Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #7

Jangan banyak tanya!

Itulah pertemuan-ku dengan Dania untuk pertama kalinya yaitu, hanya disebuah tempat sederhana dengan orang yang sederhana pula. Awal Aku yang sedang terduduk dengan membaca buku yang sebelumnya Aku telah meminjam dari perpustakaan sekolah, dengan seorang wanita yang bernama Dania itu datang. Aku pun masih tidak terlalu menanggap bahwa Ia akan menjadi teman-ku walau dengan sikapnya yang sangat baik dan sangat ramah pula pada-ku.

Tapi Aku rasa kalian akan mengerti setelah sekiranya mengenal sedikit kehidupan yang Aku jalani, dan membuat-ku tidak terlalu menanggapi serius sikap Dania. Mungkin juga abis bisa dikatakan sebagai orang yang sudah sedikitnya terkena tekanan secara psikologis. Namun, siapa sangka, ternyata pertemanan-ku dengan Dania masih berlanjut dengan-ku dengan Ia yang menerima-ku apa adanya, dan tidak malu sedikitpun mempunyai teman seperti-ku.

Dan bukan hanya Ia saja yang tidak merasa malu, tapi teman – teman lain yang sebelumnya selalu menghina-ku pun menjadi segan setelah Aku berteman dengan Dania. Yaitu dengan Dania secara frontal mengatakan kepada setiap teman yang ada disekolah apabila ada yang menghina-ku. Jika sebelumnya Aku mengatakan Dania menerima-ku apa adanya, itu bukan hanya karena fikiran-ku saja yang melihat sikap-nya pada-ku. Tapi memang Ia yang mengatakannya sendiri pada-ku.

Saat itu pada saat waktu pelajaran olahraga disekolah-ku, Aku mendapatkan rasa malu dari hinaan teman – teman sekolah-ku namun, untuk hinaan terakhir kalinya. Yaitu, disaat jam pelajaran olahraga sedang berlangsung, semua siswa dikelas-ku terlebih dahulu pemanasan dan setelah itu berlari mengitari lapangan sekolah. “(Breeekkk...)” Suara robek dari sol sepatu-ku yang sudah mengaga seperti buaya yang kelaparan.

Dan saat teman – teman kelas-ku melihat hal tersebut, salah satu dari mereka pun berkata, “Ternyata bukan hanya makhluk hidup saja yang lapar tapi, sepatu juga ya, Hahahaha” Dengan diikuti tertawa teman – teman yang lain. Tapi disaat mereka semua menertawai-ku karena sepatu-ku yang sudah tidak layak pakai itu, tidaklah dengan Dania yang justru mendekati-ku. Dengan memasang wajah yang sama seperti-ku, “Sepatu kamu tidak bisa dipakai lagi?, kenapa tidak bilang?” Tanya Dania pada-ku yang hanya dengan kepala tertunduk. “Untuk apa Aku mengatakan pada-mu, Aku takut nanti kamu juga akan menghina-mu seperti teman – teman lain.”

Setelah Aku mengatakan hal tersebut, Dania pun justru memasang ekspresi wajah lain dari sebelumnya yang sama seperti-ku, yaitu marah. “Heii.. Teman itu tidak akan menertawai teman-nya sendiri dan membuat malu... mereka tidak pantas kamu sebut teman.. teman-mu itu adalah Aku Jar..” Ucap-nya dengan tangan-nya memegang sepatu-ku yang kotor nan rusak.

Mendengar Dania mengatakan hal tersebut, Aku pun mengerti apa yang disebut teman dan apa yang dimaksudkan juga oleh Ayah-ku yang mengatakan, “Tidak boleh membenci orang lain walaupun, mereka berlaku tidak baik pada-mu.” Ternyata bukan berarti juga Aku bisa dengan mudah-nya menanggap mereka teman. Sangat tepat yang dikatakan Dania yaitu, “Bahwa teman tidak akan menertawai dan membuat malu teman-nya sendiri.”

Lihat selengkapnya