlahir di keluarga dan mempunyai orang tua kaya raya.

Sepertinya masih ada kemungkinan Aku mendapatkan teman entah itu seorang laki – laki atau perempuan, yang terpenting memiliki sifat selayaknya manusia normal. Jika di SMP 16 Aku mendapatkan hanya 1 orang teman saja yaitu Dania.  Mungkin Aku bisa mendapatkan lebih dari 1 yang seperti Dani jika Aku masuk SMP lain.

Tapi, tidak menutup kemungkinan juga jika Aku tidak akan mendapatkan seperti Dania. Mungkin juga Aku tidak mendapatkan teman sekali seperti Dania dan malah semakin banyak teman – teman disekeliling-ku yang menghina-ku, dan entah kapan Aku mendapatkan teman, atau mungkin tidak akan pernah.

Tapi, ketika Aku berfikir ke masa lalu saat SD, Aku justru berterima kasih karena mereka sudah sibuk – sibuk menghina-ku yang padahal, sama sekali tidak menghiraukan mereka. Dan karena saat SD dulu tidak ada yang ingin berteman dengan-ku dan juga tidak ada yang membuat-ku sibuk untuk bermain. Karena hal tersebut membuat-ku hanya terfokus pada belajar, belajar, dan belajar. Dengan begitu membuat, Aku bisa mendapatkan nilai tinggi dan dapat memasuki Sekolah Menengah Pertama yang didalamnya ada orang baik dan menerima-ku sebagai teman tanpa hinaan yaitu, Dania.

Namun, dengan Aku yang mengatkan Aku menghiraukan perkataan teman – temanku dan hanya terfokus untuk belajar, bukan berarti sebelumnya Aku tidak pernah merasakan tertekan.

Lihat selengkapnya